, Di Balik Fenomena Langka Arafah Diguyur Hujan saat Wukuf

Kisah Perantau Bugis di Papua dan Impiannya Menyentuh Kakbah

Read Also: Ini Tips Jemaah Haji agar Tidak Kehilangan Sandal Saat ke Masjid Nabawi

JAUH dari tempat kelahirannya di Maros, Sulawesi Selatan, Paccing mengerjakan banyak hal di Nabire, Papua. Mulai dari jaga kios hingga menemani cucu-cucunya.

Dia menabung sedikit-sedikit. Pemberian dari anak-anaknya yang juga merantau di tanah yang sama, diirit sebisa mungkin. Ratusan ribu, jutaan, belasan juta terkumpul.

Dan hasrat untuk ke Baitullah tak tertahankan. Dia mulai menghubungi sanak saudaranya di kampung untuk mendaftarkan umrah, 2017 lalu. Dapatlah agen travelnya. Paccing kaget karena biayanya sangat murah, apalagi jika dibandingkan jika mendaftar di perantauannya.

Paccing tak memikirkan banyak hal lagi. Yang ada di kepalanya hanya bayang-bayang Baitullah.

Paccing menanti sambil menikmati nostalgia di Dusun Kappang, Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros. Meresapi detik demi detik bersama ibu kandung, Ci’nong, yang masih cukup bugar di usia senja. Sesekali dia menelepon ke Nabire.

Namun hingga waktu yang dijanjikan tiba, tak kunjung ada panggilan ke bandara. Ditunda, katanya. Paccing sabar menunggu. Ditunda lagi, dia masih sabar. Ditunda untuk ketiga kali, dia terus sabar.

Sampai kemudian terkuak memang ada masalah besar di tempatnya menitipkan uang dan harapan untuk berumrah. Paccing pulang ke Papua. Sambil terus bersiap, kali saja ada panggilan tiba-tiba.

Setahun berlalu lagi, kabar yang diharap tak datang-datang. Paccing pun pasrah. Sembari menunggu janji pengembalian uang Rp16,5 juta itu.

Di tengah ketidakpastian itu, keinginan untuk berumrah tak tertahan lagi. Pikirannya terus-terusan mengarah ke Kakbah. Dia ingin menyentuh kubus suci itu.

Nurmi, putrinya, melihat itu sebagai peluang untuk berbakti. Dia menelepon ke Maros. Minta tolong ke kerabat agar ibunya dicarikan agen travel lain. “Kalau perlu bintang lima. Yang penting mamak nyaman,” titipnya lewat udara.

Sementara semua dalam pengurusan, Paccing terbang lagi ke Maros. Sepupunya, Nurbaeti Lanti, yang sudah pernah umrah pada 2016 yang akan mengantarnya menitipkan harapan kedua.

Tibalah mereka di Kompleks Ramayana Pettarani Ruko Diamond no.11, Jumat (18/1/2019) lalu. Sebuah kantor berlantai empat yang sejuk dan harum. “Ibu Nurbaeti sudah merasakan umrah pakai travel ini, makanya saya mau,” akunya.

Betapa kaget Paccing ketika menerima selembar kertas yang bertulis “Tiket Umrah”. Padahal dia baru membayar tanda jadi Rp5 juta. Keberangkatan pun nanti pada 28 Februari 2019, tetapi semuanya sudah terjadwal rapi.

Terlampir bersama “Tiket Umrah” itu kertas HVS yang berisi akad, perjanjian antara Paccing sebagai calon jemaah dengan PT Tazkiyah Global Mandiri (Tazkiyah Tour), perusahaan penyedia jasa umrah yang sudah memasuki tahun ke-18 beropeasi.

Paccing tersenyum. Sebab di akad itu, sudah tertera semua hal yang akan didapatkannya sebagai konsumen. Nama, tipe, dan nomor penerbangan sudah ada, Begitu pun dengan merek bus yang akan digunakan selama di Jeddah, Madinah, dan Mekah. Bahkan hingga jam ibadah dan ziarah selama di Tanah Suci. Misalnya insyaallah pada Senin (4/3/2019) nanti, dia dan jemaah lain akan melakukan miqat di Bir ‘Aly, kira-kira pukul 08.45 waktu Saudi. Kamis (7/3/2019), mereka dijadwalkan menginjakkan kaki di tanah tempat Nabi Ibrahim dahulu hendak menyembelih Ismail, putranya.

Paccing kembali menerawang. Dia kemudian mengaku terkenang pengalaman pahit saat mendaftar sebelumnya. Segala biaya sudah dilunasi tetapi tidak satu pun ada kepastian agenda. Jangankan jadwal kegiatan selama di Tanah Suci, sekadar nomor penerbangan pun tak dikantongi.

Kini Paccing kembali menikmati liburan di kampung. Dia dengan sabar menanti 28 Februari 2018. Saat itu Kamis. Tetapi sehari sebelumnya, Rabu (27/2/2019), dia dan jemaah lain akan diinapkan semalam di Arthama Hotel, Makassar, dekat Pantai Losari. Istirahat dan manasik terlebih dahulu.

Paccing jauh lebih tenang. Tiket umrah dan akad sudah dia pegang, lembaran yang disebutnya menjadi penanda perjalanan umrah berkualitas. Istimewanya lagi, semuanya distempel tulisan garansi. Jadi bila nanti ada item yang tak sesuai dengan penjelasan di akad, akan ada ganti rugi.

Tetapi Paccing tak memikirkan banyak hal lagi. Yang ada di kepalanya hanya bayang-bayang Baitullah. Dia berdoa selalu sehat dan dianugerahi kesempatan untuk benar-benar bisa menjalankan ibadah umrah. Labbaik allahumma labbaik. (luzd)

COMMENTS