Hi, How Can We Help You?
  • Makassar 90231, Sulawesi Selatan, Indonesia
  • Email: tazkiyahmandiri@gmail.com

Blog

Agustus 6, 2024

Dalam agama Islam, dianjurkan untuk membaca doa sebelum melakukan berbagai aktivitas. Salah satu doa yang sangat penting adalah doa pembuka rezeki.

Doa pembuka rezeki ini memiliki tujuan untuk mempermudah usaha dalam mencari rezeki, mengingatkan umat Muslim akan ketergantungan mereka kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan, serta memperkuat keyakinan bahwa rezeki berasal dari-Nya.

Doa Pembuka Rezeki dari Segala Penjuru

doa pembuka rezeki
Source image: canva.com

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat At-Talaq ayat 3:

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Artinya: “Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”

Berikut doa pembuka rezeki dari segala penjuru yang sebaiknya kamu hafal dan baca setiap hari

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَدَدَ اَنْوَاعِ الرِّزْقِ وَالْفُتُوْحَاتِ، بَابَاسِطَ الَّذِيْ يبَسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَآء بِغَيْرِ حِسَابٍ اُبْسُطْ عَلَيَّ رِزْقًا كَثِيْرًا مِنْ كُلِّ جِهَةٍ مِنْ خَزَائِنِ رِزْقِكَ بِغَيْرِ مِنَّةٍ مَخْلُوْقٍ بِفَضْلِكَ وَكَرَمِكَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Artinya: “Wahai Allah limpahkanlah rahmat atas junjungan kita Nabi Muhammad Saw; sebanyak aneka rupa rizqi. Wahai Dzat Yang Maha Meluaskan rizqi kepada orang yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. Luaskan dan banyakanlah rizqiku dari segenap setiap penjuru dan perbendaharaan rizqi-Mu tanpa pemberian dari makhluk, berkat kemurahan-Mu jua. Dan limpahkanlah pula rahmat dan salam atas dan para sahabat beliau.”

Doa ini mengandung permohonan agar Allah meluaskan dan memperbanyak rezeki dari berbagai penjuru, memohon agar rezeki datang tanpa melalui perantara manusia dan semata-mata karena kemurahan Allah.

Doa Pembuka Rezeki di Pagi Hari

Rasulullah SAW mengajarkan doa pembuka rezeki dan dzikir di pagi hari untuk mengharapkan keberkahan sepanjang hari. Berikut beberapa doa pagi hari yang mustajab:

doa pembuka rezeki di pagi hari
Source image: canva.com

Doa Pertama

يَا أَوَّلَ الْأَوَّلِينَ وَيَا آخِرَ الْآخِرِينَ وَيَا ذَا الْقُوَّةِ الْمَتِينَ وَيَا رَاحِمَ الْمَسَاكِينَ وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Artinya: “Wahai Yang Maha Awal di antara mereka yang awal, wahai Yang Maha Akhir di antara mereka yang akhir, Wahai Yang Memiliki Kekuatan, wahai Yang Menyayangi orang-orang miskin, wahai Yang Maha Pengasih di antara mereka yang pengasih.” (HR. Abu Dawud)

Doa Kedua

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

Artinya: “Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).” (HR. Ibnu Majah, no. 925 dan Ahmad 6: 305, 322. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih.)

Doa ini dipanjatkan Rasulullah SAW setelah salam shalat subuh, memohon ilmu bermanfaat, rezeki yang halal, dan amal yang diterima.

Doa Ketiga

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Artinya: “Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3563. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.)

Doa ini disampaikan dalam hadits Ali, memohon agar Allah mencukupi kebutuhan dengan yang halal dan menjauhkan dari yang haram.

Doa Keempat

يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

Artinya: “Wahai Dzat yang Maha Hidup, serta Maha Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan, perbaiki seluruh urusan atau keadaanku, dan janganlah Engkau mewakilkan aku kepada diriku sendiri dalam sekejap mata pun.” (HR. Imam An-Nasai, Imam al-Bazzar, dan Imam al-Hakim)

Doa ini memohon kepada Allah untuk memperbaiki segala urusan dan menghindarkan dari segala kesusahan.

