Hi, How Can We Help You?
  • Makassar 90231, Sulawesi Selatan, Indonesia
  • Email: tazkiyahmandiri@gmail.com

Category Archives: Berita

Desember 14, 2019
Desember 14, 2019

MAKASSAR – Hari libur, Sabtu, 14 Desember 2019 dimanfaatkan keluarga besar PT Tazkiyah Global Mandiri untuk lebih memupuk kebersamaan. Mereka berkumpul di kantor untuk bertatap muka lebih intens sembari mengikuti pelatihan pengembangan diri.

Ini sesi lanjutan dari Sabtu pekan lalu. Trainer-nya masih sama, Novita Sutopo,
founder Growing Project. Novita juga dikenal sebagai dosen komunikasi dan manajemen, praktisi PR Marcom, serta trainer di berbagai lembaga startup.

Pelatihan dibuat sangat santai. Para karyawan berpakaian kasual, menyesuaikan momentum weekend.

IMG 20191214 081517 HDR Coto, Kelas Pagi, dan Big Goals 2020

Bahkan sebelum kelas pagi dimulai, mereka duduk bersama, menikmati sarapan coto. Manajemen smendatangkan langsung Daeng Ulla, pengasuh warung Makan! Coto & Pallubasa, yang berpengalaman lebih dari 20 tahun jualan di Makassar kemudian kini hijrah ke Maros. Coto disajikan layaknya di warung. Masing-masing bebas memilih campuran daging.

IMG 20191214 080421 HDR Coto, Kelas Pagi, dan Big Goals 2020

Presiden Direktur PT Tazkiyah Global Mandiri, Ahmad Yani Fachruddin menuturkan, suasana rileks seperti ini sudah jadi ciri khas di lingkungan kerja Tazkiyah. Tetapi bukan untuk bersantai semata. Sebaliknya, malah jadi kekuatan untuk mencapai Big Goals perusahaan.

“Tahun 2019 alhamdulillah sembilan Big Goals kita tercapai. Di 2020 berkembang lagi Strategic Goal-nya. Kami ingin menggapainya dengan riang gembira,” ujarnya saat membuka pelatihan.

Ahmad Yani menjelaskan, pelatihan ini dibuat selain untuk memacu semangat seluruh karyawan, juga untuk memberi pemahaman lebih mengenai job desk masing-masing.

“Gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan. Kita harus merencanakan semuanya dengan baik, agar produk dan layanan pun bisa predictable,” imbuhnya.

Tahun depan yang sisa dua pekan, Tazkiyah kembali menjadikan peningkatan mutu sebagai fokus. Standar Nasional Indonesia (SNI) yang sudah diraih untuk jasa umrah dan haji khusus bakal terus diterapkan. Dua penghargaan nasional SNI Award 2019 dan Raksa Nugraha Award 2019 pun masih jadi bidikan.

Tazkiyah tak cuma ingin memberi produk berkualitas untuk para jemaah, namun juga bergaransi. (fit-sur)

Desember 10, 2019

MADINAH – Standar pelayanan biro perjalanan umrah kepada jemaah tak cuma tertera di lembaran kertas akreditasi. Kemenag RI makin tegas. Pemantauan dan pengawasan dilakukan langsung ke Mekah dan Madinah.

Awal Desember ini, tim sudah turun. Dipimpin Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kemenag, M Arfi Hatim.

“Kami melakukan pengawasan kepada PPIU (Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah) dalam menyediakan pelayanan kepada jemaahnya, sesuai dengan standar pelayanan dan perjanjian paket yang telah disepakati dengan jemaah,” jelas Arfi Hatim di Madinah, akhir pekan lalu, dikutip dari situs resmi Kemenag.

Semua dipantau. Mulai dari pelayanan bimbingan manasik, akomodasi, konsumsi, transportasi, penyediaan petugas, dan perlindungan jemaah.

Arfi mengatakan bahwa standar pelayanan minimal yang ditetapkan dalam bimbingan manasik wajib diberikan PPIU kepada jemaah, baik saat keberangkatan, dalam perjalanan, dan selama berada di Arab Saudi.

Untuk pelayanan akomodasi di Mekah, wajib disediakan PPIU pada hotel-hotel yang berjarak paling jauh 1.000 meter dari Masjidilharam. Jarak hotel jemaah bisa lebih dari itu, namun wajib diberikan transportasi shuttle ke/dari Masjidilharam selama 24 jam.

Untuk hotel di Madinah, jemaah ditempatkan di wilayah markaziyah (paling jauh 650 meter dari Nabawi).

“Hotel-hotel yang ditempati jemaah minimal berbintang tiga,” tegasnya.

“Sementara untuk konsumsi di Arab Saudi, jemaah wajib diberikan sebanyak tiga kali makan dalam sehari dalam bentuk prasmanan,” lanjutnya.

