Hi, How Can We Help You?

Monthly Archives: March 2019

March 28, 2019
March 28, 2019

MAKASSAR – Sint Travel, anak perusahaan Tazkiyah Tour, terus mengepakkan sayap. Sint tiada henti memberangkatkan tamu Allah. Terbaru, Kamis (28/3/2019).

Saat berita ini diturunkan, 40 jemaah umrah sedang di pesawat SilkAir (Singapore Airlines Group) yang menerbangkan mereka ke Singapura, tempat transit sebelum lanjut ke Jeddah, Arab Saudi.

Jemaah berasal dari berbagai daerah. Ada yang dari Bone, Malino, Wajo, hingga Unaaha-Sulawesi Tenggara. Ada juga rombongan PT Menara Angkasa Makassar.

Sitti Hadijah asal Bone menjadi jemaah tertua dalam grup pemberangkatan ini, usianya 75 tahun. Sedangkan jemaah termuda adalah Akifa Naila Putri dari Unaaha (5 tahun).

Tour leader Grup 28 Maret-7 April 2019, Ahmad Faisal Fachruddin mengaku sangat antusias mendampingi jemaah. “Semuanya semangat. Seperti telah lama memendam rindu. Padahal ada yang belum lama ini juga berangkat umrah, baik dengan Sint maupun Tazkiyah,” ujarnya.

Kamis malam waktu Arab Saudi, grup Sint ini dijadwalkan tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, sebelum melanjutkan perjalanan ke Madinah. (suri)

March 21, 2019

MAKASSAR – Dalam suatu grup umrah, jemaah selalu datang dari daerah dan latar belakang berbeda. Termasuk pada grup umrah Tazkiyah Tour, 28 Februari-10 Maret 2019.

Ada jemaah dari Makassar, Unaha, Palu, Parigi Moutong, Maros, bahkan Serui-Papua.

Hari pertama di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin belum saling kenal. Tiba di Jeddah pun baru sebatas tahu muka.

Tetapi begitu menjalani rangkaian ibadah di Masjid Nabawi, Madinah, kemudian di Masjidilharam, Mekah, kekeluargaan langsung terbangun.

Jemaah saling bantu dalam banyak hal. Saling menopang dalam perjuangan menembus Raudah. Saling jaga ketika tawaf. Menolong jemaah lain membawa kantongan belanjaan di Jaafariah. Hingga bergantian membantu memencetkan kamera ponsel.

Makanya begitu jadwal pulang sudah dekat, pertautan itu semakin kuat. Dalam sesi foto di Masjid Jin, Mekah, bahkan ada jemaah yang mengaku ingin besanan. Setengah bercanda tetapi menurut Aguslam N Hampeng, tour leader, hal itu mungkin terjadi.

“Makanya fotonya jangan dihapus. Nanti ada yang benar-benar menjadi besan, ini akan jadi kenangan indah,” ujarnya, lalu tertawa.

Kekeluargaan antarjemaah dan juga manajemen Tazkiyah Tour pun terjalin baik, bahkan setelah sudah di kampung masing-masing.

Mereka yang sama-sama di Palu kompak datang ke acara nikahan keluarga salah seorang jemaah. Juga ke acara syukuran yang dihelat jemaah lainnya.

Saat salah seorang jemaah di Takalar, St Aisyah Karim Daeng Utta berpulang, keluarga besar Tazkiyah Tour turut hadir dalam acara takziah. Jemaah lain mengirim doa dan rasa duka mendalam. (luzd)

March 9, 2019
March 9, 2019

Sabtu (9/3/2019), 77 jemaah umrah Tazkiyah Tour dan Sint Travel (anak usaha Tazkiyah) meninggalkan Kota Mekah. Air mata lagi-lagi tak terbendung, terutama saat tawaf wada. Mereka berurai tangis saat mengucap salam perpisahan kepada Kakbah.

“Berat rasanya pergi. Sebab selama di sini saya benar-benar merasakan nikmatnya ibadah,” tutur Aswad Multi Syam, jemaah asal Takalar.

Di sela doa tawaf, jemaah pun menyelipkan permohonan agar bisa diundang lagi oleh Allah Swt.

“Umrah benar-benar panggilan istimewa. Bukan soal uang. Banyak orang kaya belum pernah ke tanah suci. Makanya saya berdoa mudah-mudahan mendapat kesempatan lagi untuk ke sini,” timpal Nurbaeti Lanti, jemaah asal Maros.