Doa Pembuka Rezeki untuk Usaha

doa pembuka rezeki untuk usaha
Source image: canva.com

Berdagang adalah salah satu cara untuk menjemput rezeki. Dengan berdagang, banyak orang mencari nafkah, termasuk Rasulullah SAW yang juga berdagang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Namun, berdagang tidak lepas dari risiko dan tantangan. Untuk itu, doa pembuka rezeki untuk usaha sangat penting agar usaha berjalan lancar.

Salah satu doa pembuka rezeki untuk usaha atau dagang yang dicontohkan oleh Nabi Sulaiman AS terdapat dalam Surah An-Naml ayat 19:

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْنَ

Artinya: “Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.'”

Doa ini mengajarkan pentingnya syukur atas nikmat Allah dan memohon agar diberikan kemudahan dalam berusaha, serta dimasukkan ke dalam golongan orang-orang saleh.

Dengan memahami dan mengamalkan doa-doa ini, diharapkan setiap usaha dalam mencari rezeki menjadi lebih berkah dan sukses. Semoga Allah SWT mempermudah dan melimpahkan rezeki dari berbagai penjuru.

Penutup

Sebagai penutup, doa pembuka rezeki memegang peranan penting dalam kehidupan seorang Muslim. Dengan membaca doa ini, kita tidak hanya berusaha untuk membuka pintu rezeki dari segala penjuru, tetapi juga mengingatkan diri kita akan ketergantungan kita pada Allah SWT.

Doa-doa yang telah diajarkan Rasulullah SAW dan para nabi, seperti doa pagi hari dan doa khusus untuk usaha, mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dan berdoa dengan tulus.

Melalui doa pembuka rezeki ini, kita meminta agar Allah memberkahi usaha kita, memperluas rezeki, dan memberikan keberkahan dalam setiap langkah yang kita ambil.

Semoga dengan niat dan usaha yang disertai doa yang penuh keyakinan, kita dapat meraih rezeki yang halal dan berkah, serta mendapatkan kemudahan dalam setiap aktivitas kita. Aamiin.

Agustus 5, 2024

Riba adalah masalah ekonomi yang sering kali dilakukan oleh manusia, termasuk oleh sebagian umat Islam itu sendiri, cukup banyak yang terjebak dalam dosa riba.

Padahal, baik Al-Qur’an, Hadis, maupun jumhur Ulama secara tegas menyatakan bahwa praktik dosa riba adalah haram. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, beliau menyampaikan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

“Allah melaknat orang yang memakan (pemakai) riba, orang yang memberi riba, dua orang saksi dan pencatat (dalam transaksi riba), mereka sama saja”. [HR. Muslim dan Ahmad]

Hadis yang mulia ini dengan jelas menjelaskan keharaman riba, bahaya yang ditimbulkannya bagi individu dan masyarakat, serta ancaman bagi mereka yang terlibat dalam dosa riba.

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa semua pihak yang terlibat dalam transaksi riba akan terkena laknat.

Dosa Riba Dalam Alquran

Dosa riba adalah salah satu dosa besar yang dilaknat dalam Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan secara tegas mengenai dosa riba dan ancaman terhadap pelakunya.

dosa riba dalam alquran
Source image: canva.com

Riba tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga membawa bahaya spiritual dan moral yang serius. Allah subhanahu wa ta’ala menggarisbawahi bahaya serta besarnya dosa riba dengan ancaman yang keras bagi mereka yang terlibat dalam praktik tersebut.

Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan ancaman berat kepada mereka yang terlibat dalam riba.

