fbpx
Hi, How Can We Help You?

Arsip Tag: madinah

January 15, 2020
January 15, 2020

LIMA puluh jemaah umrah Tazkiyah Global Mandiri pemberangkatan 9 Januari 2020 sudah di Mekah. Namun momen selama empat hari di Madinah pun masih terngiang-ngiang. Selain kerinduan pada Nabi Muhammad saw, berbagai pengalaman religius juga tersimpan di ingatan.

Dan beberapa foto di bawah ini juga bisa mewakili betapa nikmatnya ke tanah suci, terutama jika datang bersama keluarga. Ayah, ibu, kakek, nenek, anak, saudara.

Bersama buah hati.

Pagi bahagia.

Saling jaga.

Simbol janji.

Lepas beban.

Senyum semringah.

Bunda.

January 12, 2020
January 12, 2020

MADINAH – Jika kita di Makassar terus diguyur hujan dalam beberapa hari terakhir, di Madinah malah cerah. Tetapi, suhu di kota Rasulullah saw itu sedang sangat dingin.

Jemaah umrah Tazkiyah Global Mandiri pemberangkatan 9 Januari 2020 merasakannya. Ke mana-mana harus memakai jaket tebal. Bahkan saat siang hari sekalipun.

Suhu bisa mencapai 5 derajat celcius di malam hingga pagi hari. Jika hendak menuju Masjid Nabawi untuk salat Subuh, jemaah “wajib” memakai baju berlapis-lapis. Juga penutup kepala.

Di siang hari, suhu rata-rata di angka 10 derajat celcius. Itu pun masih sangat dingin.

“Matahari tetap terang tetapi kita dengan gampang berpapasan dengan orang-orang yang memakai kostum tebal,” ujar Ahmad Faisal Fachruddin, tour leader jemaah, Minggu, 11 Januari 2020.

Hari ini jemaah menjalani tur kota Madinah. Mulai dari mengunjungi Masjid Quba hingga berbelanja di kebun kurma. Besok, Senin, 12 Januari 2020, rombongan akan menuju Mekah. Bersiap melakoni rangkaian ibadah umrah. (ama)

January 7, 2020

EMPAT puluh delapan jemaah umrah Tazkiyah Global Mandiri pemberangkatan 26 Desember 2019 sudah di tanah air. Rombongan tiba di Makassar dan Jakarta, Minggu, 5 Januari 2020.

Di bawah ini ada beberapa gambar yang akan menjadi oleh-oleh tambahan para jemaah, serta kita semua. Menariknya, seluruhnya dipotret oleh seorang profesor, baik ketika sedang di Madinah maupun di Mekah. Kamaruddin Amin nama sang fotografer. Putra Bugis, asal Bone. Kini menjabat sebagai Dirjen Pendidikan Islam di Kementerian Agama RI.

Pak Prof ternyata punya minat fotografi. Dan kita bisa nikmati bersama hasilnya. Dari matahari terbit di Jabal Rahmah hingga senja di pelataran Masjidilharam;

Mengunjungi Jabal Rahmah.

Ramai di Jabal Tsur.

Waktu berharga.

Jalan-jalan di Kota Mekah.

Mengabadikan diri dan Masjid Quba di Madinah.

Menunggu teman.

Sang mutawif.

Di tengah lalu lalang orang dan merpati.

Matahari terbenam, dilihat dari balik bangunan Masjidilharam.

October 9, 2019

MEKAH – Anda yang pernah umrah atau haji pasti pernah melihat kawanan burung merpati. Baik di sekitaran Masjid Nabawi di Madinah maupun Masjidilharam di Mekah. Anda bahkan mungkin pernah ikut memberi makan kepada burung-burung berwarna megan itu.

Darwis Syamsu Alam, jemaah yang pergi umrah bersama Sint Travel (Tazkiyah Tour Group) pekan lalu, termasuk yang senang membagikan biji-bijian kepada merparti di Haramain.

Tetapi yang berbeda, bukan jagung atau biji-bijian yang biasa anak-anak berwajah Arab jual yang Darwis berikan. Melainkan kacang hijau yang dia bawa khusus dari Makassar.

Rupanya, aksi membawa kacang hijau itu sudah jadi kebiasaan lelaki kelahiran Ujungpandang, 27 Juli 1959 itu, setiap kali ke tanah suci.

“Ini sudah kali ketiga. Pernah juga bareng istri dan anak, saya titipkan juga kacang hijau semua. Dan selalu ada cerita di baliknya,” ujarnya, Rabu, 9 Oktober 2019.

Cerita yang dimaksud Darwis adalah beberapa keajaiban yang dia alami. Terbaru, pria berkacamata itu bahkan merasakan rentetan nikmat, yang dia yakini salah satu penyebabnya adalah keberkahan memberi makan kepada “merpati Rasulullah”.

