Hi, How Can We Help You?

Monthly Archives: July 2019

July 30, 2019

MADINAH – Senyaman-nyamannya kamar hotel, tetap sayang rasanya jika sedang di Madinah dan tidak menghabiskan banyak waktu di Masjid Nabawi. Itu juga yang dilakukan para jemaah haji khusus Tazkiyah Tour.

Senin petang (29/7/2019) waktu Arab Saudi, jemaah yang berpuasa memilih berbuka puasa di Nabawi. Bersila di karpet merah yang ditutupi plastik bening. Di atasnya terhampar kurma, yogurt, roti, hingga teh panas.

“Kami duduk bersama saudara-saudara dari Bangladesh,” ujar Rhamzah Thabraman, salah seorang jemaah.

Beberapa jemaah mengunggah foto momen indah tersebut di grup WhatsApp khusus jemaah haji Tazkiyah Tour. Membuat iri peserta grup yang tidak sedang di Madinah, peserta yang “berjaga” di Makassar.

Keesokan harinya, Rabu pagi waktu setempat atau beberapa saat yang lalu waktu Indonesia Tengah, jemaah bergerak menuju Raudhah, bagian teristimewa di Nabawi. Bagian yang dalam Alquran disebut sebagai taman-taman surga. Tempat antara rumah dan mimbar Rasulullah saw. Tempat doa-doa pasti dikabulkan.

Rombongan jemaah perempuan bergerak lebih dahulu. Dipimpin seorang ustazah. Antre di kerumuman jemaah dari travel dan negara lain yang hendak menuju tempat yang sama.

Seperti biasa, caranya adalah duduk tenang. Jika kelompok di depan bergerak sedikit, yang di belakang ikut bergeser. Hingga tiba giliran menginjakkan kaki di Raudhah, tempat yang ditandai dengan karpet berwarna hijau itu.

Pukul 11.28 Wita atau pagi waktu Saudi, Dewi Setiawati Muchsin mengunggah foto bersama jemaah lain. Mereka berhasil tiba di Raudhah. Salat dan berdoa. Selama waktu yang diberikan.

“Alhamdulillah,” ujar Dewi yang juga dokter jemaah haji khusus Tazkiyah Tour ini.

Beberapa menit kemudian, rombongan jemaah laki-laki juga menuju Raudhah. Dibimbing oleh Ustaz Abdul Kadir. (fit)

July 28, 2019
July 28, 2019

MEKAH – Lima hari di Mekah, 126 jemaah haji khusus Tazkiyah Tour bergerak ke Madinah, Minggu (28/7/2019). Saat berita ini diketik, empat bus yang mengangkut mereka mulai bergerak meninggalkan Pullman Grand Zamzam Hotel.

Jemaah berangkat usai sarapan. Kira-kira pukul 8 waktu Arab Saudi atau jelang sore di Makassar.

Dokter Dewi Setiawati Muchsin membagikan masker kepada para jemaah sebelum berangkat. Kata dia, penyebaran virus penyakit seperti batuk dan sebagainya harus diminimalkan.

Jemaah akan berada di Madinah hingga Selasa (6/8/2019) atau 5 Dzulhijjah 1440 mendatang. Setelah itu kembali ke Mekah untuk persiapan wukuf, puncak ibadah haji, di Arafah.

Pimpinan rombongan, Salahuddin A Fakhruddin meminta para jemaah terus mempermantap amalan-amalan ibadah. Namun tetap menyesuaikan dengan kondisi tubuh.

Jemaah diimbau memperhatikan asupan, termasuk air putih. Suhu di Saudi kini berada di kisaran 42 hingga 47 derajat celcius. Tetapi biasanya di Madinah lebih sejuk suhunya dibanding Mekah. (fit)

July 26, 2019

MAKASSAR – Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin kembali ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai Amirul Hajj tahun ini. Memimpin 231.000 jemaah haji Indonesia.