Ancaman tersebut mencakup azab yang pedih, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an:

اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْٓا اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰواۘ وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ فَمَنْ جَاۤءَهٗ مَوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ فَانْتَهٰى فَلَهٗ مَا سَلَفَۗ وَاَمْرُهٗٓ اِلَى اللّٰهِ ۗ وَمَنْ عَادَ فَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Dan barang siapa yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. [Al-Baqarah/2:275]

Allah juga menghilangkan berkah dari harta yang diperoleh melalui dosa riba dan mencap pelakunya sebagai orang yang kufur:

يَمْحَقُ اللّٰهُ الرِّبٰوا وَيُرْبِى الصَّدَقٰتِ ۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ اَثِيْمٍ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.” [Al-Baqarah/2:276]

Allah juga memerangi riba dan pelakunya, sebagaimana firman-Nya:

فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا فَأْذَنُوْا بِحَرْبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۚ وَاِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوْسُ اَمْوَالِكُمْۚ لَا تَظْلِمُوْنَ وَلَا تُظْلَمُوْنَ

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” [Al-Baqarah/2:279]

Apakah Dosa Riba Bisa Diampuni

Allah subhanahu wa ta’ala masih membuka pintu taubat bagi hamba-Nya yang ingin kembali ke jalan yang benar. Berikut adalah cara-cara untuk bertaubat dari dosa riba menurut ajaran Islam:

cara taubat dari riba
Source image: canva.com

5 Cara Taubat dari Dosa Riba

1. Bertaubat dengan Sungguh-sungguh (Taubatan Nasuha)

Taubat dari dosa riba harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Menurut Ustadz Adi Hidayat, taubat yang diterima adalah taubat yang benar-benar tulus, di mana seorang hamba benar-benar menyesali perbuatannya dan berniat untuk tidak mengulanginya lagi.

2. Menghindari dan Tidak Mengulangi Dosa

Setelah bertaubat, penting untuk tidak terjebak kembali dalam praktik riba. Ini berarti menjauhkan diri dari segala bentuk transaksi yang mengandung riba dan berusaha hidup sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

3. Menyalurkan Harta Riba sebagai Sedekah

Jika masih ada sisa harta atau keuntungan dari riba, maka sebaiknya harta tersebut dikeluarkan dalam bentuk sedekah untuk kepentingan umum.

Ini bisa berupa pembangunan fasilitas umum seperti sumur, jalan, masjid, atau tempat ibadah lainnya. Dengan cara ini, harta riba tidak menjadi penghalang dalam proses taubat.

Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa dengan meniatkan sisa harta riba untuk sedekah kepentingan umum, Allah akan mengampuni pokok-pokok harta yang didapat dari riba dan yang telah lalu dimaafkan.

4. Meningkatkan Amalan Sholeh

Memperbanyak amal sholeh seperti sedekah, infak, dan ibadah lainnya adalah bentuk perbaikan diri yang penting. Dengan beramal sholeh secara konsisten, seseorang menunjukkan bahwa ia benar-benar telah bertaubat dan berusaha mendekatkan diri kepada Allah.

5. Memperbaiki Kehidupan Secara Keseluruhan

apakah dosa riba bisa diampuni
Source image: canva.com

Taubat tidak hanya sebatas pada tindakan menjauhi riba, tetapi juga mencakup perbaikan hidup secara keseluruhan. Ini berarti memperbaiki akhlak, meningkatkan ibadah, dan menjauhi segala bentuk maksiat lainnya.

Penutup

Meskipun dosa riba adalah pelanggaran berat, Allah subhanahu wa ta’ala adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Dengan bertaubat secara tulus, menjauhi praktik riba, dan memperbaiki amalan hidup, seseorang dapat berharap agar dosa-dosanya diampuni oleh Allah.

Pintu taubat selalu terbuka bagi mereka yang benar-benar ingin kembali ke jalan yang benar. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita dan memberkahi kita dengan ampunan-Nya serta menjamin surga bagi umat yang bertaqwa. Aamiin.

