fbpx
Hi, How Can We Help You?
  • Makassar 90231, Sulawesi Selatan, Indonesia
  • Email: info@tazkiyahtour.co.id

Blog

February 9, 2022

Sejarah berdirinya Masjid Nabawi : Kisah Keikhlasan 2 Anak Yatim

Masjid Nabawi merupakan masjid kedua terbesar setelah Masjid Haram. Masjid Nabawi berada di tengah – tengah kota Madinah Al Munawwarah pada ketinggian 597 m di atas permukaan laut. Masjid Nabawi dibangun oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun pertama HIjriyah bertepatan dengan 622 M, di atas lahan seluas 70 x 60 hasta atau kira – kira 31,5 x 27 meter.

Lantas bagaimana serjarah berdirinya Masjid Nabawi? Tulisan ini akan membahas sejarah berdirinya Masjid Nabawi serta bagaimana kisah pengorbanan anak yatim untuk pembangunan Masjid Nabawi.

Sahabat Tazkiyah, dikisahkan pada tulisan sebelumnya bahwa ketika Nabi Muhammad memasuki Kota Madinah, Nabi Muhammad SAW tinggal di rumah sahabat Salahuddin Ayyub Al Anshari.

Setelah tinggal beberapa saat di rumah sahabat Salahuddin Ayyub, Nabi Muhammad mendirikan Masjid Nabawi di atas sebidang tanah yang dimiliki oleh dua anak yatim anshar yang bernama Sahal dan Suhail anak dari Amir Bin Amarah yang diasuh oleh Mu’adz bin Atrah.

Dilansir dari NU Online Pada mulanya, Nabi Muhammad SAW memanggil dua anak yatim anshar tersebut dan menyampaikan niatnya untuk membangun Masjid dilokasi yang merupakan milik kedua anak yatim itu. Kedua anak yatim itu pun memberikan respon yang sangat luar biasa dengan mengatakan “kami menghibahkan tanah ini kepadamu, wahai Rasulullah”. Namun Rasulullah SAW menolak pemberian tanah tersebut secara gratis. Rasulullah SAW bersikeras dan memutuskan untuk membelinya dengan harga 10 dinar.

Sebenarnya lahan tersebut belum siap untuk digunakan, karena di atasnya terdapat beberapa pohon kurma dan makam tua. Rasulullah SAW kemudian memerintahkan para sahabat untuk memindahkan makam dan menebang pohon – pohon kurma. Kayu dari pohon – pohon tersebut kemudian dipakai untuk membangun bagian kiblat Masjid.

Baca Juga:  Masjid Nabawi Tetap Bagikan Hidangan Berbuka, Tarawih 10 Rakaat
Masjid nabawi
                                    Foto : Halaman Mesjid Nabawi

Setelah lahan dibersihkan dan diratakan barulah Nabi Muhammad SAW memulai pembangunan Masjid Nabawi.

Merujuk kepada buku Ensiklopedia Peradaban Islam, Nabi Muhammad SAW terlibat lansung bersama para sahabat dalam proses pembangunan Masjid Nabawi, Nabi Muhammad SAW ikut mengangkut atau memikul batu dan material lainnya. Rasulullah meletakkan batu pertama, kemudian batu kedua diletakkan oleh sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq, batu ketiga oleh sahabat Umar bin Khattab, Batu keempat diletakkan oleh Sahabat Utsman bin Affan, dan batu kelima oleh sahabat Ali bin Abi Thalib. Kemudian pembangunan masjid dikerjakan dengan bersama – sama antara kaum Anshar (sebutan untuk penduduk Kota Madinah) dan kaum Muhajirin (sebutan untuk penduduk Mekkah yang hijrah ke Madinah sampai selesai.

Pada awal berdirinya, kiblat Masjid Nabawi menghadap ke arah Baitul Maqdis, karena waktu itu perintah Allah untuk menghadap ke Ka’bah belum turun. Bentuk denahnya bujur sangkar. Pintunya ada tiga yaitu pintu bagian kanan, pintu kiri dan pintu belakang. Panjang sekitar 70 hasta dan lebar sekitar 60 hasta.

Fondasi Masjid terdiri dari batu – batu keras. Sedangkan dindinnya terbuat dari batu bata tanah liat. Tiang – tiang Masjid terbut dari batang pohon kurma, sementara atap terbuat dari pelepahnya.

Pada awal berdirinya Masjid ini tidak memiliki mimbar. Rasulullah SAW berkhutbah dengan duduk di atas gundukan tanah yang lebih tinggi. Para sahabat kemudian sepakat untuk membuatkan Rasulullah mimbar yang terbuat dari batang pohon kurma yang dapat disandari Rasulullah ketika letih capek dikarenakan terlalu lama berdiri.

Jadi, Masjid Nabawi pada awalnya tampak sangat sederhana. Tidak ada hiasan, tidak ada tikar, dan alat penerang. Untuk penerangan di malam hari dilakukan dengan membakar pelepah kurma yang sudah kering.

Baca Juga:  Masjid Bir Ali, Masjid Cantik Tempat Miqat Jamaah Haji dan Jemaah Umrah

Adapun tempat tinggal Rasulullah bersama Istri didirikan dibagian barat dindin Masjid. Sehingga dalam sejarah perkembangannya, perluasan Masjid Nabawi selalu ke arah timur.

Meskipun tampak sangat sederhana, Masjid Nabawi menjadi pusat segala aktivitas ummat Islam pada saat itu. Selain dijadikan sebagai pusat melaksanakan ibadah lima waktu, masjid juga difungsikan oleh penduduk Madinah pada saat itu sebagai tempat untuk berdiskusi dan bermusyawarah terkait perkara sehari hari seperti masalah perkawinan, pembagian hak waris, jual beli dan lain – lain.

Rasulullah SAW juga menjadikan Masjid Nabawi sebagai pusat dakwah dan pendidikan agama Islam. Bahkan trandisi ini masih berlanjut sampai sekarang. Setiap yang berkunjung ke Masjid Nabawi akan mendapati halaqoh atau pengajian yang dipimpin oleh syekh atau guru. Biasanya kegiatan ini berlansung sesudah shalat Maghrib dan sesudah shalat subuh.

Mari terus panjatkan doa semoga kita semua diberikan nikmat oleh Allah SWT berkunjung ke dua tanah suci tanah suci Mekkah dan tanah suci Madinah. Dan kita semua dapat mengunjungi dan shalat dalam Masjid Nabawi sekaligus berkunjung ke Maqam Rasulullah SAW.

Sumber Berita : https://islam.nu.or.id/sirah-nabawiyah/pembangunan-masjid-nabawi-sebagai-pilar-pertama-hijrah-nabi-SMYRG