Tour leader rombongan Tazkiyah grup 28 Februari-10 Maret 2019, Aguslam N Hampeng bilang, memang ada keunikan ibadah umrah dibanding perjalanan wisata biasa.

“Mereka yang tidak terlalu banyak uang tetapi punya kemauan kuat untuk bertamu ke rumah Allah, biasanya akan mendapat kemudahan. Ada-ada saja caranya,” tuturnya.

Dan bukan cuma umrah. Para jemaah juga menyatakan hasrat untuk beribadah haji. Bahkan doa untuk itu sudah dipanjatkan saat ziarah Kota Mekah, Kamis (7/3/2019) lalu.

Rombongan melakukan napak tilas ritual haji. Mengunjungi Padang Arafah, Mina, dan Musdalifah.

Burhanuddin Darwis, ustaz pembimbing bercerita pengalamannya pada 2009. Saat itu dia sangat ingin berangkat haji. Tetapi kuota petugas di Kemenag sudah cukup.

Kloter demi kloter berangkat. Ustaz Bur tetap menyimpan harapan.

Dan benar saja, ada penambahan kloter. Pria kelahiran Bone itu masuk daftar. Dia pun terbang ke Saudi dan ada di lautan manusia saat wukuf di Arafah kala itu.

“Jadi bapak-ibu kalau memiliki harapan, serahkan sepenuhnya kepada Allah. Bukan kepada manusia atau lembaga. Itulah esensi kalimat talbiah, mengakui keesaan dan kekuatan Allah,” pekiknya melalui pengeras suara.

Para jemaah pun diminta selalu memelihara optimisme. Itu tidak salah, selama tempat bergantungnya cuma kepada Allah. Lakukan ikhtiar sekuat tenaga. Sisanya tawakal; berserah.

Seperti umrah, haji murni soal panggilan Allah. Tak ada kaitan dengan harta dan jabatan.

Begitu juga, lanjut Ustaz Bur, dalam memandang daftar tunggu haji reguler yang semakin panjang. Puluhan tahun.

Itu hanya prediksi. Jika Allah berkehendak, bisa saja seseorang berangkat jauh lebih cepat dari jadwalnya. Apalagi sekarang ada berbagai jalur untuk haji. Misalnya menjadi petugas haji, undangan Kerajaan Arab Saudi, hingga haji khusus atau yang dahulu dikenal sebagai haji plus.

Rombongan jemaah Tazkiyah akan terbang dari Jeddah, Sabtu malam waktu Saudi. Menuju Singapura. Dari Singapura lanjut ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar di Maros.

“Insyaallah rombongan tiba Minggu, 10 Maret 2019, kira-kira pukul 18.00 Wita,” timpal Ahmad Dion, pendamping jemaah umrah Tazkiyah. (luzd)

March 8, 2019

Laki salatnya di masjid, tetapi sarapannya boleh di mana saja. Hehehe.

Usai salat Subuh di Masjidilharam, Mekah, Arab Saudi, Jumat (8/3/2019), kru tazkiyahtour.co.id langsung mencari jalan keluar dari sebuah persoalan serius; lapar.

Kami menyusuri Ibrahim Al Khalil Road, jalan di utara kawasan Haram. Tujuannya Albaik, sebuah gerai cepat saji yang menjual ayam krispi hingga burger, layaknya KFC.

Albaik ini sangat populer di Saudi. Bahkan relatif melebihi KFC. Seorang bocah Arab yang pandai bahasa Inggris juga bilang begitu kepada kami.

“Saya kira ayamnya lebih renyah dan segar,” ucapnya di bangku tembok trotoar.

Albaik yang kami cari ini di Jabal Omar. Tak apa jalan kaki, sekalian olahraga pagi.

Tetapi Albaik ternyata tak buka cepat. Gerai masih tergembok.

Kami putar balik. Menuju tempat serupa namun dengan brand berbeda. Alfarooj namanya. Logonya hampir sama dengan Albaik. Sama-sama anak ayam yang memakai topi.

Kami terlebih dahulu memesan teh susu di pintu masuk. Hanya 2 Riyal dan minuman panas nan menyegarkan sudah didapatkan. Saudi memang surganya teh susu. Di mana-mana ada.

