fbpx
January 20, 2021
Siapa yang tak mengenal Uwais Al-Qarni seorang pemuda dari Yaman yang dikenal sangat berbakti kepada ibunya.
Ia hidup sangat miskin, tetapi hatinya begitu kaya dan berbakti kepada orang tuanya. Hingga doa-doa Uwais tembus ke langit.
Salah satu bentuk baktinya, yakni keteguhannya untuk memenuhi permintaan ibunya untuk pergi haji.
Padahal, keluarga mereka tengah berada dalam impitan ekonomi.
Ide gila Uwais tercetus. Dia harus melatih fisiknya dengan menggendong seekor lembu setiap hari. Logika sederhana Uwais, ketika fisiknya kuat, dia mampu menggendong ibunya untuk pergi berhaji.

Baca Lebih Lanjut

December 18, 2020

TEMPATNYA jauh tetapi begitu dekat di hati. Makkah, Madinah, dan wilayah Arab Saudi secara umum. Rasanya sudah sangat ingin berangkat; menunaikan ibadah haji maupun umrah.

Sembari berdoa dan menunggu waktunya tiba, mari belajar soal persiapan terpenting melaksanakan rangkaian ibadah tersebut.

Imam Al-Ghazali dalam Ikhtisar Ihya Ulumiddin merangkum delapan amalan lahiriah dari awal keberangkatan sampai Ihram.

Pertama, bertobat. Menunaikan kewajiban yang belum terlaksana. Semisal melunasi utang, menyediakan biaya hidup untuk keluarga yang wajib dinafkahi selama kepergiannya ke tanah suci sampai kembali, mengembalikan barang-barang titipan, dan segala sesuatu yang dibawanya adalah barang halal.

Kedua, mencari teman yang saleh supaya dapat mengambil manfaat dari ilmu agama.

Ketiga, salat dua rakaat sebelum berangkat. Membaca surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surah Al-Ikhlas pada rakaat kedua. Sesuai salat, kemudian mengangkat kedua tangan sambil membaca doa.

“Ya Allah engkau adalah teman dalam perjalanan ini. Engkau adalah penjaga keluarga, anak para sahabat. Jagalah kami dan mereka dari segala marabahaya, penyakit, dan bala.”

Keempat, ketika hendak melangkahkan kaki keluar rumah, kembali membaca doa. “Dengan nama Allah aku bertawakal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Wahai Allah aku berlindung kepada-Mu agar akun tidak sesaat atau menyesatkan, tidak dihina atau menghina orang lain, tidak tergelincir atau menggelincirkan orang lain, tidak berbuat zalim atau dizalimi, tidak membodohi atau dibodohi.”

Kelima, saat menaiki kendaraan membaca doa dan lafaznya. “Dengan menyebut nama Allah dan dengan Allah. Allah maha besar. Aku bertawakal kepada Allah. Cukuplah Allah bagiku. Maha suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.”

Keenam, disunnahkan tidak turun dari kendaraan sebelum siang memanas dan agar menempuh perjalanan di malam hari.

Rasulullah bersabda. “Berjalanlah pada malam hari karena bumi dilipat sehingga menjadi lebih dekat pada malam hari, yang mana ia tidak dilipat pada siang hari.”

Ketujuh, tidak berjalan sendiri karena dikhawatirkan tersesat.

Kedelapan, ketika melewati dataran tinggi, hendaknya bertakbir tiga kali kemudian berdoa. “Ya Allah, kemuliaan di atas semua kemuliaan hanyalah milik-Mu dan segala puji hanya bagi-Mu dalam semua keadaan.

Dan lalu ganti membaca tasbih apabila turun dari dataran tinggi. Jika muncul rasa takut dan gelisah, bacalah doa. “Maha Suci Zat pemilik kerajaan, sang Mahakudus Tuhan para malaikat dan Ruh (Jibril). Langit dan bumi diagungkan dengan kemuliaan dan keperkasaan.” (tmt/bs)

December 18, 2020

ADAKAH perjalanan yang lebih indah dari pergi haji atau umrah? Tiba di Makkah dan larut dalam kekhusyukan ibadah. Apalagi, salat di Masjidilharam, seperti hadis Rasulullah saw, sangat istimewa.

