Hi, How Can We Help You?
  • Makassar 90231, Sulawesi Selatan, Indonesia
  • Email: info@tazkiyahtour.co.id

Blog

Juli 9, 2024

3 Tata Cara Mandi Junub yang Sah Sesuai Sunnah Rasulullah

Menjaga kebersihan dari hadats kecil dan hadats besar adalah salah satu syarat sah dalam melaksanakan ibadah, seperti shalat, itikaf di masjid, thawaf, menyentuh mushaf, dan lain-lain.

Menghilangkan hadats kecil dilakukan dengan wudhu, sedangkan untuk menghilangkan hadats besar dilakukan dengan mandi wajib atau mandi janabah, yang juga dikenal sebagai mandi junub.

Penyebab Mandi Junub

Seseorang dikatakan junub ketika mengalami salah satu dari tujuh kondisi berikut:

a. Berhubungan Intim

Penyebab pertama mandi wajib adalah hubungan intim yang dilakukan oleh sepasang suami istri. Tentunya, hal ini adalah hal yang lumrah bagi suami istri.

Namun, mereka diwajibkan untuk mandi wajib setelah melakukan hubungan intim, sesuai dengan hadist Abu Hurairah yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seseorang duduk di antara empat anggota badan istrinya, lalu bersungguh-sungguh kepadanya, maka wajib baginya mandi.” (HR. Bukhari, no. 291 dan Muslim, no. 348)

b. Keluarnya Air Mani

Penyebab mandi wajib selanjutnya adalah keluarnya air mani. Hal ini tidak hanya terjadi saat berhubungan intim, tetapi juga saat sedang dalam keadaan syahwat, baik sadar maupun tidak sadar.

Keluarnya air mani sebagai penyebab mandi wajib disebutkan dalam Surat Al-Maidah ayat 6: “Dan jika kamu junub, maka mandilah.” (QS. Al-Maidah: 6)

c. Mimpi Basah

mandi junub
Source image: canva.com

Mimpi basah menjadi penyebab mandi wajib berikutnya. Mimpi basah sendiri adalah kondisi normal yang terjadi akibat perubahan hormonal.

Baca Juga:  Traveling Ke Luar Negeri? Berikut 7 Hal Yang Wajib Kamu Cek!

Hal ini disebutkan dalam hadist Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang yang mendapati basah namun tidak ingat bermimpi, hendaknya mandi.” (HR. Abu Daud, no. 236, Tirmidzi, no. 113, Ahmad, 6:256)

d. Keluarnya Darah Haid atau Nifas

Penyebab mandi wajib berikutnya adalah keluarnya darah haid atau nifas. Hal ini umumnya terjadi pada wanita, di mana menstruasi dan darah nifas merupakan kondisi alami yang diwajibkan untuk diikuti mandi wajibnya, sebagaimana disebutkan dalam hadist Bukhari dan Muslim.

e. Mualaf

Orang yang baru memeluk agama Islam disebut sebagai mualaf. Sebelum mereka dapat menjalankan ibadah seperti shalat, puasa, dan lainnya, mereka harus melakukan mandi wajib.

Hal ini disebutkan dalam hadist Qais bin ‘Ashim bahwa Nabi SAW memerintahkan seorang mualaf untuk mandi dengan air dan bidara.

f. Jenazah Penyebab mandi wajib terakhir adalah jenazah. Sebelum jenazah dishalatkan dan dimakamkan, ia harus diberikan mandi wajib terlebih dahulu, seperti yang dijelaskan dalam hadist Ummu ‘Athiyyah tentang tata cara memandikan jenazah.

Cara Mandi Junub Yang Benar

Mandi junub adalah bagian penting dalam menjaga kesucian diri dalam Islam, dilakukan setelah beberapa kondisi tertentu. Proses ini memastikan kita dalam keadaan suci sebelum melaksanakan ibadah seperti shalat dan membaca Al-Qur’an.

cara mandi junub
Source image: canva.com

Penasaran bagaimana cara mandi junub yang benar dan sesuai tuntunan agama? Berikut adalah tata cara mandi junub menurut Madzhab Syafi’i yang benar dan sesuai sunnah:

1. Niat Mandi Junub

Ada beberapa bacaan niat mandi junub sesuai dengan tujuannya, di antaranya:

a. Niat dan Doa Umum

Niat dan doa ini bisa digunakan oleh pria dan wanita untuk menghilangkan hadas besar.

Berikut niat dan doa umum:

Baca Juga:  Keutamaan dan 3 Adab Ketika Menjenguk Orang Sakit Sesuai Syariat Islam

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَكْبَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

Nawaitul ghusla liraf ‘il hadatsil akbari fardhal lillaahi ta’aala

Artinya: Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadas besar fardu karena Allah ta’ala.

b. Niat dan Doa Mandi Junub Setelah Haid

Haid atau menstruasi terjadi pada wanita dewasa. Ini adalah kejadian normal yang terjadi setiap bulan hingga menopause. Selama haid, wanita dilarang melaksanakan shalat dan puasa. Setelah masa haid berakhir, wanita harus melakukan mandi wajib agar bisa kembali beribadah.

Berikut niat dan doa setelah haid:

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ الْحَيْضِ ِللهِ تَعَالَى

Nawaitul ghusla liraf’i hadatsil haidil lillahi Ta’aala.

Artinya: Aku niat mandi wajib untuk mensucikan hadas besar dari haid karena Allah Ta’ala.

c. Niat dan Doa Mandi Junub Setelah Nifas

Nifas adalah keluarnya darah dari rahim wanita akibat melahirkan. Darah nifas biasanya keluar selama sekitar 40 hari. Selama masa nifas, wanita dilarang untuk shalat dan puasa.

Berikut niat dan doa setelah nifas:

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ النِّفَاسِ ِللهِ تَعَالَى

Nawaitul ghusla liraf’i hadatsin nifaasi lillahi Ta’aala.

Artinya: Aku niat mandi wajib untuk mensucikan hadas besar dari nifas karena Allah Ta’ala.

Perlu diketahui, Niat harus dilakukan bersamaan dengan saat air pertama kali disiramkan ke tubuh.

2. Mengguyur Seluruh Badan

Air harus mengalir ke seluruh bagian luar tubuh saat mandi wajib, termasuk rambut dan bulu-bulunya.

Untuk bagian tubuh yang berambut atau berbulu, pastikan air dapat mencapai kulit dan pangkal rambut/bulu sehingga semua najis terhapus.

3. Sunnah Mandi Junub

Selain hal-hal yang wajib, ada juga sejumlah kesunnahan yang bisa dilakukan dalam mandi janabah.

sunnah mandi wajib
Source image: kompas.com

Imam al-Ghazali dalam Bidâyatul Hidâyah secara teknis menjelaskan adab mandi junub dengan cukup rinci mulai dari awal masuk kamar mandi hingga keluar lagi.

  • Basuh tangan hingga tiga kali.
  • Bersihkan semua kotoran atau najis yang menempel di tubuh.
  • Lakukan wudhu secara sempurna.
  • Guyur kepala hingga tiga kali, sambil berniat menghilangkan hadats besar.
  • Guyur bagian kanan tubuh hingga tiga kali, kemudian bagian kiri juga tiga kali.
  • Gosok tubuh bagian depan dan belakang sebanyak tiga kali.
  • Selipkan jari di antara rambut dan jenggot (jika ada).
  • Pastikan air mengalir ke lipatan kulit dan pangkal rambut. Sebaiknya hindari menyentuh kemaluan. Jika terjadi, segera berwudhu lagi. Wallâhu a‘lam
Bagikan :