 

Agustus 3, 2024

Shalat adalah salah satu pilar utama dalam Islam. Karena kedudukannya yang sangat penting, shalat memainkan peranan penting dalam kehidupan seorang Muslim.

Dalam artikel ini, kita akan membahas secara rinci tentang pahala shalat berjamaah, baik yang dilakukan di masjid maupun di rumah, serta perbandingan pahala shalat berjamaah di tempat-tempat suci seperti Masjidil Haram.

Pahala Shalat Berjamaah Sebanyak Apa?

Pahala shalat berjamaah memiliki nilai pahala yang sangat besar. Rasulullah SAW bersabda :

“Shalat berjamaah lebih berharga 27 derajat dibandingkan shalat sendirian.” (HR. Malik, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa’i)

Hadits ini menjelaskan bahwa shalat berjamaah mendapatkan pahala yang jauh lebih besar dibandingkan shalat sendirian.

pahala shalat berjamaah
Source image: canva.com

Rasulullah SAW selalu melakukan shalat berjamaah di Masjid Nabawi selama beliau berada di Madinah, menegaskan pentingnya kebersamaan dalam beribadah.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Shalat berjamaah lebih bernilai dibandingkan shalat sendirian dengan tambahan dua puluh tujuh derajat. Ini karena setiap langkah menuju masjid meningkatkan derajat dan menghapus dosa. Selama di masjid, orang tersebut terus dianggap sedang beribadah, dan malaikat mendoakannya dengan doa, ‘Ya Allah, ampunilah dia.’” (HR. Bukhari, Muslim)

Hadits ini menjelaskan bahwa setiap langkah menuju masjid dihitung sebagai pahala shalat berjamaah, dan menunggu waktu shalat di masjid juga merupakan bagian dari ibadah yang bernilai tinggi.

Pahala Shalat Berjamaah di Rumah

Shalat berjamaah di rumah juga memberikan pahala, meski tidak sebesar jika dilakukan di masjid. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa pahala shalat berjamaah di masjid memiliki keutamaan 25-27 derajat lebih tinggi daripada shalat di rumah.

Namun, bagi mereka yang tidak bisa beribadah di masjid karena sakit atau perjalanan jauh, pahala yang diperoleh tetap sama dengan pahala jika mereka sehat dan berada di rumah.

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa hadits ini berlaku bagi mereka yang memiliki niat baik untuk melakukan shalat berjamaah tetapi terhalang. Pahala tetap diberikan meskipun mereka tidak dapat melaksanakan shalat di masjid.

Pahala Shalat Berjamaah di Masjid

1. Pahala Melangkahkan Kaki ke Masjid

Setiap langkah menuju masjid diberikan pahala khusus. Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang yang berjalan ke masjid, maka tiap langkah kakinya akan diberikan satu pahala, dihapuskan satu dosa, dan dinaikkan satu derajat oleh Allah SWT.” (Ibnu Majah, Muslim)

2. Pahala Menunggu Waktu Shalat

Jika Anda tiba di masjid sebelum waktu shalat dan menunggu dengan penuh kesabaran, Anda akan mendapatkan pahala shalat berjamaah yang besar. Rasulullah SAW mengatakan:

“Orang yang menunggu sholat di masjid diberi pahala seperti sedang sholat.” (HR. Bukhari)

3. Doa Malaikat

pahala shalat berjamaah di masjid
Source image: canva.com

Selama berada di tempat shalat, malaikat akan terus mendoakan orang tersebut dengan doa:

“Ya Allah, ampunilah dia, Ya Allah, ampunilah dia.”

Pahala Shalat Berjamaah di Masjidil Haram

Dalam buku Amalan Kecil Berpahala Besar: Meraih Keberkahan Hidup ala Rasulullah SAW yang ditulis oleh Ustadz Arif Rahman, diterangkan mengenai besarnya pahala shalat yang dilakukan di Masjidil Haram.