Lukman akan didampingi oleh para delegasi Amirul Hajj. Jumlahnya sangat terbatas, hanya 13 orang. Perwakilan ormas-ormas dan institusi Islam.

Salah satu anggota delegasi adalah KH Hamzah Harun Al Rasyid, Ketua PWNU Sulsel. Di daftar anggota delegasi, Hamzah tercatat mewakili UIN Alauddin.

Nama “Anregurutta”, sapaan akrab Hamzah, sudah tidak asing lagi di keluarga besar Tazkiyah Tour. Alumni Asadiyah Sengkang dan Al Azhar Kairo itu adalah pembina Tazkiyah Tour.

Pada pelepasan 126 jemaah haji khusus Tazkiyah Tour di Dalton Hotel, Makassar, Minggu (21/7/2019) lalu, Anregurutta hadir memberi tausiah. Pesannya, rawat rasa syukur karena jemaah calon haji itu istimewa. Undangan ibadahnya “diteken” langsung Allah Swt.

Anregurutta juga menyempatkan diri mengikuti doa bersama dan barzanji di kantor Tazkiyah Tour, Kamis (25/7/2019) malam kemarin.

Presiden Direktur Tazkiyah Tour, Ahmad Yani Fachruddin mengaku sangat bangga dengan terpilihnya Hamzah sebagai delegasi Amirul Hajj Indonesia.

“Tidak sembarang orang ada di jajaran itu. Dan Anregurutta memang layak di situ,” ujar Ahmad Yani.

Hamzah dan Menteri Agama serta delegasi Amirul Hajj lainnya akan berangkat ke tanah suci, Selasa (30/7/2019) mendatang. Bertepatan dengan hari ulang tahun Anregurutta yang ke-57. (fit)

July 25, 2019

MAKASSAR – Lantai 3 kantor Tazkiyah Tour di Ruko Diamond No 11, Jalan AP Pettarani, Makassar, penuh lantunan indah, Kamis malam (25/7/2019). Di atas karpet hijau, bakda salat Magrib, manajemen dan karyawan serta tetamu terus melafalkan zikir.

Doa-doa digelar dengan khusyuk. Untuk kebaikan dunia akhirat keluarga besar Tazkiyah Tour, serta para mitra dan siapa saja yang terikat secara emosional dengan agen perjalanan umrah dan haji khusus ini.

Ketua PWNU Sulsel, KH Hamzah Harun Al Rasyid juga hadir pada hajatan istimewa ini. Dalam beberapa hari ke depan, KH Hamzah akan berangkat ke tanah suci, sebagai amirul hajj Indonesia, mendampingi Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin.

Secara khusus, ada pula doa untuk 126 jemaah haji khusus Tazkiyah Tour yang saat ini sudah berada di Mekah.

Saat zikir malam Jumat ini dilantunkan, rombongan calon haji itu baru saja menyelesaikan ziarah Kota Mekah dan sekitarnya. Mengunjungi Jabal Tsur, Jabal Rahmah (Arafah), Masjid Namirah, Muzdalifah, Mina, Jabal Nur, dan Masjid Ji’ranah (tempat miqat bagi jemaah yang ingin melaksanakan umrah kedua).

Presiden Direktur Tazkiyah Tour, Ahmad Yani Fachruddin, menuturkan, doa bersama di kantor Tazkiyah Tour akan terus digelar selama jemaah berada di tanah suci. Setiap Kamis malam.

“Kita saling mendoakan. Untuk keselamatan, kesehatan, kesejahteraan,” tuturnya di sela acara yang dirangkaikan pembacaan Barzanji itu.

Sebelumnya, pada pelepasan jemaah haji khusus Tazkiyah Tour, Minggu malam lalu, Ahmad Yani juga sudah meminta kepada jemaah agar juga mendoakan perusahaan travel yang sudah akan mencapai usia ke-19 tahun ini.

