Hi, How Can We Help You?
  • Makassar 90231, Sulawesi Selatan, Indonesia
  • Email: tazkiyahmandiri@gmail.com

Blog

September 23, 2024

Sebelum memilih agen travel umroh, penting bagi calon jemaah untuk memastikan bahwa biro perjalanan yang dipilih telah terdaftar secara resmi di Kementerian Agama (Kemenag).

Cara cek travel umroh yang terdaftar di Kemenag ini bertujuan untuk menghindari potensi masalah yang bisa terjadi di kemudian hari.

Biro umroh yang terdaftar di Kemenag dipastikan memiliki izin resmi dan memenuhi standar yang telah ditetapkan.

Sebagai salah satu contoh travel umroh yang aman dan terpercaya, Tazkiyah Tour merupakan biro perjalanan yang telah memenuhi semua persyaratan tersebut, memberikan layanan yang berkualitas dengan jaminan kepuasan bagi para jemaah.

Bagaimana Cara Cek Travel Umroh yang Terdaftar di Kemenag

Berikut adalah langkah-langkah atau cara cek travel umroh yang terdaftar di Kemenag menggunakan situs resmi Sistem Informasi Pengawasan Umrah dan Haji Khusus (SIPATUH) Kemenag:

1. Akses Laman SIPATUH 

Buka browser dan akses situs resmi Kementerian Agama untuk pengecekan biro umroh di https://simpu.kemenag.go.id.

2. Pilih Menu PPIU (Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah)

Pada laman utama SIPATUH, cari dan pilih menu “PPIU” yang khusus digunakan untuk mengecek legalitas biro penyelenggara perjalanan umroh.

3. Cara Cek Travel Umroh Resmi Masukkan Data Pencarian

Masukkan informasi terkait agen travel umroh yang ingin Anda cek. Anda bisa memasukkan nama biro, nomor SK, alamat, atau nama direktur.

Misalnya, jika Anda ingin mengecek Tazkiyah Tour, cukup masukkan nama direktur Tazkiyah Tour “Ahmad Yani Fachruddin” di kolom pencarian.

cara cek travel umroh yang terdaftar di kemenag

4. Cara Cek Izin Travel Umroh Klik Cari PPIU

Setelah memasukkan data yang diperlukan, klik tombol “Cari PPIU”. Sistem akan memunculkan informasi detail mengenai agen travel umroh yang dicari, termasuk nama biro, nomor SK, alamat, kontak, serta jumlah cabangnya.

cara cek travel umroh yang terdaftar di kemenag

5. Verifikasi Informasi

Jika biro umroh resmi terdaftar di Kemenag, sistem akan menampilkan informasi lengkap yang sesuai. Anda akan melihat nama, nomor izin, serta data lainnya yang memastikan biro tersebut berizin dan aman untuk dipilih.

cara cek travel umroh yang terdaftar di kemenag

Kenapa Memilih Tazkiyah Tour Untuk Haji & Umroh?

Setelah mempelajari cara cek travel umroh yang terdaftar di Kemenag dan menjadikan Tazkiyah Tour sebagai contoh, terdapat beberapa alasan penting mengapa Anda harus memilih Tazkiyah Tour sebagai mitra perjalanan ibadah umroh dan haji Anda:

1. Kualitas dan Garansi Terjamin

Tazkiyah Tour telah mendapatkan pengakuan resmi dengan memenangkan penghargaan bergengsi seperti SNI Award dan Raksa Nugraha Award.

Penghargaan ini mencerminkan komitmen mereka terhadap standar pelayanan tertinggi, baik dari segi kualitas maupun keamanan perjalanan umroh anda.

2. Standar Internasional

Dengan mengantongi sertifikasi ISO 9001:2015, Tazkiyah Tour menjamin bahwa setiap layanan yang diberikan telah memenuhi standar internasional.

Bahkan, mereka berani memberikan garansi uang kembali jika layanan yang diberikan tidak sesuai dengan perjanjian.

3. Pengalaman Lebih dari 20 Tahun

Sejak berdiri pada tahun 2001, Tazkiyah Tour telah berpengalaman dalam memberangkatkan jemaah haji dan umroh. Dengan reputasi yang telah teruji selama lebih dari dua dekade, mereka selalu berinovasi untuk memberikan pelayanan terbaik bagi para jemaah.