Hadits dari Jabir RA menjelaskan bahwa shalat di Masjidil Haram memiliki nilai pahala yang mencapai seratus ribu kali lipat dibandingkan dengan shalat di tempat lain. Rasulullah SAW bersabda:

صلاة في مسجدي أفضل من ألف صلاة فيما سواه من المساجد إلا مسجد مكة

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik daripada seribu shalat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram.” (HR. Bukhari dan Muslim)Bagian Atas Formulir

Hadits ini menegaskan bahwa walaupun shalat di Masjid Nabawi sangat mulia dan lebih baik dari pada seribu shalat di masjid lain, pahala shalat di Masjidil Haram tetap jauh lebih besar.

Penjelasan ini diperkuat oleh Syaikh bin Baz dalam Majmu’ Fatwa, yang menekankan bahwa pahala shalat berjamaah di Masjidil Haram melampaui pahala shalat di seluruh tempat di Tanah Haram, baik Makkah maupun Madinah.

pahala shalat berjamaah
Source image: canva.com

Dalam sebuah hadits lain yang terdapat dalam Shahih Sunan Ibni Majah, disebutkan:

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ

“Shalat di masjidku lebih utama dari seribu shalat di tempat lain, kecuali di Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram lebih utama dari seratus ribu shalat di masjid lainnya.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa shalat di Masjidil Haram memiliki keutamaan yang sangat besar, yaitu seratus ribu kali lebih baik dibandingkan shalat di masjid lain.

Sementara itu, shalat di Masjid Nabawi bernilai seribu kali lipat dibandingkan dengan shalat di tempat-tempat lain.

Sebagai gambaran, jika seseorang melakukan shalat lima waktu di Masjidil Haram selama sepuluh hari berturut-turut, pahalanya sebanding dengan shalat sejuta kali per hari atau bahkan lebih dari 2.777 tahun.

Oleh karena itu, sangat disarankan untuk memanfaatkan setiap kesempatan untuk beribadah di Masjidil Haram, karena keutamaan yang diberikan oleh Allah SWT sangatlah besar.

Agustus 1, 2024

Shalat merupakan salah satu dari lima rukun Islam dan menjadi kewajiban terbesar setelah syahadat. Setiap muslim diwajibkan melaksanakan shalat lima waktu, dan meninggalkannya tanpa alasan yang jelas adalah dosa besar.

Namun, banyak yang mengaku muslim tetapi tidak menjaga shalat mereka, bahkan ada yang meninggalkannya sama sekali. Mengapa ini terjadi? Salah satu penyebab utamanya adalah ketidaktahuan mereka tentang pentingnya shalat dalam agama Islam.

5 Dosa Meninggalkan Shalat Ini Pasti Bikin Taubat

Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Kitab Ash Shalah, para ulama sepakat bahwa dosa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar.

Dosa meninggalkan shalat bahkan lebih besar dari pada membunuh, merampas harta, berzina, mencuri, dan minum minuman keras

Dosa meninggalkan shalat wajib

Jika seorang Muslim meninggalkan shalat dengan sengaja, ia akan mendapat dosa besar dan Allah akan melaknatnya dengan balasan menemui Al Ghoyya.

dosa meninggalkan shalat
Source image: canva.com

Allah SWT berfirman dalam Surat Maryam ayat 59-60:

 فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui Al Ghoyya, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam : 59-60)

1. Dosa Meninggalkan Shalat Subuh

Shalat Subuh adalah salah satu dari lima shalat wajib dan dilaksanakan pada waktu yang sangat istimewa. Meskipun keutamaannya sangat besar, banyak orang yang masih sering lalai dalam melaksanakannya.

Dalam Al-Qur’an dan Hadis, dosa meninggalkan Shalat Subuh dijelaskan dengan tegas. Salah satu hadis menyebutkan bahwa:

“Barangsiapa meninggalkan shalat Subuh, maka ia kehilangan perlindungan Allah.”

Selain itu, ada riwayat yang menyebutkan bahwa meninggalkan Shalat Subuh satu kali setara dengan hukuman berada di neraka selama 30 tahun.

