fbpx
Hi, How Can We Help You?
  • Makassar 90231, Sulawesi Selatan, Indonesia
  • Email: info@tazkiyahtour.co.id

Arsip Kategori: Berita

March 9, 2019
March 9, 2019

Sabtu (9/3/2019), 77 jemaah umrah Tazkiyah Tour dan Sint Travel (anak usaha Tazkiyah) meninggalkan Kota Mekah. Air mata lagi-lagi tak terbendung, terutama saat tawaf wada. Mereka berurai tangis saat mengucap salam perpisahan kepada Kakbah.

“Berat rasanya pergi. Sebab selama di sini saya benar-benar merasakan nikmatnya ibadah,” tutur Aswad Multi Syam, jemaah asal Takalar.

Di sela doa tawaf, jemaah pun menyelipkan permohonan agar bisa diundang lagi oleh Allah Swt.

“Umrah benar-benar panggilan istimewa. Bukan soal uang. Banyak orang kaya belum pernah ke tanah suci. Makanya saya berdoa mudah-mudahan mendapat kesempatan lagi untuk ke sini,” timpal Nurbaeti Lanti, jemaah asal Maros.

Tour leader rombongan Tazkiyah grup 28 Februari-10 Maret 2019, Aguslam N Hampeng bilang, memang ada keunikan ibadah umrah dibanding perjalanan wisata biasa.

“Mereka yang tidak terlalu banyak uang tetapi punya kemauan kuat untuk bertamu ke rumah Allah, biasanya akan mendapat kemudahan. Ada-ada saja caranya,” tuturnya.

Dan bukan cuma umrah. Para jemaah juga menyatakan hasrat untuk beribadah haji. Bahkan doa untuk itu sudah dipanjatkan saat ziarah Kota Mekah, Kamis (7/3/2019) lalu.

Rombongan melakukan napak tilas ritual haji. Mengunjungi Padang Arafah, Mina, dan Musdalifah.

Burhanuddin Darwis, ustaz pembimbing bercerita pengalamannya pada 2009. Saat itu dia sangat ingin berangkat haji. Tetapi kuota petugas di Kemenag sudah cukup.

Kloter demi kloter berangkat. Ustaz Bur tetap menyimpan harapan.

Dan benar saja, ada penambahan kloter. Pria kelahiran Bone itu masuk daftar. Dia pun terbang ke Saudi dan ada di lautan manusia saat wukuf di Arafah kala itu.

“Jadi bapak-ibu kalau memiliki harapan, serahkan sepenuhnya kepada Allah. Bukan kepada manusia atau lembaga. Itulah esensi kalimat talbiah, mengakui keesaan dan kekuatan Allah,” pekiknya melalui pengeras suara.

Para jemaah pun diminta selalu memelihara optimisme. Itu tidak salah, selama tempat bergantungnya cuma kepada Allah. Lakukan ikhtiar sekuat tenaga. Sisanya tawakal; berserah.

Seperti umrah, haji murni soal panggilan Allah. Tak ada kaitan dengan harta dan jabatan.

Begitu juga, lanjut Ustaz Bur, dalam memandang daftar tunggu haji reguler yang semakin panjang. Puluhan tahun.

Itu hanya prediksi. Jika Allah berkehendak, bisa saja seseorang berangkat jauh lebih cepat dari jadwalnya. Apalagi sekarang ada berbagai jalur untuk haji. Misalnya menjadi petugas haji, undangan Kerajaan Arab Saudi, hingga haji khusus atau yang dahulu dikenal sebagai haji plus.

Rombongan jemaah Tazkiyah akan terbang dari Jeddah, Sabtu malam waktu Saudi. Menuju Singapura. Dari Singapura lanjut ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar di Maros.

“Insyaallah rombongan tiba Minggu, 10 Maret 2019, kira-kira pukul 18.00 Wita,” timpal Ahmad Dion, pendamping jemaah umrah Tazkiyah. (luzd)

March 8, 2019

Laki salatnya di masjid, tetapi sarapannya boleh di mana saja. Hehehe.

Usai salat Subuh di Masjidilharam, Mekah, Arab Saudi, Jumat (8/3/2019), kru tazkiyahtour.co.id langsung mencari jalan keluar dari sebuah persoalan serius; lapar.

Kami menyusuri Ibrahim Al Khalil Road, jalan di utara kawasan Haram. Tujuannya Albaik, sebuah gerai cepat saji yang menjual ayam krispi hingga burger, layaknya KFC.

Albaik ini sangat populer di Saudi. Bahkan relatif melebihi KFC. Seorang bocah Arab yang pandai bahasa Inggris juga bilang begitu kepada kami.

“Saya kira ayamnya lebih renyah dan segar,” ucapnya di bangku tembok trotoar.

Albaik yang kami cari ini di Jabal Omar. Tak apa jalan kaki, sekalian olahraga pagi.