4. Budaya Inovasi dan Kompetisi

Tazkiyah Tour terus berinovasi untuk menghadirkan produk layanan terbaik yang mampu bersaing di pasar. Hal ini membuat mereka tidak hanya memberikan pelayanan, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan kualitas perjalanan umroh dan haji di Indonesia.

5. Fokus pada Kepuasan Pelanggan

Tazkiyah Tour selalu menjadikan kepuasan pelanggan sebagai tujuan utama. Setiap pelayanan yang diberikan dirancang untuk memberikan pengalaman ibadah yang tidak terlupakan, memastikan bahwa setiap jemaah merasa nyaman dan puas.

Kesimpulan

Demikianlah artikel yang membahas tentang cara cek izin travel umroh. Saat mencari biro umroh yang tepercaya, pastikan travel tersebut terdaftar resmi di Kemenag untuk menghindari penipuan dan masalah di kemudian hari.

Mempelajari cara cek travel umroh yang terdaftar di Kemenag sangat penting untuk memastikan keamanan perjalanan Anda.

Tazkiyah Tour, sebagai salah satu contoh biro umroh terpercaya, telah membuktikan komitmennya dalam memberikan pelayanan berkualitas dengan standar internasional.

Dengan pengalaman yang panjang, sertifikasi resmi, dan penghargaan yang diraih, Tazkiyah Tour adalah pilihan terbaik untuk perjalanan ibadah Anda.

Sekian informasi terkait cara cek travel umroh yang terdaftar di Kemenag. Semoga bermanfaat!

September 18, 2024

Ketika kita berbicara tentang kekayaan dan harta melimpah, seringkali tergambar sosok yang hidup berfoya-foya. Namun, berbeda dengan Abdurrahman bin Auf, salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal sebagai miliarder di zamannya.

Meski harta yang dimilikinya berlimpah, ia justru sering menangis karena kekayaannya. Mengapa demikian? Kisah Abdurrahman bin Auf ini tidak hanya mengajarkan tentang kesuksesan dalam bisnis, tetapi juga tentang kedermawanan dan ketakutan terhadap hisab di hari kiamat.

Biografi Abdurrahman bin Auf

abdurrahman bin auf
Source image: fajar.co.id

Lahir pada tahun 581 M, Abdurrahman bin Auf adalah salah satu sahabat Nabi yang masuk dalam golongan Assabiqunal Awwalun, yaitu mereka yang pertama kali memeluk Islam.

Abdurrahman menerima Islam di usia 31 tahun melalui dakwah Abu Bakar As-Siddiq di rumah Arqam bin Abi Arqam.

Bersama sahabat muda lainnya seperti Ali bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqqas, dan Zaid bin Haritsah, Abdurrahman memainkan peran penting dalam menyebarkan ajaran Islam pada masa-masa awal.

Abdurrahman bin Auf tidak hanya dikenal sebagai sahabat yang pemberani dan dekat dengan Nabi, tetapi juga sebagai pengusaha kaya raya yang sangat dermawan.

Hartanya yang melimpah berasal dari perdagangan, dan kekayaan inilah yang sering ia gunakan untuk mendukung perjuangan Islam.

Kekayaan Abdurrahman bin Auf

Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wa Al-Nihayah menjelaskan bahwa Abdurrahman bin Auf pernah bersedekah dengan jumlah yang sangat besar.

Ia menyumbangkan setengah hartanya untuk perjuangan Islam, yaitu 4.000 dinar, yang jika dikonversi ke masa sekarang bisa setara dengan miliaran rupiah.

kekayaan abdurrahman bin auf
Source image: kontan/muradi

Tidak berhenti sampai di situ, ia kembali bersedekah sebesar 40.000 dinar dan sekali lagi menyumbangkan 40.000 dinar. Jumlah ini sungguh luar biasa, menunjukkan betapa Abdurrahman bin Auf sangat ikhlas menggunakan hartanya di jalan Allah.

Selain uang, Abdurrahman juga menyumbangkan 500 kuda untuk kebutuhan transportasi, dan menambahkan 500 unta untuk digunakan dalam jihad.

