fbpx
Hi, How Can We Help You?

Arsip Kategori: Berita

March 5, 2019
March 5, 2019

Adakah hal yang bisa membuat Anda menangis berkali-kali? Nurbaeti Lanti, jemaah umrah Tazkiyah Tour juga ada.

Meski sudah kali kedua berumrah, air matanya tetap deras saat melihat Kakbah, Senin (4/3/2019). Tangisnya bahkan sudah membahana ketika tawaf baru saja dimulai.

Sambil terus membaca doa, wanita asal Maros itu sesenggukan. “Alhamdulillah, alhamdulillah.” Kalimat itu dia ulang-ulangi di depan Multazam.

Begitu selesai tawaf, Nurbaeti mengaku terharu karena Allah beri kemudahan untuk kembali ke tanah suci.

“Secara ekonomi tidak mungkin. Kami bisa ke sini semata-mata karena kuasa Allah,” ucapnya di area sai.

“Semakin umrah semakin ingin datang lagi,” tambah alumni Universitas Muhammadiyah Makassar itu.

Paccing Samaila, jemaah Tazkiyah Tour asal Nabire, Papua, yang baru pertama kali ke Baitullah juga tak bisa menahan air mata.

Ina Salasa, jemaah Tazkiyah Tour dari Tulehu, Maluku, bersyukur karena akhirya ditakdirkan untuk ke Mekah. Dalam usia yang tak muda lagi, dia bersemangat menyelesaikan seluruh tahapan umrah. Sang suami, Bustaman Ohorella, terus di sampingnya.

Tour Leader Tazkiyah Tour, Aguslam N Hampeng menuturkan, kenikmatan umrah memang sungguh besar.

“Bahkan ketika harus menjalani ujian-ujian di Nabawi maupun Masjidilharam, misalnya dalam perjuangan menggapai Raudah dan Hajar Aswad, jemaah malah tambah haru,” tutur lepasan Al Azhar, Kairo, Mesir itu.

Maka tak heran, sambungnya, jika gelombang jemaah umrah dari Indonesia, termasuk yang dari pintu Makassar, kian besar.

Tujuh puluh tujuh jemaah Tazkiyah Tour dan Sint Travel (anak usaha Tazkiyah) baru saja tiba di Mekah setelah tiga hari tiga malam di Madinah.

Umrah pertama sudah diselesaikan. “Insyaallah umrah kedua hari Kamis,” beber Burhanuddin Darwis, pembimbing jemaah.

Beberapa jemaah Subuh tadi waktu Saudi datang cepat ke Masjidilharam. Beberapa di antaranya juga berhasil menyentuh dan mencium Kakbah. Termasuk Nurbaeti dan Paccing.

Haru keduanya kian menjadi-jadi. Air mata membasahi kiswah. (luzd)

March 4, 2019

Bukan perkara gampang menginjakkan kaki di Raudah, sepetak taman surga di dalam Masjid Nabawi, Madinah. Apalagi bagi jemaah perempuan. Waktunya ditentukan, tidak seperti jemaah laki-laki.

Puluhan jemaah perempuan yang umrah bersama Tazkiyah Tour dan Sint Travel (anak usaha Tazkiyah) memulai perjuangan menembus Raudah, Sabtu malam (2/3/2019) pukul 20.45 waktu Saudi. Bersaing dengan ribuan jemaah lain yang juga ingin salat dan berdoa di antara makam dan mimbar Rasulullah saw itu.

Dan karena musim umrah sedang ramai-ramainya, antrean hebat tak terelakkan. Jemaah Tazkiyah mesti pelan-pelan merangkak maju. Duduk, mengaji, zikir, berdiri, duduk lagi di karpet merah.

Raudah, area yang cuma 22 x 15 meter itu memang memiliki karpet dengan warna berbeda. Hijau. Jadi sangat mudah untuk membedakan, tetapi amat sulit untuk menyentuh.

Beruntung jemaah diantar guide dengan pengalaman lebih. Hurriya, warga asal Indonesia yang sudah lama menetap di Madinah memandu dengan saksama.

Meski butuh waktu lebih dari empat jam baru bisa masuk ke Raudah, jemaah tetap gembira. “Terima kasih, Ibu Hurriya,” ucap Aswad Multi Syam, jemaah asal Takalar.