Terkait layanan transportasi udara dari Tanah Air ke Arab Saudi dan sebaliknya, Arfi mengatakan bahwa jemaah harus mendapat layanan penerbangan langsung atau maksimal satu kali transit.  Sedangkan untuk transportasi darat, jemaah diangkut dengan bus yang layak, aman, dan nyaman. Jemaah juga wajib mendapatkan perlindungan, baik perlindungan sebagai warga negara saat berada di luar negeri, pelayanan kesehatan, dan asuransi.

“Standar pelayanan minimal ini kami cek untuk memastikan jemaah mendapatkan hak-haknya,” tandasnya.

Kasubdit Pemantauan dan Pengawasan Ibadah Umrah dan Haji Khusus, M Noer Alya Fitra, menambahkan, selain soal layanan, pemantauan juga dilakukan untuk memeriksa keberadaan Non-PPIU yang memberangkatkan ibadah umrah.

“Hasil pengawasan di lapangan, kami mencatat masih ada Non-PPIU yang difasilitasi oleh PPIU dalam memberangkatkan jemaah umrah. Hal tersebut melanggar regulasi, dan sesuai dengan amanah regulasi, kami akan tindak PPIU yang memfasilitasinya agar penyelenggaraan ibadah umrah menjadi lebih tertib dan aman,” papar Nafit.

Selain sebagai bagian dari pengendalian kualitas layanan dan penegakan regulasi, hasil pemantauan dan pengawasan ini menjadi salah satu bahan bagi penyempurnaan PMA tentang penyelenggaraan umrah. “Seiring dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah, maka regulasi turunannya harus disempurnakan dan disesuaikan dengan Undang-Undang baru tersebut,” tutupnya.

Presiden Direktur PT Tazkiyah Global Mandiri, Ahmad Yani Fachruddin menyambut baik langkah Kemenag tersebut.

“Tazkiyah konsisten dan komitmen untuk selalu terdepan dalam memenuhi standar yg ditetapkan pemerintah. Mulai dari undang-undang sampai kepada peraturan pemerintah dan turunannya,” ucap dia, Selasa, 10 Desember 2019. (fit-sur)

Desember 9, 2019

JAKARTA – Kementerian Agama RI melimpahkan pelaksanaan akreditasi kepada lembaga profesional. Sebelas lembaga pun sudah ditunjuk untuk mengakreditasi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU).

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Nizar merinci, lembaga yang mendapat mandat dari Kemenag adalah PT Tirta Murni Sertifikasi, PT Enhaii Mandiri 186, PT Trifos International Sertifikasi, PT Sucofindo, PT TUV Nord Indonesia, PT Intertek Utama Services, PT Mutuagung Lestari, PT Bureau Veritas Indonesia, PT Bhakti Mandiri Wisata Indonesia, PT Chesna, dan PT Inti Multima Sertifikasi.

“Penunjukan lembaga akreditasi ini merupakan amanat peraturan perundangan. Tugas LA PPIU ini akan mulai efektif per 1 Januari 2020. Sisa waktu yang ada, harus dimanfaatkan PPIU untuk menyiapkan diri,” ujar Nizar, dikutip dari website resmi Kemenag.

Kepada perwakilan LA PPIU, Nizar berpesan agar bekerja secara profesional dan amanah. “Kinerja lembaga akreditas akan terkait langsung dengan kredibilitas PPIU di mata masyarakat.”

Lantas, bagaimana kesiapan PT Tazkiyah Global Mandiri, PPIU kesayangan Anda? “Sangat siap,” ujar Presiden Direktur Ahmad Yani Fachruddin, Senin, 9 Desember.

Sejak Tazkiyah mulai dan kini telah menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI), imbuhnya, manajemen sudah terbiasa dengan proses audit. Dari mutu layanan hingga keuangan sekalipun.

“Anak-anak (karyawan) rutin diaudit. Baik oleh lembaga eksternal maupun auditor internal yang sudah kami latih khusus juga,” tambah Ahmad Yani.

Makanya terkait akreditasi oleh lembaga yang ditunjuk Kemenag, pihak Tazkiyah sudah mengirim surat. “Kami ingin menjadi PPIU pertama yang diakreditasi,” ucap pria yang dua pekan lalu menerima trofi SNI Award 2019 di Jakarta itu. Tazkiyah menjadi perusahaan perjalanan pertama yang mendapatkan penghargaan tertinggi pemerintah Indonesia untuk para penerap SNI tersebut.

Pihaknya menargetkan mendapat nilai akreditasi A. Artinya harus mendapatkan nilai antara 188 hingga 219. Akreditasi B memiliki rentang nilai 166-187. Akreditasi C 144-165. Sedangkan Akreditasi D di bawah 144 dan bakal membuat sebuah PPIU tak mendapat perpanjangan izin.