2 Hal yang Bikin Abdurrahman Bin Auf Tak Ingin Kaya Raya

Rasulullah SAW pernah bersabda tentang dermawanannya Abdurrahman bin Auf, “Tidak ada yang bisa mengalahkan Abdurrahman dalam kedermawanan, kecuali ia sendiri.” (HR. Ahmad).

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda bahwa Abdurrahman bin Auf termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.

Sabda tersebut diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sepuluh orang yang dijamin masuk surga adalah: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Zubair di surga, Thalhah di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa’ad bin Abi Waqqas di surga, dan Said bin Zaid di surga.”

1. Kisah Abdurrahman bin Auf Ingin Miskin

Meski dijamin surga dan memiliki kekayaan yang tak terhitung, Abdurrahman bin Auf justru sering menangis. Mengapa? Salah satu sebabnya adalah ketakutannya terhadap panjangnya proses hisab di hari kiamat akibat hartanya yang melimpah.

Suatu ketika, Rasulullah SAW berkata kepada Abdurrahman, “Engkau akan masuk surga, wahai Abdurrahman, namun setelah tertahan karena hartamu.” (HR. Al-Bukhari).

Mendengar sabda ini, Abdurrahman bin Auf menjadi semakin khawatir, sehingga ia sering menangis dan berusaha untuk membagikan hartanya sebanyak mungkin kepada yang membutuhkan, dengan harapan dapat mempercepat masuknya ke surga.

Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa setelah perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf berusaha untuk menjadi orang miskin dengan membeli kurma busuk dari para sahabat yang semula dianggap tidak bernilai.

Namun takdir berkata lain, karena kurma busuk itu ternyata dibeli oleh utusan dari Yaman dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa, karena kurma tersebut dibutuhkan sebagai obat di negeri mereka.

2. Sumbangsih untuk Baitul Mal dan Membebaskan Budak

Selain memberikan hartanya dalam bentuk sedekah, Abdurrahman bin Auf juga berkontribusi besar dalam pendirian Baitul Mal—sebuah lembaga keuangan yang dikelola oleh negara untuk kesejahteraan umat.

Ketika Nabi mendirikan Baitul Mal di Madinah, Abdurrahman adalah salah satu penyumbang terbesar. Ia bahkan pernah menyumbangkan separuh hartanya untuk Baitul Mal ini, dengan niat untuk memastikan bahwa tidak ada Muslim di Madinah yang kekurangan.

kisah abdurrahman bin auf
Source image: suaraislam.id

Tidak hanya itu, ia juga membebaskan ribuan budak dengan hartanya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada masa akhir hidupnya, Abdurrahman bin Auf meninggalkan begitu banyak harta, termasuk emas yang harus dipotong-potong dengan kapak untuk dibagikan kepada orang-orang.

Ibnu Katsir menuliskan dalam Al-Bidayah wa Al-Nihayah bahwa Abdurrahman meninggalkan 1.000 unta, 100 kuda, dan 3.000 domba yang semuanya digembalakan di Baqi’.

Hadits lain yang terkait dengan kedermawanan Abdurrahman bin Auf disebutkan oleh Ibnu Majah, dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Di surga ada pohon yang ketika engkau berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun, engkau tidak akan sampai ke ujungnya. Dan di surga, ada sahabatku Abdurrahman bin Auf.”

Penutup

Kisah Abdurahman bin Auf adalah contoh nyata bahwa kekayaan yang melimpah tidak selalu identik dengan kesombongan dan kelalaian.

Abdurrahman menggunakan hartanya dengan bijak, dan selalu khawatir akan pertanggungjawabannya di akhirat. Ia adalah sosok yang sangat dermawan dan rendah hati, meskipun berada di puncak kekayaan.

Dari Abdurrahman bin Auf, kita belajar bahwa harta hanyalah titipan, dan yang terpenting adalah bagaimana kita memanfaatkannya untuk kebaikan.

Kekayaan tidak akan berarti tanpa sedekah, dan harta yang kita berikan di jalan Allah akan menjadi bekal kita di akhirat.

Seperti yang tertuang dalam QS. Al-Baqarah [2]:261, Allah berfirman, “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipat gandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”

September 12, 2024

Jabal Nur, atau dalam bahasa Arab disebut Jabal an-Nur yang berarti Gunung Cahaya, merupakan salah satu destinasi paling bersejarah dan penting bagi umat Muslim di seluruh dunia.