“Masyaallah. Puas sekali,” timpal Adhawanty Djamaluddin Lantara, jemaah lainnya.

Hurriya ini juga yang mengantar artis Luna Maya ke Raudah, dua hari sebelumnya. “Dia cuma berdua dengan asistennya,” beber dia.

Luna diketahui berada di Madinah sejak Rabu (27/2/2019). Bintang film dan presenter itu aktif mengunggah kegiatannya selama berada di kota suci, di akun Instagram-nya.

Beberapa jemaah yang kebetulan bertemu dengan Luna di Madinah juga mengirim foto ke media sosial. Ada yang di pelataran Masjid Nabawi, lobi sebuah hotel, hingga di pinggir jalan.

Luna menjalani rangkaian ibadah umrah saat namanya ramai menjadi tagar di internet. Gara-gara sebuah pernikahan di Tokyo, Jepang.

Pendamping umrah jemaah Tazkiyah, Ahmad Dion berkelakar, tidak salah pilih guide. “Luna Maya saja pakai jasa Ibu Hurriya,” ucapnya, sebelum menaiki kendaraan menuju Jeddah, Minggu malam (3/3/2019).

Senin (4/3/2019), 77 jemaah Tazkiyah Tour dan Sint Travel bertolak ke Mekah. “Insyaallah tiba sebelum Asar jadi kita bisa tawaf sore hari,” tambah Aguslam N Hampeng, tour leader. (luzd)

March 3, 2019

Tidak banyak area lowong di tempat parkir Kebun Kurma Majed, Madinah, Sabtu (2/3/2019). Puluhan bus membawa ratusan jemaah umrah yang mengisi jeda ibadah untuk tamasya.

Rombongan jemaah Tazkiyah Tour dan Sint Travel (anak usaha Tazkiyah) tiba jelang pukul 10.00 waktu setempat. Swalayan di bagian depan sesak oleh mereka yang sedang memilih kurma, cokelat, hingga minyak zaitun. Juga mereka yang antre di depan meja kasir.

Petugas-petugas swalayan sibuk bukan main. Tetapi mereka tak kehilangan canda.

“Ayo, Indonesia. Coba kurmanya. Halal, halal,” pekik salah seorang di antara mereka. Lelaki asli Arab.

“Coba sekilo, beli juga sekilo,” timpalnya sambil menawarkan kurma ajwa. Orang-orang di depannya tertawa sambil terus mengunyah.

Memang sudah menjadi semacam kesepakatan tidak resmi di Kebun Kurma Majed, semua camilan, dari kurma sampai buah bidara sekalipun, boleh dimakan. Gratis.

Kata Ahmad Dion, pendamping jemaah Tazkiyah, yang dibayar hanya yang masuk kantongan plastik.

“Setelah coba dan merasa sreg, ya beli. Kalau tidak, coba yang lain lagi,” tuturnya.

Djamaluddin Lantara Nappu, jemaah asal Takalar mengaku takjub dengan kebijakan pengelola kebun kurma.

“Akhirnya kan keberkahan yang terlihat. Pengunjung diberi kurma gratis, tetapi penjualan malah tambah bagus,” ucapnya. “Intinya tidak akan kekurangan mereka yang berbagi,” tambah Djamaluddin.

Pria humoris itu juga yakin, tidak ada yang mencoba hingga satu kilogram. “Tiga biji sudah kenyang.” Djamaluddin terbahak.

Rombongan Tazkiyah dibawa berkeliling Madinah di hari keduanya di kota kebanggaan Nabi Muhammad saw itu. Pertama ke Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun Rasulullah.

Menumpang bus Saptco, rombongan kemudian ke Jabal Uhud. Bukit yang dahulu juga sering diziarahi Nabi Muhammad. Tujuh puluh pasukannya gugur di situ. Termasuk paman kesayangannya, Hamzah.

Pada semua tempat yang dikunjungi tersebut, para jemaah selalu “digoda” oleh para pedagang oleh-oleh. Makanya banyak yang naik kembali ke bus dengan tangan kanan dan kiri memegang bungkusan.

Minggu (3/3/2019) waktu Saudi, rombongan kembali akan melakukan ziarah. Kali ini di kompleks Masjid Nabawi. Termasuk ke Makam Baqi dan Museum Alquran. (luzd)

March 2, 2019

Di pikiran sebagian orang Indonesia, termasuk yang dari Makassar, Arab Saudi itu panas.