Mengingat satu hari di neraka sama dengan 60.000 tahun di dunia, maka satu kali meninggalkan Shalat Subuh berarti akan mendekam selama 60.000 tahun di neraka.

2. Dosa Meninggalkan Shalat Dhuhur

Dosa meninggalkan Shalat Dhuhur dianggap sebagai dosa besar dalam ajaran Islam. Bahkan, dalam beberapa riwayat yang dapat ditemukan dalam sumber-sumber hadis, dosa meninggalkan Shalat Dhuhur satu kali dapat dianggap setara dengan membunuh 1.000 orang Muslim. Hal Ini menegaskan betapa seriusnya pelanggaran ini dalam pandangan Islam.

3. Dosa Meninggalkan Shalat Ashar

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan pentingnya shalat Ashar secara khusus dalam sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ ، فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ

“Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka gugurlah amalannya.”

Beliau juga bersabda:

مَنْ فَاتَتْهُ صَلاَةُ العَصْرِ فَكَأَنَّماَ وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ

“Siapa yang terlewatkan shalat Ashar maka seakan-akan hilang keluarga dan hartanya.” [HR. Al-Bukhâri, no. 1537].

Hadis-hadis ini menunjukkan betapa pentingnya shalat Ashar. Dosa meninggalkan shalat Ashar secara sengaja memiliki konsekuensi yang sangat serius, karena dapat menyebabkan gugurnya amal dan dianggap sebagai pelanggaran besar.

Dalam pandangan beberapa ulama, meninggalkan salah satu dari shalat lima waktu juga dapat menyebabkan gugurnya amal seseorang dan dianggap sebagai bentuk kekafiran.

Meski demikian, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus menyebutkan shalat Ashar, menunjukkan bahwa ada keistimewaan tersendiri untuk shalat ini.

Jika tidak ada keistimewaan khusus, maka hukumnya akan sama dengan shalat lainnya seperti Zhuhur, Maghrib, Isya, atau Shubuh.

Namun, karena shalat Ashar memiliki keistimewaan khusus dalam hal hukuman dan dosa, maka menjaga shalat Ashar dengan baik menjadi sangat penting.

Seorang Muslim seharusnya menjaga seluruh shalat lima waktu pada waktunya, baik untuk pria maupun wanita. Meninggalkan satu shalat saja dapat dianggap seolah-olah meninggalkan semuanya.

dosa meninggalkan shalat ashar
Source image: canva.com

Dengan menjaga shalat lima waktu dan konsisten dalam pelaksanaannya, seseorang akan mendapatkan pahala yang besar.

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimîn rahimahullah menjelaskan hadits ini dengan mengatakan, “Di antara keutamaan khusus shalat Ashar adalah siapa saja yang meninggalkannya, maka amalannya gugur, karena shalat Ashar sangat agung.” [Fatâwâ Nur ‘alad Darb, 7/102].

4. Dosa Meninggalkan Shalat Magrib

Dosa meninggalkan sholat Magrib memiliki konsekuensi yang sangat berat dalam pandangan agama Islam. Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa satu kali meninggalkan sholat Magrib itu dosanya setara dengan berzina dengan orang tua sendiri.

Hal ini menunjukkan betapa seriusnya kewajiban menjalankan sholat Magrib. Sholat Magrib, sebagai salah satu dari lima waktu sholat wajib, memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim.

Dengan meninggalkannya, seseorang tidak hanya kehilangan kesempatan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga dianggap melakukan dosa yang sangat besar, yang dibandingkan dengan dosa besar seperti berzina.

Peringatan ini bertujuan untuk mengingatkan umat Islam tentang pentingnya konsistensi dalam menjalankan ibadah sholat sebagai bentuk ketaatan dan pengabdian kepada Allah.