Terletak di sebelah timur laut kota suci Mekkah, Arab Saudi, gunung ini tidak hanya terkenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena peristiwa besar yang mengubah sejarah manusia selamanya.

Di puncak Jabal Nur, tepatnya di dalam Gua Hira, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril, yang menjadi titik awal munculnya cahaya Islam.

Lokasi Jabal Nur Dimana?

Jabal Nur terletak sekitar 5 kilometer dari Masjidil Haram, di daerah perbukitan di utara Mekkah. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 640 meter, dan meskipun terlihat menantang, mendaki Jabal Nur menjadi salah satu pengalaman spiritual yang tak terlupakan bagi banyak peziarah yang datang ke Mekkah.

jabal nur dimana
Source image: google maps

Untuk mencapai puncaknya, pengunjung harus mendaki sekitar satu jam melalui jalur berbatu dan curam dengan kemiringan hingga 60 derajat.

Puncak Jabal Nur menawarkan pemandangan kota Mekkah yang spektakuler, terutama pada pagi dan sore hari saat matahari terbit atau terbenam.

Dari sana, Masjidil Haram dapat terlihat dengan jelas tanpa terganggu oleh gedung-gedung tinggi di sekitarnya.

Bagi umat Muslim, pemandangan ini memberikan rasa syukur dan kerendahan hati, seolah-olah menyaksikan langsung sejarah yang hidup di depan mata mereka.

Sejarah Jabal Nur Gua Hira

Sebelum masa kenabian, Makkah adalah pusat peribadatan bagi kaum pagan yang menyembah berbagai berhala di sekitar Ka’bah.

Nabi Muhammad ﷺ, yang dikenal sebagai seseorang yang selalu menjunjung tinggi kebenaran dan integritas, merasa terganggu dengan kebiasaan penyembahan berhala ini dan berbagai ketidakadilan sosial yang ada di sekitarnya.

Sebagai seorang yang memiliki hati yang bersih, Nabi ﷺ kerap mencari kedamaian dan petunjuk dari Allah melalui perenungan yang mendalam.

Untuk menghindari hiruk-pikuk kehidupan di Makkah dan mengarahkan perhatian pada Tuhan, Nabi Muhammad ﷺ mulai melakukan khalwah (menyendiri) di Gua Hira di puncak Jabal Nur.

Pada waktu-waktu tertentu, terutama pada bulan Ramadhan, Nabi ﷺ akan menghabiskan waktu bermeditasi di sana, memikirkan kehidupan dan penciptaan, serta beribadah kepada Allah sesuai dengan ajaran tauhid (monoteisme) yang diwarisi dari Nabi Ibrahim عليه السلام.

Turunnya Wahyu Pertama

Pada tahun 610 M, ketika Nabi Muhammad ﷺ berusia 40 tahun, beliau kembali ke Gua Hira untuk melakukan khalwah seperti biasanya.

Namun, kali ini sesuatu yang sangat luar biasa terjadi. Pada malam ke-17 Ramadhan, Allah mengutus malaikat Jibril untuk menemui Nabi ﷺ di gua tersebut.

jabal nur
Source image: detikcom

Jibril datang dengan membawa wahyu pertama yang menjadi awal dari kenabian Nabi Muhammad ﷺ. Malaikat Jibril mendekati Nabi Muhammad ﷺ dan memintanya untuk membaca.

Nabi ﷺ, yang tidak bisa membaca maupun menulis, dengan jujur menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Tiga kali malaikat Jibril meminta Nabi ﷺ untuk membaca, hingga akhirnya Jibril menyampaikan wahyu Allah yang tercantum dalam Surah Al-Alaq, ayat 1-5:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq: 1-5)

Ketika wahyu ini turun, Nabi Muhammad ﷺ merasa ketakutan dan terguncang oleh pengalaman luar biasa ini.

Beliau segera turun dari Jabal Nur dan bergegas pulang ke rumahnya untuk menemui istrinya, Khadijah binti Khuwailid.