Dan itu betul. Tetapi tidak selalu. Jangan lupa ini baru awal Maret. Negeri unta sedang cukup dingin. Kata Dr Burhanuddin, pembimbing jemaah umrah Tazkiyah Tour, sekarang musim peralihan. Puncak dingin menuju panas.

Anda yang hendak umrah dan merasa tak perlu membawa jaket, buka kembali koper Anda, sekarang juga. Masukkan pakaian yang agak tebal. Di Madinah, suhu saat orang-orang melaksanakan salat Subuh ada di kisaran 12 derajat celcius. Belum lagi tekanan angin.

“Serasa langsung ke tulang,” ujar Djamaluddin, jemaah Tazkiyah Tour yang tiba di Kota Madinah, Jumat dini hari waktu setempat.

Beberapa rekan serombongan Djamaluddin tak membawa jaket. Gigi gemertuk. Tangan bingung mendekap bagian tubuh yang mana karena seluruh sendi mengirim gigil yang sama.

Bahkan ketika salat Jumat, di atas pukul 12 siang, sangat banyak orang masih mengenakan jaket. Padahal sinar matahari tetap terang.

“Kalau salat di bagian luar Masjid Nabawi sangat terasa dinginnya. Lebih baik datang cepat supaya dapat tempat di dalam,” tutur Ahmad, jemaah lainnya dari Tazkiyah Tour.

Sabtu (2/3/2019), rombongan jemaah Tazkiyah Tour dan Sint Travel (anak usaha Tazkiyah) akan kembali menjalani serangkaian ziarah. Masjid Ijabah, Masjid Quba, kebun kurma, Gunung Uhud, hingga Khandaq masuk daftar yang akan dikunjungi.

Beberapa di antaranya sudah mengantisipasi dengan membeli jaket di toko-toko seputaran Nabawi.

“Saya beli seharga 62 Riyal. Biar tidak masuk angin,” kata Imam, jemaah lainnya. (luzd)

March 1, 2019
March 1, 2019

Tujuh puluh tujuh jemaah umrah Tazkiyah Tour dan Sint Travel (anak usaha Tazkiyah) menempuh tur panjang, Kamis (28/2/2019) hingga Jumat (1/3/2019).

Tetapi karena umrah adalah perjalanan yang dirindukan, nyaris tak ada yang mengeluh. Apalagi, para jemaah justru mendapat pengalaman-pengalaman baru.

Fuad Mari Muhammad, anak muda yang umrah bersama ayah dan dua kakaknya mengaku baru mendapati perjalanan yang mengharuskan salat di pesawat.

Berangkat dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar di Maros, Kamis pukul 12.18, rombongan mesti berada dua setengah jam di kabin SilkAir. Maka Zuhur dan Asar pun harus tertunaikan sebelum mendarat di Changi International Airport di Singapura.

“Begitu ternyata kalau musafir,” ucap Fuad, mahasiswa semester 6 STMIK Dipanegara itu.

Magrib dan Isya pun begitu. Rombongan melakukannya di seat masing-masing, di dalam Boeing 787 milik maskapai Scoot. Wudu diganti tayamum.

Pengalaman tak terlupakan juga muncul dari boks-boks makanan.

Saat naik SilkAir, menunya nasi ayam dengan bumbu sangat Melayu. Lalu jus dan teh dan kopi. Di Scoot, nasi kuning kunyit. Kemudian coffee break dua kali.

Fuad merasa cocok dengan aroma rempah pada makanan yang disajikan dua anak grup Singapore Airlines itu. “Mau tambah rasanya,” tuturnya.

Tetapi Nurnajmi Daeng Mappoji lain lagi. Perempuan Bugis yang kini menetap di Unaha, Sultra itu hanya makan beberapa sendok.

“Kalau lidah saya cukup bisa menerima. Apalagi dibantu dengan teh panas,” timpal Paccing, jemaah asal Nabire, Papua.

Setelah 10 jam satu menit di udara, pesawat mendarat di Bandara Internasional King Abdul Azis di Jeddah. Perjalanan ke Madinah ditempuh dengan jalur darat. Memakai bus Saptco.

Dan salat kali ini sudah tidak di kendaraan. Melainkan di Masjid Nabawi. Rombongan tiba bersamaan dengan azan Subuh. (luzd)