Memang banyak hadis Nabi yang mengisyaratkan keistimewaan kota tempat kelahiran beliau itu. Di antaranya yang mengabarkan bila salat di Masjidilharam seorang mukmin akan mendapat balasan hingga 100 ribu kali lipat daripada salat di masjid-masjid lainnya.

Teks lengkap hadis itu adalah;

“Satu kali salat di masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah) lebih baik daripada seribu kali salat di masjid lain, kecuali di Masjid al-Haram. Satu kali salat di Masjid al-Haram lebih afdal (utama) daripada 100 ribu kali shalat di masjidku ini.” Diriwayatkan Imam Ahmad dan Ibnu Hibban.

Ustaz Abdul Somad (UAS) dalam bukunya yang berjudul 66 Tanya Jawab Umrah (2019) menyayangkan jika hadis tersebut dipahami secara keliru. Seolah-olah, orang Islam cukup menyempatkan diri untuk salat di Masjidilharam, untuk kemudian “tidak perlu” lagi salat begitu kembali ke Tanah Air hingga akhir hayatnya.

Di satu sisi, lanjut UAS, hadis di atas termasuk sahih. Akan tetapi, di sisi lain, janganlah perkataan Rasulullah saw itu dimaknai secara literal belaka, melainkan ungkapan.

“Tidak boleh terlintas di pikiran kita bahwa salat satu hari di Masjid al-Haram sudah cukup sehingga tidak perlu lagi salat selama 100 ribu tahun. Makna ungkapan ‘sama dengan’ (dalam hadis tersebut) adalah balasan pahalanya,” ujar alumnus Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir itu.

Hadis tentang pahala salat di Masjidilharam lebih sebagai motivasi untuk seorang muslim agar selalu mencintai Tanah Suci. Dengan hadis tersebut, muslimin diimbau untuk memiliki tekad agar suatu hari bisa beribadah di sana. (tmt/bs)

December 17, 2020
December 17, 2020
Apakah berhaji hanya diwajibkan bagi mereka yang mampu ( material, fisik, dan keilmuan) saja?
Tentu, jawabannya adalah “Ya” sebab yang tak mampu tidak punya kewajiban melaksanakan ibadah Haji di tanah suci.
Lantas,apakah orang-orang yang tidak mampu tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh makna ibadah haji?
Tentu jawabnnya adalah “Tidak”.

Baca Lebih Lanjut

December 10, 2020

BAYANGKAN jika waktunya telah tiba. Anda berjalan memasuki Masjidilharam, mengarah ke bawah, dan tiba di pelataran Ka’bah.

Di depan Anda, bangunan berbentuk kubus yang suci itu, berdiri kokoh. Anda menatapnya. Melepas hasrat ingin “bertemu” yang sudah lama terpendam. Bertambah lama karena adanya pandemi.

Dan memandang Ka’bah ternyata memiliki keutamaan. Ganjarannya tidak main-main. Aisyah meriwayatkan, Rasulullah bersabda. “Memandang Ka’bah adalah sebuah ibadah.” (HR. Abu Syaikh).

Ibnu Abbas pun menyebut bahwa di antara sekian banyak rahmat yang tercurah dari beragam ibadah di Ka’bah, memandanginya mendapatkan porsi dua puluh rahmat.

Ulama salaf banyak menyebutkan bilangan pahala keutamaan melihat Ka’bah. Seluruhnya berorientasi kepada kriteria menjiwai, memahami, dan meyakini keagungannya.

“Memandang Ka’bah adalah inti iman,” kata Ibnu Abbas.

Sedangkan Sa’id bin Musayyab bertutur, siapa saja yang memandang Ka’bah dengan penuh iman dan kepercayaan, dia akan terbebas dari dosa laksana baru keluar dari rahim ibunya.

Ibnu Saib Al Madani mengatakan, siapa saja yang memandang Ka’bah dengan penuh iman dan kepercayaan seluruh dosanya akan berguguran, laksana dedaunan yang berguguran dari pepohonan.

Ibnu Said juga berkata derajat pahala ibadah memandang Ka’bah setara dengan pahala seorang yang berpuasa, salat istiqamah, tawadu, dan berjuang di jalan Allah.

Ternyata bukan hanya melepas rindu. Menatap Ka’bah adalah cara untuk meraih keutamaan-keutamaan. Dosa berguguran. Pahalanya berlipat ganda. (tmt)