Setibanya di rumah, Nabi ﷺ meminta Khadijah untuk menyelimutinya sambil menceritakan apa yang baru saja terjadi. Khadijah, yang sangat mencintai dan mempercayai suaminya, menenangkan Nabi ﷺ.

Khadijah kemudian membawa Nabi ﷺ menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal, seorang ahli kitab yang memahami ajaran agama Yahudi dan Nasrani.

Setelah mendengar kisah Nabi ﷺ, Waraqah berkata bahwa yang datang kepada Nabi ﷺ adalah malaikat Jibril, sebagaimana malaikat ini pernah datang kepada para nabi terdahulu.

Waraqah juga menegaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ telah dipilih sebagai utusan Allah dan akan menghadapi banyak tantangan dalam menyebarkan risalah ini.

Berziarah di Jabal Nur dan Gua Hira

Saat ini, Jabal Nur menjadi salah satu tempat yang banyak dikunjungi oleh umat Muslim dari seluruh dunia.

Banyak peziarah atau jemaah umroh yang datang untuk mendaki gunung ini dan mengunjungi Gua Hira, meskipun pendakian ke puncak cukup melelahkan dan memerlukan stamina yang kuat.

jabal nur
Source image: detikcom

Namun, banyak yang merasa bahwa perjalanan spiritual ini memberikan pengalaman yang mendalam, mengingatkan mereka pada perjuangan dan pengorbanan Nabi Muhammad ﷺ dalam menyampaikan risalah Islam.

Kisah di Jabal Nur dan Gua Hira mengajarkan kepada umat Islam tentang pentingnya keteguhan hati dan keinginan yang tulus untuk mencari kebenaran.

Nabi Muhammad ﷺ memberikan contoh betapa pentingnya berjuang untuk memahami kehendak Allah melalui ibadah dan perenungan.

Peristiwa ini juga mengajarkan pentingnya selalu berserah diri kepada Allah, terutama ketika menghadapi tantangan dalam menjalankan amanah-Nya.

September 11, 2024

Saat menunaikan ibadah haji atau umrah, salah satu momen yang sangat dinantikan oleh setiap jamaah adalah kesempatan untuk menyaksikan peninggalan bersejarah yang menunjukkan kebesaran Allah.

Salah satu peninggalan tersebut adalah Maqam Ibrahim, yang sering kali menjadi objek perhatian dan kekaguman di Masjidil Haram.

Namun, perlu diluruskan bahwa Maqam Ibrahim bukanlah makam atau kuburan Nabi Ibrahim, melainkan batu pijakan yang digunakan oleh beliau saat membangun Ka’bah.

Apa Itu Maqam Ibrahim?

maqam ibrahim
Source image: inews.id

Maqam Ibrahim (bahasa Arab: مقام إبراهيم) adalah batu tempat Nabi Ibrahim berpijak ketika membangun Ka’bah.

Dari sudut bahasa, “al-maqam” berarti “tempat pijakan”. Maka maqam Ibrahim merupakan sebuah bangunan dengan batu kecil yang dibawa oleh Ismail AS ketika membangunkan Ka’bah, digunakan sebagai pijakan Ibrahim AS untuk berdiri guna melengkapi bongkahan-bongkahan batu untuk membangun Ka’bah.

Pada awalnya, batu ini menempel di dinding Ka’bah, tetapi pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, al-Maqam Ibrahim dipindahkan beberapa meter dari Ka’bah untuk mempermudah jamaah yang sedang melaksanakan tawaf dan salat.

Batu tersebut kini dilindungi dalam struktur seperti sangkar dan dilapisi perak untuk melindunginya dari kerusakan.

Secara linguistik, “maqam” berarti tempat berpijak. Oleh karena itu, Maqom Ibrahim. merujuk pada sebuah bangunan yang melingkupi batu kecil yang digunakan oleh Nabi Ibrahim sebagai tempat berdiri.

Ismail, putra Nabi Ibrahim, membantu ayahnya dengan memberikan bongkahan batu untuk membangun Ka’bah, dan Ibrahim menggunakan batu pijakan ini untuk mencapai ketinggian yang dibutuhkan dalam penyusunan batu-batu Ka’bah.

