Hi, How Can We Help You?
  • Makassar 90231, Sulawesi Selatan, Indonesia
  • Email: tazkiyahmandiri@gmail.com

Blog

Desember 18, 2020

ADAKAH perjalanan yang lebih indah dari pergi haji atau umrah? Tiba di Makkah dan larut dalam kekhusyukan ibadah. Apalagi, salat di Masjidilharam, seperti hadis Rasulullah saw, sangat istimewa.

Memang banyak hadis Nabi yang mengisyaratkan keistimewaan kota tempat kelahiran beliau itu. Di antaranya yang mengabarkan bila salat di Masjidilharam seorang mukmin akan mendapat balasan hingga 100 ribu kali lipat daripada salat di masjid-masjid lainnya.

Teks lengkap hadis itu adalah;

“Satu kali salat di masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah) lebih baik daripada seribu kali salat di masjid lain, kecuali di Masjid al-Haram. Satu kali salat di Masjid al-Haram lebih afdal (utama) daripada 100 ribu kali shalat di masjidku ini.” Diriwayatkan Imam Ahmad dan Ibnu Hibban.

Ustaz Abdul Somad (UAS) dalam bukunya yang berjudul 66 Tanya Jawab Umrah (2019) menyayangkan jika hadis tersebut dipahami secara keliru. Seolah-olah, orang Islam cukup menyempatkan diri untuk salat di Masjidilharam, untuk kemudian “tidak perlu” lagi salat begitu kembali ke Tanah Air hingga akhir hayatnya.

Di satu sisi, lanjut UAS, hadis di atas termasuk sahih. Akan tetapi, di sisi lain, janganlah perkataan Rasulullah saw itu dimaknai secara literal belaka, melainkan ungkapan.

“Tidak boleh terlintas di pikiran kita bahwa salat satu hari di Masjid al-Haram sudah cukup sehingga tidak perlu lagi salat selama 100 ribu tahun. Makna ungkapan ‘sama dengan’ (dalam hadis tersebut) adalah balasan pahalanya,” ujar alumnus Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir itu.

Hadis tentang pahala salat di Masjidilharam lebih sebagai motivasi untuk seorang muslim agar selalu mencintai Tanah Suci. Dengan hadis tersebut, muslimin diimbau untuk memiliki tekad agar suatu hari bisa beribadah di sana. (tmt/bs)

Desember 17, 2020
Desember 17, 2020
Apakah berhaji hanya diwajibkan bagi mereka yang mampu ( material, fisik, dan keilmuan) saja?
Tentu, jawabannya adalah “Ya” sebab yang tak mampu tidak punya kewajiban melaksanakan ibadah Haji di tanah suci.
Lantas,apakah orang-orang yang tidak mampu tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh makna ibadah haji?
Tentu jawabnnya adalah “Tidak”.

Baca Selengkapnya

Desember 11, 2020
Ibadah Sa’i adalah berjalan kaki dan berlari-lari kecil di antara kedua bukit, sebanyak tujuh kali secara bolak-balik dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah dan sebaliknya.
Bukit Shafa dan Marwah telah menjadi saksi sejarah perjuangan seorang ibu dalam menyelamatkan anaknya dari kehausan puluhan abad silam.
Sa’i dalam prosesi haji dan umrah tidak bisa dilepaskan dari kisah Siti Hajar beserta putranya Ismail, sumur zamzam, keberadaan Ka’bah, dan Nabi Ibrahim.

Baca Selengkapnya

Desember 10, 2020

BAYANGKAN jika waktunya telah tiba. Anda berjalan memasuki Masjidilharam, mengarah ke bawah, dan tiba di pelataran Ka’bah.

Di depan Anda, bangunan berbentuk kubus yang suci itu, berdiri kokoh. Anda menatapnya. Melepas hasrat ingin “bertemu” yang sudah lama terpendam. Bertambah lama karena adanya pandemi.

Dan memandang Ka’bah ternyata memiliki keutamaan. Ganjarannya tidak main-main. Aisyah meriwayatkan, Rasulullah bersabda. “Memandang Ka’bah adalah sebuah ibadah.” (HR. Abu Syaikh).

Ibnu Abbas pun menyebut bahwa di antara sekian banyak rahmat yang tercurah dari beragam ibadah di Ka’bah, memandanginya mendapatkan porsi dua puluh rahmat.

Ulama salaf banyak menyebutkan bilangan pahala keutamaan melihat Ka’bah. Seluruhnya berorientasi kepada kriteria menjiwai, memahami, dan meyakini keagungannya.

“Memandang Ka’bah adalah inti iman,” kata Ibnu Abbas.

Sedangkan Sa’id bin Musayyab bertutur, siapa saja yang memandang Ka’bah dengan penuh iman dan kepercayaan, dia akan terbebas dari dosa laksana baru keluar dari rahim ibunya.

Ibnu Saib Al Madani mengatakan, siapa saja yang memandang Ka’bah dengan penuh iman dan kepercayaan seluruh dosanya akan berguguran, laksana dedaunan yang berguguran dari pepohonan.

Ibnu Said juga berkata derajat pahala ibadah memandang Ka’bah setara dengan pahala seorang yang berpuasa, salat istiqamah, tawadu, dan berjuang di jalan Allah.

Ternyata bukan hanya melepas rindu. Menatap Ka’bah adalah cara untuk meraih keutamaan-keutamaan. Dosa berguguran. Pahalanya berlipat ganda. (tmt)

Desember 10, 2020

JAKARTA — Bagaimana pelaksanaan haji 2021 mendatang? Kementerian Agama (Kemenag) RI berusaha segera memastikannya.

Langkah pertama, beber Plt Direktur Jenderal Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah (PHU) Kemenag RI, Oman Fathurahman, delegasi telah menggelar pertemuan dengan Syekh Abdurrahman Fahd Shams, Hajj and Umrah Minister Advisor pada Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, beberapa waktu lalu.

“Kami delegasi Kementerian Agama bertemu dan berdialog soal kebijakan umrah di masa pandemi. Delegasi juga bertanya seperti apa gambaran penyelenggaraan ibadah haji 2021,” ujar Omar kemarin, dilansir Ihram. Baca Selengkapnya