5. Dosa Meninggalkan Shalat Isya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا في العَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوَاً

“Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada shalat Isya’ dan shalat Subuh, tentu mereka akan mendatanginya sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437)

Hadis ini menegaskan betapa besar keutamaan dari shalat Isya’ sehingga seandainya umat Islam menyadarinya, mereka akan berusaha mendatanginya meskipun dengan susah payah.

Selain itu, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga meriwayatkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً

“Tidak ada sholat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari sholat Subuh dan sholat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua sholat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657)

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa semua shalat terasa berat bagi orang munafik seperti yang disebutkan dalam firman Allah:

وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى

“Dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas” (QS. At Taubah: 54). Namun, shalat ‘Isya’ dan shalat Subuh lebih berat bagi orang munafik karena mereka enggan melaksanakannya, terutama di waktu-waktu yang tidak nyaman, seperti saat beristirahat di malam hari atau saat nikmatnya tidur di pagi hari (Fathul Bari, 2: 141).

Dengan demikian, kurangnya semangat untuk melaksanakan shalat Isya’bukan hanya menunjukkan kelemahan iman, tetapi juga mengindikasikan bahwa seseorang mungkin termasuk dalam kategori orang munafik, sebagaimana dijelaskan dalam hadis-hadis tersebut.

Dosa Meninggalkan Shalat Jumat

Shalat Jumat merupakan kewajiban yang sangat penting bagi setiap laki-laki Muslim yang baligh dan berakal. Hukumnya adalah fardu ‘ain, yaitu kewajiban individual yang harus dilaksanakan secara berjamaah pada hari Jumat.

dosa meninggalkan shalat jumat
Source image: canva.com

Dosa meninggalkan shalat Jumat tanpa alasan syar’i adalah pelanggaran serius dalam Islam dan dianggap haram. Rasulullah saw memberikan peringatan tegas mengenai hal ini dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ رَجُلاً يُصَلِّى بِالنَّاسِ ثُمَّ أُحَرِّقَ عَلَى رِجَالٍ يَتَخَلَّفُونَ عَنِ الْجُمُعَةِ بُيُوتَهُمْ

“Sungguh, aku ingin sekali memerintahkan seseorang mengimami salat di tengah masyarakat, kemudian aku akan membakar rumah mereka yang tertinggal dari salat Jumat.” (HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan betapa besarnya dosa meninggalkan shalat Jumat tanpa uzur. Rasulullah saw ingin umatnya menyadari bahwa shalat Jumat adalah kewajiban yang sangat penting dan tidak boleh dianggap enteng.

Dengan demikian, dosa meninggalkan shalat Jumat tanpa alasan menunjukkan pelanggaran besar terhadap ajaran Islam, dan merupakan indikasi dari ketidakpatuhan yang serius.

Penutup

Dengan memahami betapa besarnya dosa meninggalkan shalat, diharapkan kita dapat lebih disiplin dan konsisten dalam menjalankan ibadah shalat sebagai bentuk pengabdian dan ketaatan kepada Allah SWT.

Juli 31, 2024

Puasa sunnah adalah amalan sukarela yang dianjurkan dalam agama Islam. Meskipun tidak wajib seperti puasa Ramadhan yang merupakan salah satu dari lima rukun Islam, puasa sunnah sangat dianjurkan karena banyak manfaatnya.

Salah satu puasa sunnah yang sangat dianjurkan adalah puasa Senin Kamis. Sesuai namanya, puasa ini dilaksanakan setiap hari Senin dan Kamis.

Keutamaan Puasa Senin Kamis

1. Hari Ketika Amal Para Hamba Diperiksa

Puasa Senin Kamis memiliki keutamaan yang khusus karena hari Senin dan Kamis adalah waktu di mana amal perbuatan para hamba diperiksa oleh Allah.

Nabi Muhammad SAW memberikan contoh puasa Senin Kamis kepada umatnya karena pada hari-hari ini amal perbuatan kita dilaporkan kepada Allah. Hal ini berdasarkan Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:

“Amal-amal perbuatan itu diajukan (diaudit) pada hari Senin dan Kamis. Oleh karena itu aku ingin amal perbuatanku diajukan (diaudit) pada saat aku sedang puasa.” (HR Tirmidzi).

