fbpx
November 3, 2020
November 3, 2020

Tahallul merupakan rukun Haji maupun Umrah, yang jika tidak dilakukan maka ibadah Haji dan Umrah tidak sah.

Layaknya semua peristiwa, ibadah Haji maupun Umrah memiliki awal dan akhir. Jika mengenakan pakaian Ihram dari Miqat adalah momentum untuk mengawali ibadah ini, maka Tahallul adalah mengakhiri ikhram yang ditandai dengan mencukur rambut.

Yang harus dicukur ialah segala sikap dan sifat-sifat buruk atau kurang baik yang ada pada diri. Rambut yang tumbuh di kepala itu tidaklah berbahaya, karena yang berbahaya ialah “rambut-rambut” yang tumbuh di dalam kepala.

Sebab kebersihan dan kekuatan pikiran adalah modal utama untuk menempuh kehidupan. Allah SWT dalam Hadist Qudsi mengatakan “AKU BERGANTUNG PADA SANGKAAN HAMBAKU”, sadarkah kita bahwa apa yang kita peroleh saat ini sesungguhnya adalah hasil dari apa yang ada dipikiran kita.

Tahallul bermakna pembersihan diri serta penghapusan cara-cara berfikir yang kotor.

November 2, 2020

Ada yang pernah makan daging unta?
Atau mungkin minum susu unta?

Berkunjung ke peternakan unta bisa kamu lakukan saat menunaikan ibadah haji atau umrah, yang terletak di daerah Hudaibiyah Makkah.

Tahukah kamu bahwa hewan padang pasir yang tangguh ini, punya banyak manfaat, misalnya saja daging unta yang memiliki tekstur tidak berlemak dan menjadi sumber vitamin E yang baik, daging unta dianggap lebih sehat daripada daging sapi dan kambing.
Tak hanya itu susu unta juga banyak mengandung vitamin C serta kaya akan zat besi dan juga vitamin B.
Serta banyak manfaat lainnya. Baca Lebih Lanjut

February 15, 2020
February 15, 2020

MADINAH – Ini hari kedua jemaah umrah Tazkiyah Global Mandiri pemberangkatan 13 Februari 2020. Kekompakan mereka kian terbangun. Ke mana-mana selalu sama-sama.

Berikut adalah citizens report Erick Alamsyah, penyiar senior di Makassar yang juga tergabung dalam rombongan kali ini;

Assalamualaikum, Makassar.

Kami baru saja melaksanakan salat Subuh di Masjid Nabawi. Dingin begitu menusuk. Tetapi justru asyik. Kami berjalan kaki menuju hotel sambil menyembunyikan tangan di saku baju. Hehehe.

Tetapi perjalanan terhambat. Bukan karena terlalu padat atau ada kendala. Melainkan karena banyak jemaah tergoda pedagang Madinah.

Godaan yang sulit ditolak pagi ini datang dari pemilik sebuah toko, samping Hotel As Saha. Di sini, semua barang dijual hanya 2 Riyal. Kira-kira 8 ribu Rupiah.

Para jemaah pun menyerbu. Ada yang berbelanja, ada juga yang menahan diri. Nanti di Mekah, katanya.

Seorang jemaah asal Bone sibuk bertanya dengan tetap menggunakan dialek khasnya. Tetapi itu bukan masalah. Hampir semua pedagang di sini pandai berbahasa Indonesia. Bahkan ada yang mampu melafalkan beberapa kata dalam bahasa Bugis maupun Makassar.

Semuanya memang serba mudah. Bagi yang belum sempat menukar Riyal, bisa berbelanja dengan uang Rupiah. (*/cr)

February 14, 2020
February 14, 2020

MADINAH – Jemaah umrah Tazkiyah Global Mandiri pemberangkatan 13 Februari 2020 baru saja tiba di Madinah, Jumat, 14 Februari 2020 dini hari waktu Saudi atau pagi waktu Indonesia.

Salah seorang jemaah, Erick Alamsyah melaporkan, semua jemaah dalam keadaan sehat dan bersemangat.

“Disambut cuaca dingin Madinah, jemaah Tazkiyah tak gentar,” tulisnya dalam citizens report kepada tazkiyahtour.co.id.

Madinah saat ini memang sedang musim dingin. Suhu subuh hingga pagi hari kadang berada di angka 2-3 derajat celcius. Siang hari pun, walau tidak hujan, dingin tetap menusuk. Jemaah pemberangkatan 30 Januari 2020 juga merasakan itu.

Namun, kata Erick yang hari ini sedang berulang tahun, hal itu tidak menghalangi jemaah. Begitu tiba di hotel, check in dan masukkan barang, mereka langsung bersih-bersih dan ganti pakaian tebal.

Misinya adalah salat Subuh harus di masjid, di Masjid Nabawi, masjidnya Nabi Muhammad saw.

“Pokoknya kita harus salat di Nabawi. Jauh-jauh kita datang untuk keistimewaan itu,” ujar Harman Sanude, jemaah asal Kabupaten Bone.

Ayah dari Muhammad Yunus, Sales Representative Silk Air Makassar itu terlihat melangkah begitu antusias ke masjid. Bersama jemaah lainnya. Rata-rata memakai sarung.

“Khas Indonesia dan bugis sekali,” tutup Erick.

Rombongan kali ini berjumlah 50 jemaah. Mereka dijadwalkan akan menjalani rangkaian tur dan ibadah selama 11 hari. (*/cr)