Pembimbing umrah Sint Travel pemberangkatan 26 September-6 Oktober 2019, KH Anwar Sadat merinci beberapa pengalaman yang dia saksikan dialami Darwis.

“Pak Haji Darwis beberapa kali kehilangan barang selama di tanah suci. Tetapi selalu muncul kembali. Lalu di Singapura, tiba-tiba ada orang yang kasih uang 100 dolar,” tutur Anwar.

Mantan anggota DPRD Sulsel itu menambahkan, ponsel milik Darwis pernah ketinggalan di tempat wudu. “Baru beliau ingat sekitar 45 menit kemudian. Alhamdulillah ternyata masih ada di tempat. Padahal orang lalu lalang di situ,” timpal Anwar.

Dan masih ada lagi. Darwis sempat menitip tasnya kepada seseorang di lintasan sai lantaran kelelahan mondar-mandir. Setelah sai tuntas, orang yang dia tak kenal itu sudah tidak ada di tempat. Eh, malam orang itu yang keliling mencari Darwis dan akhirnya menemukan.

Darwis pun semakin yakin akan keberkahan ikhlas, apalagi dilakukan di tempat yang sudah pasti pula keberkahannya.

Dalam riwayat memang disebutkan, meski burung merpati di Mekah maupun Madinah tidak mempunyai keistimewaan khusus, namun ada kisahnya.

Merpati itu ada kaitannya dengan sejarah hijrah Nabi Muhammad saw. Saat itu Rasulullah bersama Abubakar ash Shiddiq dikejar kaum Quraisy. Mereka lalu bersembunyi di Gua Hira. Tiba-tiba di pintu gua bersarang laba-laba dan pada saat yang sama ada burung merpati sedang bertelur. Melihat itu, pasukan Quraisy memastikan tidak mungkin seseorang bisa bersembunyi di dalam gua. Loloslah Rasulullah dan Abubakar.

Beberapa penulis sejarah Arab menduga bahwa merpati yang berada di sekitar Baitullah, Mekkah dan Madinah adalah keturunan sepasang merpati yang dulu pernah membangun sarangnya di depan gua tempat Rasulullah dan Abubakar bersembunyi.

Pada cerita lain disebutkan bahwa sepasang merpati itu dipelihara Aisyah, istri Rasulullah.

Sampai kini, merparti-merpati di Mekah-Madinah berkembang biak dengan baik. Ada semacam larangan tidak resmi untuk tak berbuat macam-macam, semisal menangkap.

Merpati bahkan hidup tenang di antara lalu lalang jemaah. Sebab mereka mendapat kasih sayang dari para tamu Allah. (fit-sur)

September 23, 2019

MEKAH – Kawanan burung merpati adalah satu dari sekian kekhasan dua kota Haramain; Mekah dan Madinah. Merpati yang terbang rendah atau yang sedang mematuk biji-bijian di aspal adalah teman perjalanan bagi jemaah yang menuju dan dari masjid.

Anda yang sudah pernah ke tanah suci mungkin pernah berinteraksi dengan merpati-merpati itu. Memberi makan misalnya. Atau barangkali malah berfoto di antara merpati yang jumlahnya bisa mencapai ratusan ekor itu.

Jemaah-jemaah yang pernah umrah bersama Tazkiyah Tour pun ada yang mengabadikan kebersamaannya dengan merpati. Diunggah ke media sosial sebagai upaya menyimpan kenangan.

Dilansir dari Dream, burung merpati di Mekah maupun Madinah tidak mempunyai keistimewaan khusus. Tetapi dibanding merpati-merpati di Eropa, ada bedanya. Bulunya lebih unik. Dihiasi dua garis melintang mirip pangkat seorang perwira tentara.

Diriwayatkan, merpati Mekah ada kaitannya dengan sejarah hijrah Nabi Muhammad saw. Saat itu Rasulullah bersama Abubakar ash Shiddiq dikejar kaum Quraisy. Mereka lalu bersembunyi di Gua Hira. Tiba-tiba di pintu gua bersarang laba-laba dan pada saat yang sama ada burung merpati sedang bertelur. Melihat itu, pasukan Quraisy memastikan tidak mungkin sesorang bisa bersembunyi di dalam gua. Loloslah Rasulullah dan Abubakar.

Beberapa penulis sejarah Arab menduga bahwa merpati yang berada di sekitar Baitullah, Mekkah dan Madinah adalah keturunan sepasang merpati yang dulu pernah membangun sarangnya di depan gua tempat Rasulullah dan Abubakar bersembunyi.

Makanya, saat berada di tanah suci Mekah, kita dilarang untuk menangkap apalagi berburu burung merpati tersebut, baik dalam situasi ihram maupun tidak. Baru boleh setelah berada di luar kota Mekah, itu pun hanya berlaku bagi mereka yang tak sedang sedang ihram.

Lagipula, lebih baik kita memberi makan burung-burung itu ketimbang menangkapinya, kan? (fit-sur)