Hi, How Can We Help You?

Blog

June 4, 2020

Kisah Keluarga Bugis dan Budaya Haji; Belum Berangkat Allah Sudah Gantikan Uangnya (2)

Anda sedang berada di lanjutan kisah sebuah keluarga Bugis dan cara pandangnya soal ibadah haji. Pada seri kedua ini kita disuguhi keajaiban-keajaiban yang mereka alami sebelum dan sepulang berhaji.

***

TIDAK pernah terbayangkan bagi Irmayanti menikah, hanya dua bulan setelah balik dari tanah suci kala itu, 2001. Awalnya dia menduga masih akan cukup lama berada di Pinrang, tinggal bersama orang tua. Tetapi memang jodoh di tangan Tuhan dan skenarionya tak pernah salah.

Satu keluarga besar datang melamarnya. Sebagian sudah dia kenal sebab menjadi teman sekamarnya saat berhaji. Puluhan hari mereka bersama di Madinah, Mekah, dan puncaknya di Arafah. Saling bantu dan menguatkan dalam menjalankan rukun Islam yang kelima.

Uniknya, justru sang calon suami yang belum dia kenal. Herman Sikkiri, nama lelaki itu, juga belum tahu nama gadis yang akan dipersuntingnya. Baru tahu beberapa hari sebelum ijab kabul.

Hingga hari mendebarkan itu datang juga. Keduanya resmi menjadi pasangan suami istri. Berjanji saling cinta dan menjaga, yang kelak benar-benar mampu mereka buktikan. Kini pernikahan mereka sudah berbuah tiga anak.

Mereka meyakininya sebagai salah satu keberkahan ibadah haji. Nyatanya, prosesnya memang bermula dari prosesi itu, walau Herman sendiri tak ikut berangkat saat itu.

Setelah menikah, mereka mulai berpikir merintis bisnis. Namun itu prioritas kedua. Apalagi Herman saat itu masih mengelola usaha hasil bumi peninggalan orang tua di dekat tol, bersama saudara-saudaranya.

Prioritas pertama adalah Herman berangkat haji juga. Uang tabungan yang sebenarnya cukup untuk memulai usaha sendiri, dikonversi ke ONH Plus, tahun 2006. Ada dua pendapat soal haji dan kesuksesan. Ada yang merasa harus sukses dahulu baru berhaji, ada juga yang mementingkan berhaji daripada kesuksesan materi. Herman condong di pendapat kedua.

“Sejak kecil saya melihat bapak dan ibu saya bersemangat bekerja karena terdorong untuk selalu ke tanah suci. Setelah haji, umrah lagi, lalu haji, umrah, seterusnya,” ujar Herman saat ditemui Tim Media Tazkiyah, akhir Mei lalu.

Kerinduan yang tak pernah habis pada Kakbah itu berkonsekuensi biaya. Tidak murah malah. Tetapi Herman juga mendapati bukti dari orang tuanya, kebutuhan hidup selalu saja terpenuhi. Dia dan delapan saudaranya bisa disekolahkan dengan baik dan bahkan diberangkatkan haji dan umrah juga.

Dari keluarga Irma juga begitu. Dia tumbuh dalam keluarga yang destinasi liburan utamanya bukan negara selain Arab Saudi. Liburan yang bukan sekadar menyegarkan raga, tetapi juga jiwa.

Itu juga yang membuat Herman dan Irma merawat tradisi itu, bahkan pelan-pelan menurunkannya lagi kepada ketiga anak mereka. Muh Ridwan (17 tahun), Riva Aulia Dwi Putri (16), dan Abdurrahman Saleh (10) sudah dibawa umrah. Dua di antaranya bahkan sudah didaftar Haji Khusus di PT Tazkiyah Global Mandiri.

Ramadan lalu keluarga ini merencanakan berpuasa di tanah suci, merasakan kembali nikmatnya berbuka dan tarawih di Masjidilharam dan Masjid Nabawi. Namun niatan terhalang wabah.

Keluarga ini juga semakin yakin menjadikan kerinduan selalu ke tanah suci tak membuat rezeki berkurang. Sebaliknya, bisa mengalir deras di luar hitung-hitungan matematika (sepulang dari berhaji itu, Herman merintis usaha sendiri di sekitar Pasar Terong, kini terus berkembang).

“Sudah cukup banyak pengalaman kami terkait itu. Sering juga uang yang sudah kami setor untuk umrah atau haji, malah sudah Allah ganti sebelum berangkat,” aku Irma yang pada hari wawancara itu mengenakan padanan gamis dan jilbab berwarna cokelat.

Mereka juga aktif mengampanyekan kepada rekan-rekan bisnisnya untuk rutin ke Mekah, paling tidak umrah sekali dalam satu atau dua tahun. Kadang-kadang mereka berangkat bersama-sama, membuat kelompok sendiri, dan sejak 2012 pilihan travelnya tak pernah lagi selain Tazkiyah. Rata-rata rutenya ditambah. Pernah ke Spanyol, Turki, Dubai.

Herman menceritakan kisah seorang temannya. Suatu hari beberapa tahun lalu temannya itu datang ke gudang berasnya, hendak menawarkan barang. Kebetulan saat itu Herman sedang kedatangan karyawan Tazkiyah untuk pelunasan pembayaran umrah.

“Teman melihat saya membayar dan saya spontan bilang ayo kita umrah sama-sama. Hari itu juga saya bayar untuk empat jemaah. Saya dan istri, serta teman itu dan istri,” kenangnya.

Tidak ada diskusi apakah uang yang ditalangi Herman itu harus dibayar. Herman pun sudah siap jika tak dibayar. Sebab dia tahu saat itu sang teman sedang dalam situasi sulit. Usaha jatuh dan rumah hampir dilelang.

Tetapi yang terjadi kemudian sungguh ajaib. Hanya dua hari setelah itu, sang teman datang membawa segepok uang. Dia dapat rezeki tak disangka. Akhirnya mereka berangkat tanpa beban.

Teman yang sama bahkan bisa pelan-pelan membangun lagi usahanya. Beberapa tahun lalu sudah berangkat haji juga. Prosesi pelunasan juga sempat ada drama. Sang teman kena tipu, uangnya dibawa lari seseorang. Namun mukjizat terjadi lagi, kedelai laku dan keuntungannya puluhan juta.

“Masih banyak lagi cerita unik nan ajaib semacam itu. Bukti bahwa Allah benar-benar menjamin rezeki kita jika yang dilakukan adalah kebaikan,” ujar Irma.

Sampai hari ini mereka tak pernah berhenti mengajak rekan-rekannya untuk menjadikan haji sebagai cita-cita utama dalam hidup, dan umrah sebagai perjalanan prioritas dari semua rencana keberangkatan.

Herman dan Irma bahkan berencana berangkat haji lagi. Mereka sudah mendaftar Haji Khusus via Tazkiyah, penawar kerisauan hati karena Ramadan lalu batal berumrah lantaran pandemi. Rindu mereka pada tanah suci layaknya lautan yang tak terlihat tepinya. (tmt/selesai)

Bagikan :