MADINAH – Subuh terakhir di Masjid Nabawi telah tiba bagi rombongan jemaah Tazkiyah Tour yang berangkat pada tanggal 10 Oktober 2019.
Momen ini menjadi sangat emosional bagi setiap anggota rombongan yang telah menghabiskan delapan hari terakhir di Madinah, salat fardhu sebanyak 40 kali dalam ibadah arbain di masjid ini, sebuah rutinitas yang sangat berarti dan mendalam bagi mereka.
Perjalanan Berkesan Rombongan Jemaah Umroh

Kota Madinah, dengan udaranya yang sejuk dan lingkungan yang damai, telah membuat mereka betah.
“Sedih sekali rasanya mau meninggalkan Madinah Al Munawarah yang penuh berkah,” ujar salah satu jemaah dengan mata berkaca-kaca.
Khususnya meninggalkan Masjid Nabawi, tempat dimana mereka telah menghabiskan waktu-waktu berharga, membuat perpisahan ini terasa lebih berat.
Senin, 14 Oktober 2019, menjadi hari yang penuh haru saat rombongan Tazkiyah Tour bersiap meninggalkan kota suci ini menuju Mekah.
Ustaz Muhammad Amin, pembimbing jemaah, mengingatkan semua untuk memanfaatkan momen perpisahan ini dengan sebaik-baiknya.
“Gunakan waktu yang tersisa untuk merenung dan berdoa,” pesannya.
Ketika saat keberangkatan tiba, doa dan zikir menggema di masjid.
“Assalamu alaika ya Rasulallah, assalamu alaika ya Nabiyallah, Assalamu alaika ya Habiballah… Sudah beberapa hari kami bersamamu di kota dan masjidmu ini. Sekarang tibalah saatnya kami meninggalkanmu dengan sangat berat. Semua demi melaksanakan perintah Allah yang lain,” kata Ustaz Amin, menyampaikan doa perpisahan yang penuh dengan harapan dan kerinduan.
Air mata bercucuran saat jemaah mengucapkan doa, berharap diberi kesempatan untuk kembali lagi ke Masjid Nabawi.
“Allahumma Yaa Allah.. janganlah jadikan kedatangan kami menziarahi Nabi dan Rasul yang Engkau sangat cintai, Muhammad SAW, sebagai kedatangan yang terakhir. Melainkan saya ingin datang berkali-kali dan berikanlah rezeki kepada kami. Begitu juga istri, anak-anak, dan sanak saudara kami, agar mereka bisa beruntung seperti kami,” tambah Ustaz Amin.
Menggunakan bus Qaid tipe terbaru, rombongan melanjutkan perjalanan mereka ke Mekah, dengan rencana mampir di Bir Aly untuk mengambil miqat umrah, melanjutkan perjalanan ibadah mereka.
Kesedihan menyelimuti saat jemaah meninggalkan masjid, memakai pakaian berlapis-lapis untuk menghangatkan tubuh di pagi yang dingin, dan membawa tas yang lebih ringan untuk memudahkan perjalanan ke bandara.
Suasana di mahtab, tempat sarapan, penuh dengan kesibukan dan persiapan. Jemaah bergandengan tangan, saling memberi semangat dan kekuatan untuk melanjutkan perjalanan ke Mekah.
Di lobi, teman-teman jemaah telah berkumpul, bersiap-siap untuk berangkat ke bandara.
Suhu dingin Madinah membuat pagi itu terasa lebih melankolis, namun kehangatan dari baju berlapis dan kebersamaan sesama jemaah membawa kehangatan tersendiri.
“Terasa hangat, dan saya siap membelah dinginnya kota Madinah pagi ini,” ungkap salah seorang jemaah sambil menyesuaikan lapisan bajunya.
Setelah semua pemeriksaan keamanan, jemaah diantar dengan bis menuju pintu pesawat.
Kesempatan mendapatkan tempat duduk di dekat jendela memungkinkan beberapa jemaah untuk menatap keluar, melihat suasana bandara, dan mengabadikan momen terakhir mereka di Madinah.
Sebagai rombongan jemaah meninggalkan kota suci, doa dan harapan dibisikkan dalam hati setiap jemaah, mengharapkan akan ada kesempatan lain untuk beribadah di dua tanah suci ini lagi, Makkah Al Mukarramah dan Madinah Al Munawarah.
“Semoga kami bisa diberikan kesempatan untuk kembali lagi,” harap salah seorang jemaah.
Pesawat meninggalkan tanah suci, membawa jemaah Tazkiyah Tour jauh dari Madinah menuju tanah air.
Setiap orang dalam rombongan itu merenung tentang pengalaman spiritual yang mereka alami.
Perjalanan ini bukan hanya sebuah perpindahan fisik dari satu kota ke kota lain, tetapi juga perjalanan hati yang mendekatkan mereka pada iman dan pemahaman yang lebih dalam tentang agama mereka.
Dalam getaran mesin pesawat dan kilauan terakhir sinar matahari di atas padang pasir, tersembunyi harapan dan doa untuk kembali.
Mereka meninggalkan Madinah dengan hati yang lebih berat namun semangat yang lebih kuat, membawa pulang kenangan dan pelajaran yang tak terlupakan.

Kebersamaan di Masjid Nabawi, zikir dan doa bersama, serta kehangatan rombongan yang mereka rasakan, telah memberi mereka perspektif baru tentang kehidupan dan spiritualitas.
Setiap langkah yang mereka ambil ke depan, diharapkan akan selalu diiringi dengan kasih dan tuntunan yang mereka peroleh selama di tanah suci.
Dan di suatu tempat di kedalaman hati setiap jemaah, ada janji yang tak terucap untuk kembali lagi, untuk sekali lagi merasakan kedamaian dan keagungan Madinah dan Mekah.