“Kami sudah melakukan simulasi internal dan nilai yang dicapai 203. Insyaallah bisa kami capai juga di akreditasi sesungguhnya,” tutur Adnan Syahruddin, Managing Director PT Tazkiyah Global Mandiri.

Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus M Arfi Hatim menyebut bahwa penunjukan LA PPIU merupakan peristiwa bersejarah karena baru kali pertama dilakukan. Selama ini, proses pembinaan dan akreditasi dilakukan oleh internal Ditjen PHU.

“Penunjukan LA PPIU ini juga merupakan puncak dari serangkaian upaya Kemenag untuk memperbaiki layanan PPIU sejak Mei 2018 atau setelah terbitnya PMA 8 Tahun 2018 yang mengamanatkan penunjukan pihak ketiga ini,” ujarnya. (fit-sur)

Desember 7, 2019

MAKASSAR – Bagi manajemen PT Tazkiyah Global Mandiri, aset terpenting adalah karyawan. Bukan barang-barang inventaris, bukan uang. Karyawan adalah orang-orang yang datang, bergabung, kemudian bersedia tumbuh bersama.

Makanya, dalam dua tahun belakangan, kata Presiden Direktur PT Tazkiyah Global Mandiri, Ahmad Yani Fachruddin, pengembangan kualitas sumber daya manusia menjadi program paling menonjol.

Silih berganti karyawan dikirim ke ruang-ruang pelatihan. Jakarta, Surabaya, dan kota-kota lainnya. Bahkan jika pelatihannya di Makassar, perusahaan kerap mengutus seluruh karyawan.

“Itu belum termasuk sesi-sesi training di kantor. Anak-anak (karyawan) juga kontinu mendapat pendampingan beberapa konsultan,” ujar Ahmad Yani, di sela pelatihan pengembangan diri di kantor Tazkiyah, Sabtu, 7 Desember 2019.

Pelatihan tersebut dibawakan oleh Novita Sutopo, founder Growing Project. Novita juga dikenal sebagai dosen komunikasi dan manajemen, praktisi PR Marcom, dan trainer di berbagai lembaga startup.

Dalam training tersebut, Novita yang punya basic penyiar itu sukses menyentuh jiwa para karyawan Tazkiyah. Hampir semuanya terjebak dalam haru ketika mendapat giliran bertestimoni soal kehidupan dan pekerjaan mereka.

Syaiful misalnya. Karyawan yang baru 8 bulan bekerja di Tazkiyah ini tidak kuat menahan air mata saat menceritakan motivasi kerjanya.

“Saya ingin bisa punya kemampuan untuk sering mudik ke Kendari. Semua keluarga saya ada di situ,” tuturnya.

Pelatihan akan berlangsung hingga sore. Waktu yang cukup untuk menggali potensi dan menaikkan semangat para karyawan. Agar siap menerjang kehidupan dan pekerjaan. Mulai dari Senin yang dekat ini, sampai seterusnya. (fit-sur)

Desember 6, 2019

MEKAH – Sudah sepekan lebih jemaah Tazkiyah Global Mandiri asal Palu, Sulawesi Tengah berada di tanah suci. Kini mereka di Mekah dan rata-rata sudah melaksanakan dua kali umrah dalam tiga hari terakhir.

Sabtu, 7 Desember 2019 besok, rombongan dijadwalkan bertolak ke tanah air. Usai makan siang meninggalkan Mekah menuju Jeddah, lalu terbang ke Singapura sebelum lanjut ke Makassar.

Namun, ada beberapa jemaah yang masih penasaran untuk satu hal; mencium Hajar Aswad, batu hitam di dekat pintu Kakbah.

Jumat dini hari waktu setempat atau Jumat siang waktu Indonesia, sejumlah jemaah yang janjian bertemu di pintu King Abdul Aziz, Masjidilharam, setelah salat Subuh. Mereka akan berjuang sama-sama untuk bisa mendaratkan kecupan di permukaan Hajar Aswad. Atau kalau cuma bisa menyentuhnya pun tak apa.

“Bagusnya habis salat Subuh kita coba sama-sama,” ujar Fatimah, salah seorang jemaah.

Mencium Hajar Aswad tidaklah termasuk rukun umrah. Namun, tetaplah sebuah sunah sebab Rasulullah saw pun pernah melakukannya, mencium batu yang menurut riwayat diturunkan dari surga itu.

Dan… tentu akan jadi kenangan yang indah jika sudah tiba di kampung halaman. Mengingat bagaimana perjuangan bisa mendekatkan diri kemudian menciumnya. Bukan tak mungkin aromanya akan terus terbawa-bawa (di pikiran). (fit-sur)