Sebagai pengganjal perut, kami memilih burger isi ayam, porsi jumbo. Tak mahal juga, 6 Riyal atau kira-kira Rp24 ribu.

Kami makan dengan penuh gelora dan rasa syukur. Matahari belum terbit tetapi ramai bukan main di Alfarooj ini.

“Di Indonesia, kami makan ayam dengan nasi. Bukan roti,” ujar kami kepada Mostafa, lelaki asal Kairo, Mesir yang keroncongan setelah tawaf.

“Ya, seperti di China dan Filipina juga kan,” Mostafa tertawa sambil menghabiskan roti pertamanya.

Pekan lalu di Madinah, kami juga makan di Albaik, di kompleks pusat perbelanjaan Aljazeera. Depan Gate 1 Masjid Nabawi.

Saat itu pukul 23.00, lewat. Antrenya luar biasa. Kami mendapat nomor 845 saat giliran baru di angka 792.

Budi Prakoso Ramadhan membayar 13 Riyal untuk paket 1. Kira-kira Rp52 ribu. Tetapi isi kotak yang dibalut kertas aluminium yang dia dapat, cukup banyak; empat biji ayam, satu roti, dan segepok kentang goreng. Bonus saus tomat dan garlic; saus bawang putih. Serta sebotol jus apel.

Namun Budi mengalami pengalaman menarik. Untuk pertama kalinya dia ditolak masuk gerai makanan cepat saji hanya karena dia tak membawa pasangan.

“Harus bersama istri, juga anak,” kata karyawan Albaik dalam bahasa Inggris.

Ternyata jemaah Tazkiyah Tour asal Makassar itu memasuki area Family Section, khusus pelanggan yang datang bersama keluarga.

Kalau jomlo (KBBI; bukan jomblo), harus naik ke lantai atas. Area Single Dine-In.

Begitulah umrah. Selain sarat pengalaman spiritual, juga kesan mengenai sendi-sendi kehidupan di negeri unta ini. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan? (luzd)

March 7, 2019
March 7, 2019

PSM Makassar baru saja kalah 0-1 pada laga perdananya di babak penyisihan Piala Presiden, Rabu (6/3/2019) sore waktu Indonesia. Tetapi itu tidak cukup untuk menjadi alasan frustrasi.

Harapan masih ada. Perjuangan di kompetisi sesungguhnya, Liga 1, bahkan belum dimulai. Apalagi, ada banyak doa yang terus mengiringi gerak kaki para pemain.

Saat Rizki Pellu bermandi peluh di Stadion Moch Soebroto, Magelang, kemarin, ibunya Satika Ohorella, yang menjadi jemaah umrah Tazkiyah Tour sedang berjalan kaki menuju Masjidilharam, Mekah, Arab Saudi. Sebentar lagi azan Zuhur.

Kepada kru tazkiyahtour.co.id yang menemaninya melangkah di trotoar, Satika mengaku dititipi pesan oleh Pellu untuk didoakan di Baitullah.

“Untuk kelancaran kariernya. Juga agar PSM bisa juara,” ucap perempuan kelahiran 16 Desember 1960 itu.

Walau tengah berada di luar negeri, dia tetap memantau anak bungsunya itu. “Pellu dipanggil timnas. Katanya mau ke Australia,” tuturnya.

Selain Satika, dalam rombongan umrah Tazkiyah Tour grup 28 Februari-10 Maret 2019 ini ikut pula Bustaman Yusuf Ohorella dan Inam Ali Salasa. Mereka pasangan suami istri, mertua dari Hasyim Kipuw, bek kanan PSM.

Semuanya asal Tulehu, sebuah desa di Maluku. Desa yang dikenal sebagai kampung sepak bola. Banyak pemain nasional yang lahir dari sana, termasuk Pellu dan Kipuw.

Inam menuturkan, Kipuw juga minta didoakan bisa selalu sehat. Agar bisa mempersembahkan yang terbaik untuk PSM.

Kamis (7/3/2019), 77 jemaah Tazkiyah Tour dan Sint Travel (anak usaha Tazkiyah) akan menjalani umrah kedua. Saat laporan ini diturunkan, waktu Saudi menunjukkan pukul 07.32.

Bus sudah menunggu jemaah selesai sarapan. Siap mengantar ke beberapa tempat semisal Gua Tsur, Padang Arafah, Mina, Musdalifah. Kemudian ke Ji’rana untuk pengambilan miqat. (luzd)