fbpx
Hi, How Can We Help You?

Arsip Tag: haji 2019

July 6, 2019

Jamaah haji kehilangan sandal di Masjid Nabawi, Madinah bukan hal yang aneh lagi. Terkait hal ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Pelaksana Tugas Kepala Daerah Kerja Madinah Amin Handoyo menyebutkan, yang sering terjadi bukan sandal hilang, tetapi jamaah lupa di mana meletakkan sandalnya.

“Makanya ditandai, jamaah taruh di mana sandalnya,” jelas dia, Sabtu (6/7/2019).

Jamaah, kata dia, sering lupa pintu Masjid Nabawi yang dia masuki, di mana dia meletakkan sandalnya. Ada kalanya, jamaah sudah berada di pintu yang benar, tetapi loker tempat meletakkan sandal yang salah.

“Hal-hal itu yang harus kita ingat,” kata dia.

Dia mengimbau, agar para jamaah membawa minimal plastik untuk membawa sandalnya, dan menaruhnya di loker yang disediakan.

Atau, jika memungkinkan, jamaah agar membawa tas kecil untuk tempat sandalnya. Jika sandal dibawa dalam tas, kata dia, silahkan dibawa ke dalam.

“Tapi kalau pakai plastik jangan. Ditaruh saja di loker. Tapi harus ingat posisi lokernya,” jelas dia.

Kalau pakai plastik dibawa ke dalam masjid, menurut dia, walaupun tidak ditegur petugas, tapi tidak enak dengan orang yang salat di sebelahnya. “Membuat tidak nyaman,” tuturnya.

Tulisan ini di Kutip dari https://haji.okezone.com/read/2019/07/06/398/2075460/ke-masjid-nabawi-ini-tips-jamaah-haji-agar-tidak-kehilangan-sandal

July 4, 2019

Pelaksanaan ibadah haji tinggal menghitung bulan. Dalam hal ini, calon haji perlu mempersiapkan diri baik itu dari segi fisik maupun mental untuk melaksanakan ibadah yang merupakan rukun Islam ke-5 itu. 

Komisioner Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI) Bidang Kesehatan, dr Abidinsyah Siregar, mengatakan ada hal yang prinsip selain persiapan ibadah dalam rangka menjalankan ibadah haji, yakni persiapan terkait kesehatan jamaah itu sendiri.

Oleh karena itu, pemerintah menerapkan Istithaah kesehatan haji. Ia menjelaskan, Istithaah adalah kondisi kesehatan jamaah yang dipersiapkan sedemikian rupa, yang dengan kesehatannya itu seluruh faktor resiko sakit dapat terkendali dan ia bisa melaksanakan ibadah secara mandiri. 

Ia mengatakan, jamaah perlu mempersiapkan kesehatan tubuhnya dengan baik, karena mereka akan menghadapi suatu kondisi baru yang berbeda dengan kehidupan sehari-hari. 

Apalagi, cuaca saat musim haji di Arab Saudi akan sangat panas dan kelembapan udara begitu tipis. Di samping itu, jamaah akan dihadapkan pada rendahnya oksigen karena tanaman hijau di Saudi yang kurang, dan lingkungan manusia yang sedemikian banyaknya.

 Ditambah, aktivitas ibadah bukan dilakukan di kamar, melainkan bergerak menuju tempat-tempat ibadah yang telah ditentukan di dalam tata aturan ibadah yang juga telah ditentukan.

“Artinya, jamaah membutuhkan kesiapan fisik, psikis, mental, dan sosial yang benar-benar dalam kondisi terbaik. Untuk mempersiapkan hal itu, pemerintah menyediakan pendekatan pelayanan kesehatan haji dimulai dari sebelum keberangkatan,” kata Abidinsyah, saat dihubungi.

Dalam hal ini, Abidinsyah mengimbau agar calon jamaah haji memeriksakan kesehatannya dengan sungguh-sungguh ke seluruh fasilitas kesehatan. Calon jamaah juga diimbau tidak menyembunyikan masalah kesehatan mereka. Karena tidak menutup kemungkinan, penyakit atau faktor resiko sakit jamaah bisa muncul saat berada di Tanah Suci. 

Karena faktor cuaca, misalnya, dengan cuaca yang sangat panas tubuh bisa mengalami dehidrasi. Selanjutnya, jelas Abidinsyah, dehidrasi bisa menimbulkan kelelahan luar biasa. Kondisi dehidrasi atau kekurangan cairan ditambah kelelahan akan mengundang munculnya penyakit yang selama ini bisa dikendalikan atau yang memang tidak diketahui selama ini. 

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya memeriksakan kesehatan haji yang secara berulang-ulang ke puskesmas dan pada waktunya nanti ke rumah sakit untuk mencapai level Istithaah.

Dokter resmi Tazkiyah Tour, dr Muhammad Rusli menuturkan, pemeriksaan kesehaan jemaah Tazkiyah Tour adalah hal yang rutin mereka lakukan sebelum keberangkatan jemaah, adapun pemeriksaan tersebut meliputi cek tekanan darah, denyut jantung, dan lainnya. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas layanan yang diberikan Tazkiyah Tour sebagai penyelenggara Umrah dan Haji Khusus yang Berkelas dan Teruji.