2. Hari Dibuka Pintu-pintu Surga

Allah SWT membuka pintu-pintu surga setiap hari Senin dan Kamis, sehingga puasa Senin Kamis menjadi salah satu cara untuk mendapatkan kemuliaan tersebut.

puasa senin kamis
Source image: canva.com

Setiap pekan, Allah membukakan pintu-pintu surga pada hari-hari ini bagi hamba-Nya. Hadits berikut menjelaskan hal ini:

“Maka diampuni dalam kedua hari itu setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, kecuali orang yang di antaranya dan saudaranya terdapat permusuhan. Kemudian dikatakan, lihatlah kedua orang ini hingga keduanya berdamai.” (HR Al Khatib, Muslim, Abu Daud, Nasa’i, At-Tarmidzi, dan Ibnu Hibban).

3. Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Menurut buku “Dahsyatnya Puasa Wajib & Sunah Rekomendasi Rasulullah” oleh Amirulloh Syarbini dan Sumantri Jamhari, hari Senin adalah hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Abu Qatadah RA menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa pada hari Senin, dan beliau menjelaskan bahwa hari Senin adalah hari istimewa:

“Itu adalah hari aku dilahirkan, diangkat menjadi Nabi, dan diturunkannya Al Quran (pertama kali).” (HR Muslim).

4. Hari Turunnya Al Quran

Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama dari Allah pada hari Senin. Dengan berpuasa pada hari ini, kita mengikuti sunnah Nabi SAW dan menunjukkan penghargaan terhadap hari yang penuh berkah ini.

Melakukan puasa Senin Kamis adalah cara kita untuk meneladani Nabi Muhammad SAW dan menyambut turunnya Al Quran dengan ibadah yang penuh berkah.

Do’a Niat Puasa Senin Kamis

niat puasa senin kamis
Source Image: canva.com

Doa Niat Puasa Hari Senin

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ يَوْمَ اْلِإثْنَيْنِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالىَ.

Nawaitu shouma ghadin yaumal itsnaini sunnatan lillahi ta’ala

Artinya: “Saya niat berpuasa besok hari Senin sunah karena Allah Ta’ala.”

Doa Niat Puasa Hari Kamis

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ يَوْمَ اْلخَمِيْسِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالىَ

Nawaitu shouma ghadin yaumal khomisi sunnatan lillahi ta’la

Artinya: “Saya niat berpuasa besok hari Kamis sunah karena Allah Ta’la.”

Jika Anda lupa membaca niat puasa Senin Kamis pada malam hari, jangan khawatir. Puasa ini merupakan puasa sunnah, sehingga niat dapat dibaca di siang hari, dari pagi hingga sebelum waktu dzuhur, asalkan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Tata Cara Puasa Senin Kamis

tata cara puasa senin kamis
Source image: canva.com

Puasa Senin Kamis hampir sama dengan puasa Ramadhan, dengan perbedaan utama pada niatnya. Berikut adalah tata cara pelaksanaan puasa senin kamis:

  • Waktu Puasa: Dimulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Selama waktu tersebut, Anda harus menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa.
  • Hari-hari yang Dilarang Berpuasa:
    • Hari Raya Idul Fitri (1 Syawal).
    • Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah).
    • Hari Tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah).
    • Separuh terakhir dari bulan Sya’ban, kecuali bagi yang sudah melazimkan puasa.
    • Hari yang diragukan (30 Sya’ban) saat ada kesaksian ru’yatul hilal yang tidak bisa diterima.

Catatan: Meskipun puasa Senin Kamis dapat dilakukan kapan saja, perhatikan bahwa puasa tidak diperbolehkan pada hari-hari yang diharamkan berpuasa.

Dengan mengikuti puasa Senin Kamis, Anda dapat mendapatkan keberkahan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.