Letak Maqam Ibrahim

Ada beberapa pendapat mengenai lokasi awal Maqam Ibrahim. Menurut Said Muhammad Bakdasy dalam bukunya Fadhlu Hajar Aswad wa Maqam Ibrahim, Maqam ini pada masa Nabi Ibrahim dan Rasulullah SAW terletak di tempat yang sama seperti sekarang.

letak maqam ibrahim
Source image: islamislogic.wordpress.com

Namun, saat terjadi banjir besar pada masa Khalifah Umar bin Khattab, al-Maqam Ibrahim terseret arus dan tertimbun di bawah Kota Makkah.

Ibnu Hajar al-Asqalani meriwayatkan bahwa banjir besar tersebut menyeret Maqom Ibrahim dari posisinya dan menghanyutkannya hingga ditemukan di bawah Kota Makkah.

Khalifah Umar bin Khattab pun memerintahkan untuk mengembalikan Maqam ke tempat semula. Sejak saat itu, Maqam Ibrahim tetap berada di tempat yang kita lihat saat ini.

Pendapat lain disampaikan oleh Ibnu Katsir yang menyebutkan bahwa Maqom Ibrahim awalnya menempel di dinding Ka’bah.

Namun, Khalifah Umar memutuskan untuk memindahkannya ke sebelah timur Ka’bah agar tidak mengganggu orang-orang yang melakukan tawaf dan agar mereka yang ingin salat di dekat Maqom Ibrahim dapat melakukannya dengan lebih leluasa.

Keutamaan Maqam Ibrahim

Salah satu keutamaan Maqam Ibrahim adalah tempat ini dijadikan sebagai lokasi khusus untuk menunaikan salat setelah melakukan tawaf. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Dan jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat salat.” (QS. Al-Baqarah: 125)

Hadis dari Jabir RA juga menyebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ setelah mencium Hajar Aswad, beliau melaksanakan tawaf sebanyak tujuh putaran, lalu menuju Maqom Ibrahim untuk menunaikan salat dua rakaat.

Nabi ﷺ membaca ayat di atas dan menjadikan Maqam sebagai tempat yang berada di antara beliau dan Ka’bah saat salat.

Keutamaan lain yang disebutkan oleh Nabi Muhammad ﷺ adalah bahwa Maqom Ibrahim dan Hajar Aswad berasal dari surga.

Nabi bersabda, “Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim adalah batu yakut dari surga. Seandainya Allah tidak menghilangkan cahaya keduanya, maka ia akan menerangi Timur dan Barat secara keseluruhan.” (HR. Ahmad)

Doa di Maqam Ibrahim

doa di maqam ibrahim
Source image: syaamilquran.com/

Setelah menyelesaikan tawaf, jamaah dianjurkan untuk melaksanakan salat dua rakaat di sekitar Maqom Ibrahim. Selain itu, terdapat doa khusus yang dianjurkan untuk dibaca saat melintasi Maqam Ibrahim:

رَبِّ أَدْخِلْنِى مُدْخَلَ سَدْقٍ وَأَخْرِجْنِى مُخْرَجَ سَدْقٍ وَاجْعَلْ لِى مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

Rabbi adkhilnii mudkhala shidqin wakhrijnii mukhraja shidqin waj’al lii min ladunka sulthaanan nashiiran wa qul jaa’al haqqu wa zahaqal baathila innal baathila kaana zahuuqa.

Artinya: “Wahai Tuhanku, masukkanlah aku secara benar dan keluarkanlah pula aku secara benar, berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. Dan katakanlah, ‘yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil adalah sesuatu yang pasti lenyap.”

Keajaiban Batu Maqam Ibrahim

Salah satu hal yang membuat Maqom Ibrahim begitu istimewa adalah bekas telapak kaki Nabi Ibrahim yang masih terlihat di atas batu tersebut.

Konon, ketika Nabi Ibrahim menggunakan batu tersebut sebagai pijakan untuk menyusun batu-batu Ka’bah, batu ini secara ajaib meninggi mengikuti ketinggian Ka’bah yang semakin bertambah.

Menurut riwayat dari Imam al-Baihaqi, batu ini adalah salah satu dari batu surga yang memiliki cahaya luar biasa. Bahkan, jika bukan karena dosa-dosa manusia, cahaya dari batu ini akan menerangi seluruh Timur dan Barat.