Tetapi Albaik ternyata tak buka cepat. Gerai masih tergembok.

Kami putar balik. Menuju tempat serupa namun dengan brand berbeda. Alfarooj namanya. Logonya hampir sama dengan Albaik. Sama-sama anak ayam yang memakai topi.

Kami terlebih dahulu memesan teh susu di pintu masuk. Hanya 2 Riyal dan minuman panas nan menyegarkan sudah didapatkan. Saudi memang surganya teh susu. Di mana-mana ada.

Sebagai pengganjal perut, kami memilih burger isi ayam, porsi jumbo. Tak mahal juga, 6 Riyal atau kira-kira Rp24 ribu.

Kami makan dengan penuh gelora dan rasa syukur. Matahari belum terbit tetapi ramai bukan main di Alfarooj ini.

“Di Indonesia, kami makan ayam dengan nasi. Bukan roti,” ujar kami kepada Mostafa, lelaki asal Kairo, Mesir yang keroncongan setelah tawaf.

“Ya, seperti di China dan Filipina juga kan,” Mostafa tertawa sambil menghabiskan roti pertamanya.

Pekan lalu di Madinah, kami juga makan di Albaik, di kompleks pusat perbelanjaan Aljazeera. Depan Gate 1 Masjid Nabawi.

Saat itu pukul 23.00, lewat. Antrenya luar biasa. Kami mendapat nomor 845 saat giliran baru di angka 792.

Budi Prakoso Ramadhan membayar 13 Riyal untuk paket 1. Kira-kira Rp52 ribu. Tetapi isi kotak yang dibalut kertas aluminium yang dia dapat, cukup banyak; empat biji ayam, satu roti, dan segepok kentang goreng. Bonus saus tomat dan garlic; saus bawang putih. Serta sebotol jus apel.

Namun Budi mengalami pengalaman menarik. Untuk pertama kalinya dia ditolak masuk gerai makanan cepat saji hanya karena dia tak membawa pasangan.

“Harus bersama istri, juga anak,” kata karyawan Albaik dalam bahasa Inggris.

Ternyata jemaah Tazkiyah Tour asal Makassar itu memasuki area Family Section, khusus pelanggan yang datang bersama keluarga.

Kalau jomlo (KBBI; bukan jomblo), harus naik ke lantai atas. Area Single Dine-In.

Begitulah umrah. Selain sarat pengalaman spiritual, juga kesan mengenai sendi-sendi kehidupan di negeri unta ini. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan? (luzd)

March 7, 2019
March 7, 2019

PSM Makassar baru saja kalah 0-1 pada laga perdananya di babak penyisihan Piala Presiden, Rabu (6/3/2019) sore waktu Indonesia. Tetapi itu tidak cukup untuk menjadi alasan frustrasi.

Harapan masih ada. Perjuangan di kompetisi sesungguhnya, Liga 1, bahkan belum dimulai. Apalagi, ada banyak doa yang terus mengiringi gerak kaki para pemain.

Saat Rizki Pellu bermandi peluh di Stadion Moch Soebroto, Magelang, kemarin, ibunya Satika Ohorella, yang menjadi jemaah umrah Tazkiyah Tour sedang berjalan kaki menuju Masjidilharam, Mekah, Arab Saudi. Sebentar lagi azan Zuhur.

Kepada kru tazkiyahtour.co.id yang menemaninya melangkah di trotoar, Satika mengaku dititipi pesan oleh Pellu untuk didoakan di Baitullah.

“Untuk kelancaran kariernya. Juga agar PSM bisa juara,” ucap perempuan kelahiran 16 Desember 1960 itu.

Walau tengah berada di luar negeri, dia tetap memantau anak bungsunya itu. “Pellu dipanggil timnas. Katanya mau ke Australia,” tuturnya.

Selain Satika, dalam rombongan umrah Tazkiyah Tour grup 28 Februari-10 Maret 2019 ini ikut pula Bustaman Yusuf Ohorella dan Inam Ali Salasa. Mereka pasangan suami istri, mertua dari Hasyim Kipuw, bek kanan PSM.

Semuanya asal Tulehu, sebuah desa di Maluku. Desa yang dikenal sebagai kampung sepak bola. Banyak pemain nasional yang lahir dari sana, termasuk Pellu dan Kipuw.

Inam menuturkan, Kipuw juga minta didoakan bisa selalu sehat. Agar bisa mempersembahkan yang terbaik untuk PSM.

Kamis (7/3/2019), 77 jemaah Tazkiyah Tour dan Sint Travel (anak usaha Tazkiyah) akan menjalani umrah kedua. Saat laporan ini diturunkan, waktu Saudi menunjukkan pukul 07.32.

Bus sudah menunggu jemaah selesai sarapan. Siap mengantar ke beberapa tempat semisal Gua Tsur, Padang Arafah, Mina, Musdalifah. Kemudian ke Ji’rana untuk pengambilan miqat. (luzd)

March 6, 2019

Jika Anda beruntung, tak perlu keluar Masjidilharam, Mekah, hanya untuk sarapan usai salat Subuh.