“Intinya kami deteksi keluhan penyakit jemaah. Agar bisa kita antisipasi penanganan maupun obat-obatannya,” ujarnya kepada tazkiyahtour.co.id.

Dokter juga menyarankan jemaah menjaga pola makan, minum banyak air putih, istirahat cukup, olahraga ringan.

“Jemaah bisa langsung berkoordinasi dengan pembimbing bila ada keluhan, seminim apapun,” tambah Rusli.

Para jemaah juga diberikan suplemen-suplemen, semisal multivitamin untuk menjaga kondisi tubuh.

July 3, 2019

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melarang keras jemaah haji berinteraksi langsung dengan unta di Arab Saudi. Mereka bisa terkena penyakit saluran pernapasan Middle East respiratory syndrome (MERS) yang bersumber dari unta.

“Unta ini banyak dikunjungi oleh jemaah haji Indonesia. Ini saya berharap seluruh kelompok bimbingan haji Indonesia (KBIH) berperan biasanya yang mengajak ke sana (interaksi dengan unta),” kata Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes Eka Jusup Singka di Gedung Adhyatma Kemenkes, Jakarta Selatan, Selasa, 2 Juli 2019.

Menurut Eka, virus MERS muncul pada 2017. Hingga saat ini, Kemenkes memastikan belum ada jemaah haji Indonesia yang pernah terkena virus itu. Namun, bukan berarti tidak ada potensi terkena virus yang dapat menyebabkan gagal ginjal itu.

Selain imbauan dini, pemerintah menjalankan langkah preventif dengan menyiapkan alat pelindung diri (APD) bagi jemaah haji Indonesia. APD tersebut meliputi masker, topi, payung, kacamata hitam, hingga sandal untuk beraktivitas di luar ruangan.

“Jadi lebih baik mencegah dari pada mengobati. Tidak ada tendensi apa-apa selain melindungi warga kita dari penyakit,” ucap dia.

July 1, 2019

Operasional penyelenggaraan ibadah haji tinggal menghitung hari. Memastikan kesiapannya, Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Dirjen PHU) bersama seluruh pejabat eselon II, pejabat eselon III melakukan rapat koordinasi kesiapan penyelenggaraan ibadah haji di Yogyakarta, 21-22 Juni 2019.

Direktur Jenderal PHU, Nizar, memastikan kesiapan masing-masing direktorat dengan seksama mengidentifikasi potensi masalah serta mendiskusikan alternatif solusi yang harus diambil. Problem krusial dalam penyelenggaraan haji tahun 1440H/2019M kali ini lebih banyak bagian dari efek kuota tambahan.

“Kita masih terus menyelesaikan permasalahan kuota tambahan seperti pengisian kuota yang belum penuh serta slot time penerbangan,” kata Nizar dalam Rakor tersebut, seperti dikutip dari website kemenag.go.id, Sabtu (22/6/2019).

Pengisian sisa kuota tambahan saat ini sedang dilakukan pelunasan tahap keempat untuk mengisi sisa kuota tiap provinsi sesuai ketentuan. Sementara slot time penerbangan baru mendapatkan persetujuan dari otoritas penerbangan Arab Saudi (GACA).

Sedangkan permasalahan dokumen haji seperti pengiriman paspor yang belum optimal dari daerah serta proses visa juga menjadi perhatian serius. Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri, Muhajirin Yanis, memaparkan berbagai kendala dalam pengiriman paspor dari berbagai daerah.

“Perlu afirmasi kebijakan agar proses dokumen dapat selesai tepat waktu. Saat ini proses visa sudah secara elektronik (e-visa) sesuai kebijakan terbaru Arab Saudi. Proses visa sudah dimulai Kamis 20 Juni 2019 malam dan visa 3 kloter sudah selesai,” ujar Yanis.

Slot time penerbangan yang disetujui oleh GACA berdampak pada perubahan Rencana Perjalanan Haji (RPH). Dalam RPH yang dirilis pada akhir 2018 lalu, pemberangkatan haji mulai 7 Juli 2019.

“Karena slot time penerbangan mengalami perubahan, maka pemberangkatan haji maju satu hari menjadi 6 Juli,” imbuh Yanis.

Terkait dengan layanan haji di Arab Saudi, Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis melaporkan kesiapanya. Layanan akomodasi, transportasi, dan konsumsi seluruhnya dinyatakan siap.

“Layanan di Arab Saudi telah siap baik jenis layanan maupun layanan per wilayah. Khusus Arafah Muzdalifah Mina tahun ini ada peningkatan AC di tenda Arafah serta jemaah yang tiba siang hari di Arafah akam mendapatkam makan siang,” ucap Sri.

Selain itu, Sri juga menyampaikan proses update haji pintar. Menurutnya aplikasi yang cukup populer di masyarakat ini sedang dilakukan penyesuaian konten sesuai dengan jenis layanan yang diterima jemaah haji serta jadwal penerbangan.