Penutup

Maqom Ibrahim bukan sekadar batu biasa, tetapi merupakan saksi bisu dari perjuangan dan ketaatan Nabi Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah untuk membangun Ka’bah.

Keberadaan Maqam ini di Masjidil Haram menjadi pengingat betapa besar pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail dalam menaati perintah Allah.

Selain itu, Maqam Ibrahim juga memiliki keutamaan khusus bagi umat Muslim, karena dijadikan tempat untuk melaksanakan salat setelah tawaf dan dipercaya sebagai salah satu tempat yang mustajab untuk berdoa.

Sebagai salah satu situs bersejarah yang penuh makna, Maqom Ibrahim tetap menjadi bagian penting dalam rangkaian ibadah haji dan umrah.

Setiap jamaah yang menunaikan ibadah di Masjidil Haram dianjurkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mengingat kebesaran-Nya yang tergambar melalui peninggalan-peninggalan suci seperti Maqom Ibrahim.

September 6, 2024

Dalam kalender Islam, terdapat dua belas bulan yang memiliki makna dan keistimewaan tersendiri. Bulan-bulan dalam kalender Hijriah dihitung berdasarkan siklus bulan (lunar), berbeda dengan kalender Masehi yang menggunakan siklus matahari (solar).

Oleh karena itu, setiap tahunnya, bulan Hijriah bergeser sekitar 10 hingga 12 hari lebih awal dibandingkan kalender Masehi.

Keistimewaan bulan Hijriah bukan hanya terletak pada sistem perhitungannya, tetapi juga pada peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di dalamnya, yang sangat berpengaruh bagi umat Islam di seluruh dunia.

Dalam artikel ini, kita akan membahas secara detail tentang dua belas bulan Hijriah dan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di masing-masing bulan tersebut.

12 Nama Bulan Hijriah

1. Muharram: Bulan Pembuka yang Suci

Bulan Hijriah diawali dengan Muharram, bulan yang dianggap sebagai salah satu bulan paling suci dalam Islam.

“Muharram” berasal dari kata yang berarti “diharamkan” atau “dilarang,” karena pada zaman pra-Islam, peperangan dilarang selama bulan ini.

bulan hijriah
Source image: canva.com

Bulan ini juga disebut sebagai bulan yang penuh keberkahan, terutama pada hari Asyura yang jatuh pada 10 Muharram. Pada hari ini, disunnahkan untuk melaksanakan puasa Asyura yang dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu.

Peristiwa penting: 1 Muharram: Tahun Baru Islam dan 10 Muharram: Asyura, peristiwa yang dikenang atas selamatnya Nabi Musa dan umatnya dari kejaran Firaun.

2. Safar: Bulan Penuh Tradisi

Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah. Nama “Safar” berasal dari kata Arab yang berarti “kosong” atau “berangkat,” yang merujuk pada kebiasaan suku Arab di masa lalu yang melakukan perjalanan jauh pada bulan ini.

Dalam beberapa tradisi, Safar dianggap sebagai bulan penuh cobaan, namun tidak ada dasar kuat dalam Islam yang mendukung keyakinan ini.

Peristiwa penting: Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar dari Makkah ke Madinah.

3. Rabiul Awal: Bulan Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Rabiul Awal adalah bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, sehingga bulan ini memiliki makna yang sangat istimewa bagi umat Islam.

Selain itu, bulan ini juga dikenal sebagai bulan di mana berbagai peristiwa bersejarah terjadi, termasuk pembangunan masjid pertama dalam Islam, Masjid Quba.

Peristiwa penting: 12 Rabiul Awal: Hari kelahiran dan wafatnya Nabi Muhammad SAW.

4. Rabiul Akhir: Bulan Akhir Musim Semi

bulan hijriah 2024
Source image: canva.com

Bulan keempat dalam kalender Hijriah adalah Rabiul Akhir atau Rabiul Tsani, yang merupakan lanjutan dari bulan Rabiul Awal.

Nama bulan ini masih berkaitan dengan musim semi di Arab, namun bulan ini lebih dikenal sebagai waktu untuk memperingati beberapa perang penting dalam sejarah Islam.

Peristiwa penting: Perang Buhran dan Perang Damsyik.