“Semoga bisa terus eksis dan semakin banyak membawa manfaat untuk sebanyak-banyaknya orang dan lingkungan,” tuturnya.

Doa dan barzanji diakhiri dengan makan bersama, lalu salat Isya berjemaah. (fit)

July 24, 2019

JIKA syarat pergi haji itu semata-mata uang, Daeng Saturi Loco M tidak akan berada dalam jajaran 126 jemaah haji khusus Tazkiyah Tour tahun ini.

Dia bukan orang kaya. Penghasilannya sebagai penjual sayur di Pasar Sungguminasa diakuinya tak banyak. Sekadar untuk makan dan memenuhi kebutuhan lain secara sederhana.

Yang dimiliki Daeng Saturi seutuhnya adalah niat. Perempuan kelahiran 1 Juli 1957 itu sudah lama membulatkan tekad; ingin ke tanah suci.

Pelan-pelan ibu tiga anak itu menabung. Setiap menutup kiosnya, dia tak lupa memasukkan uang ke celengan. “Kadang 20 ribu, kadang 50 ribu, pernah juga 100 ribu,” ujarnya.

Setiap cukup sejuta rupiah, dia menyetornya ke bank. Hingga pada 2014 dia mantap mendaftar di Tazkiyah Tour. Haji khusus. Biayanya lebih mahal daripada haji reguler, beberapa kali lipat, tetapi Daeng Saturi lebih memilih di jalur itu.

Keinginannya tak lagi terbendung. Dia tidak sanggup menanti puluhan tahun. Memendam asa di daftar tunggu yang panjang. Setiap tahun geregetan melihat jemaah haji di tayangan televisi.

Dan tahun ini, Daeng Saturi benar-benar berangkat. Hanya lima tahun setelah dia menyetor uang muka senilai 4.000 dolar, sesuai regulasi Kemenag.

Dia sudah dua hari di Mekah. Saat tulisan ini diketik, Daeng Saturi baru saja selesai sarapan di lantai M2/M3 Pullman Grand Zamzam Hotel, dekat Masjidilharam.

Ketika saya mewawancarainya Minggu malam lalu di Dalton Hotel, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, belasan jam sebelum pesawat menerbangkannya ke Jeddah, Daeng Saturi menangis. Tidak sampai terisak karena terlihat sangat berupaya dia tahan.

Namun tetap ada yang meleleh di pipinya saat menceritakan bahwa dia benar-benar berjuang untuk pergi haji. Termasuk berjuang selama ini untuk menghidupi anak-anaknya, hingga kini berhasil mengantar semua buah hatinya itu membangun keluarga masing-masing.

Daeng Saturi single parent sejak 30 tahunan lalu. Suaminya meninggal saat anak tertuanya baru berusia 4 tahun.

Dia tak pernah lagi menikah. Dia memilih larut dalam ikhtiar mencari rezeki untuk keluarganya. Pagi membuka kios, sore menutupnya, malam dalam kesunyian.

Bagi Daeng Saturi, tidak ada lagi yang lebih penting selain kebahagiaan anak dan cucu, serta bisa berhaji, berdoa sekhusyuk-khusyuknya di depan Kakbah.

“Apa yang Ibu paling ingin minta di sana?” Tanya saya. Saya bersiap mencatat jawabannya dengan sebuah pulpen berwarna merah muda.

“Kesehatan dan rezeki yang banyak dan berkah.” Jawaban yang kemudian tidak saya tulis, tetapi hafal. Terlalu mudah menghafal sebuah kalimat yang datang dari hati.

Bagi pembaca tazkiyahtour.co.id, doakan Daeng Saturi bisa melakoni semua rangkaian ibadah hajinya dengan baik. Dia mungkin akan berkali-kali menangis di sana. Tetapi biarlah. Air mata itu toh hanya akan makin menguatkan tekanan doanya. Memohon pada-Nya. (*)

Imam Dzulkifli untuk tazkiyahtour.co.id

1 2 3 5