Seperti yang dialami beberapa jemaah umrah Tazkiyah Tour, Rabu (6/3/2019). Begitu selesai salat wajib dua rakaat dilanjut salat jenazah empat takbir, beberapa pria bercambang menghampar plastik panjang di atas karpet.

Hanya hitungan detik, segala yang bisa dimakan dan diminum tersaji. Ada tamis, roti dari gandum. Sausnya dua macam; yogurt dan salata mafrum khas Arab.

Ada pula kurma yang dijejal begitu saja. Juga teh panas.

“Sama sekali tak terbayang dapat sarapan di masjid. Alhamdulillah,” ujar Imam, salah satu jemaah Tazkiyah Tour.

Jemaah Tazkiyah lalu berbaur dengan jemaah lain dari negeri yang entah apa. Ada seorang lelaki tua yang mengaku asal Pakistan. Dia makan cukup banyak.

Menurut tour leader jemaah Tazkiyah Tour dan Sint Travel, Aguslam N Hampeng, makan bersama usai waktu salat sudah jadi tradisi di tanah haram.

“Dan kita tidak tahu siapa yang menyediakan makanan-makanan itu. Di sini dermawan tak perlu disebut namanya,” ucap lelaki Bugis yang menetap di Parigi Moutong itu.

Tetapi kita juga tidak tahu siapa yang kemudian bakal kebagian makanan. Sebab semua dibagi acak. Benar bahwa rezeki tak ke mana.

Tiga hari di Madinah dan kini hari ketiga juga di Mekah, rombongan Tazkiyah mulai “berani” makan di luar hotel.

Mereka berseliweran di gerai-gerai cepat saji yang memang ada di setiap sudut. Menjual masakan ala padang pasir semisal shawerma hingga yang universal seperti kentang goreng.

Aswan Multi Syam (jemaah asal Takalar) bersama tiga saudaranya juga sudah berburu ayam goreng Albaik, brand lokal yang diklaim melebihi kepopuleran KFC dan McD. (luzd)

March 5, 2019
March 5, 2019

Adakah hal yang bisa membuat Anda menangis berkali-kali? Nurbaeti Lanti, jemaah umrah Tazkiyah Tour juga ada.

Meski sudah kali kedua berumrah, air matanya tetap deras saat melihat Kakbah, Senin (4/3/2019). Tangisnya bahkan sudah membahana ketika tawaf baru saja dimulai.

Sambil terus membaca doa, wanita asal Maros itu sesenggukan. “Alhamdulillah, alhamdulillah.” Kalimat itu dia ulang-ulangi di depan Multazam.

Begitu selesai tawaf, Nurbaeti mengaku terharu karena Allah beri kemudahan untuk kembali ke tanah suci.

“Secara ekonomi tidak mungkin. Kami bisa ke sini semata-mata karena kuasa Allah,” ucapnya di area sai.

“Semakin umrah semakin ingin datang lagi,” tambah alumni Universitas Muhammadiyah Makassar itu.

Paccing Samaila, jemaah Tazkiyah Tour asal Nabire, Papua, yang baru pertama kali ke Baitullah juga tak bisa menahan air mata.

Ina Salasa, jemaah Tazkiyah Tour dari Tulehu, Maluku, bersyukur karena akhirya ditakdirkan untuk ke Mekah. Dalam usia yang tak muda lagi, dia bersemangat menyelesaikan seluruh tahapan umrah. Sang suami, Bustaman Ohorella, terus di sampingnya.

Tour Leader Tazkiyah Tour, Aguslam N Hampeng menuturkan, kenikmatan umrah memang sungguh besar.

“Bahkan ketika harus menjalani ujian-ujian di Nabawi maupun Masjidilharam, misalnya dalam perjuangan menggapai Raudah dan Hajar Aswad, jemaah malah tambah haru,” tutur lepasan Al Azhar, Kairo, Mesir itu.

Maka tak heran, sambungnya, jika gelombang jemaah umrah dari Indonesia, termasuk yang dari pintu Makassar, kian besar.

Tujuh puluh tujuh jemaah Tazkiyah Tour dan Sint Travel (anak usaha Tazkiyah) baru saja tiba di Mekah setelah tiga hari tiga malam di Madinah.

Umrah pertama sudah diselesaikan. “Insyaallah umrah kedua hari Kamis,” beber Burhanuddin Darwis, pembimbing jemaah.

Beberapa jemaah Subuh tadi waktu Saudi datang cepat ke Masjidilharam. Beberapa di antaranya juga berhasil menyentuh dan mencium Kakbah. Termasuk Nurbaeti dan Paccing.

Haru keduanya kian menjadi-jadi. Air mata membasahi kiswah. (luzd)