5. Jumadil Awal: Awal Musim Panas

Jumadil Awal menandai awal musim panas di Jazirah Arab. Nama “Jumadil” mengacu pada kondisi tanah yang kering dan keras akibat musim panas. Pada bulan ini, banyak peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi, termasuk kelahiran beberapa tokoh penting.

Peristiwa penting: Kelahiran ulama besar seperti Imam Ghazali.

6. Jumadil Akhir: Penutup Periode Musim Kering

Jumadil Akhir adalah bulan keenam dalam kalender bulan Hijriah yang menandai akhir musim kering.

Dalam bulan ini, banyak peristiwa bersejarah terjadi, termasuk wafatnya sahabat Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar Ash Shiddiq, dan kelahiran Fatimah Az-Zahra, putri Nabi Muhammad.

Peristiwa penting: Wafatnya Fatimah Az-Zahra dan Abu Bakar Ash Shiddiq.

7. Rajab: Bulan Haram yang Mulia

Rajab adalah bulan ketujuh dalam kalender bulan Hijriah dan termasuk dalam empat bulan haram, yaitu bulan yang diharamkan untuk melakukan peperangan.

Bulan ini sangat dimuliakan dalam Islam, terutama karena peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada bulan ini, yaitu perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan kemudian naik ke langit.

Peristiwa penting: 27 Rajab: Isra’ Mi’raj.

8. Syaban: Bulan Persiapan Ramadan

Bulan Syaban adalah bulan kedelapan dalam kalender Hijriah dan dianggap sebagai bulan persiapan menuju Ramadan. Pada pertengahan bulan ini, umat Islam memperingati malam Nisfu Syaban, yang dipercaya sebagai malam penuh ampunan dan berkah.

Peristiwa penting: Malam Nisfu Syaban.

9. Ramadan: Bulan Penuh Berkah dan Pengampunan

Bulan yang paling dinantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia adalah Ramadan, bulan kesembilan dalam kalender Hijriah.

Selama bulan ini, umat Muslim diwajibkan untuk menjalankan puasa sebagai salah satu rukun Islam. Ramadan juga dikenal sebagai bulan di mana Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Peristiwa penting: 17 Ramadan: Turunnya ayat Al-Qur’an pertama (Nuzulul Qur’an) dan Lailatul Qadar: Malam seribu bulan di salah satu malam ganjil pada 10 hari terakhir Ramadan.

10. Syawal: Bulan Kemenangan

nama bulan hijriah dalam bahasa arab
Source image: canva.com

Setelah Ramadan, umat Muslim merayakan Syawal dengan perayaan Idul Fitri. Bulan ini dianggap sebagai bulan kemenangan karena Muslim telah berhasil menjalankan ibadah puasa dengan penuh kesabaran dan ketakwaan.

Peristiwa penting: 1 Syawal: Idul Fitri dan Puasa enam hari di bulan Syawal.

11. Dzulqa’dah: Bulan Perdamaian

Bulan Dzulqa’dah adalah bulan yang masuk dalam kategori bulan haram, di mana peperangan dilarang. Bulan ini juga dianggap sebagai bulan persiapan bagi umat Muslim yang hendak menunaikan ibadah haji di bulan berikutnya.

Peristiwa penting: Perjanjian Hudaibiyah antara umat Muslim dan kaum Quraisy.

12. Dzulhijjah: Bulan Haji dan Idul Adha

Bulan terakhir dalam kalender bulan Hijriah adalah Dzulhijjah, bulan yang paling dinantikan oleh umat Islam yang melaksanakan ibadah haji.

Di bulan ini pula, umat Muslim merayakan Idul Adha dan memperingati pengorbanan Nabi Ibrahim AS.

Peristiwa penting: 8-13 Dzulhijjah: Pelaksanaan ibadah haji dan  10 Dzulhijjah: Idul Adha.

Penutup

Bulan Hijriah memiliki keistimewaan dan makna yang mendalam dalam kehidupan umat Islam. Setiap bulan dalam kalender Hijriah tidak hanya membawa keistimewaan tersendiri tetapi juga peristiwa-peristiwa penting yang membentuk sejarah Islam.

Dengan memahami dan mengenal lebih jauh tentang bulan Hijriah, kita bisa semakin memperkuat iman dan menambah kecintaan terhadap agama kita.