Hi, How Can We Help You?

Arsip Tag: haji Khusus

July 9, 2020

Kalau yang ini tidak jualan bubur, melainkan cendol. Tetapi perjuangannya tidak kalah heroik. Menguras air mata.

USAHANYA dimulai pertengahan 1990-an. Melihat peluang dari keluhan haus orang-orang di Pasar Limbung, Gowa, jika matahari sudah meninggi dan belum waktunya pulang.

Saharia Daeng Ngasseng sudah tidak begitu muda kala itu. Usianya 37 saat mulai memikul jualannya ke pasar. Sekadar untuk membantu suami mencari nafkah. Itu pun hanya tiga kali sepekan, mengikut jadwal pasar.

Semua berjalan baik. Daeng Asseng (dia lebih sering disapa begitu) selalu punya kas untuk menyalakan kompor dan memasak untuk makan keluarganya. Apalagi setelah dia juga buka lapak di depan kantor BRI Limbung. Tempat yang memungkinkannya berjualan setiap hari dengan waktu yang lebih panjang.

Tetapi bertahun-tahun menjajakan cendol tak membuatnya kaya. Harga per gelas atau per mangkuknya tidak bisa tinggi. Margin keuntungan begitu tipis. Makanya ketika terdengar bahwa Daeng Asseng punya niat pergi haji, banyak yang menertawai.

“Orang-orang dekat ji juga,” kenangnya, pekan lalu, kepada Tim Media Tazkiyah.

Kira-kira tahun 2007 saat keinginan itu muncul. Dia begitu antusias setiap mendengar orang berangkat haji. Seperti banyak orang, wanita kelahiran 1 Juli 1959 tersebut merindukan sesuatu yang bahkan belum pernah dia lihat sebelumnya, kecuali di foto dan sajadah; Kakbah.

Daeng Asseng termasuk berani memasang impian. Sebab tabungan pun tak punya. Makanya dia memutuskan ikut arisan.

“Nak, kalau arisanmu naik pergi mi berhaji.” Daeng Asseng masih ingat nasihat seseorang yang sudah dia anggap orang tuanya waktu itu.

Petuah yang bertekad dilaksanakannya. Hingga akhirnya nama dia keluar dari toples lot. Uang Rp27 juta dia terima dengan riang. Sudah memungkinkan untuknya mendaftar haji reguler. Namun dia ingin yang cepat berangkat.

Keinginan yang lagi-lagi memicu keheranan beberapa orang di sekelilingnya. Hanya jualan cendol namun bermimpi “ONH Plus”. Sebutan lama untuk haji khusus yang sampai sekarang masih sering dipakai orang-orang di kampungnya.

Daeng Asseng semakin bersemangat berjualan cendol. Di Pasar Limbung. Di depan kantor bank. Dan di bank itu jugalah dia memasukkan uangnya jika sudah cukup Rp2 juta hingga Rp3 juta.

Sampai terkumpullah Rp45 juta. Daeng Asseng mendatangi rumah orang tua angkatnya itu dan menyatakan kesiapannya untuk didaftar haji khusus.

H Sabar Dg Tau, mitra PT Tazkiyah Global Mandiri (Tazkiyah Tour) mengatakan padanya bahwa uang senilai itu sudah bisa daftar haji khusus. Pelunasannya nanti jika sudah akan berangkat.

“Jualan apa ki selama ini?” Daeng Asseng mengulang pertanyaan Sabar waktu itu.

“Cendol, Deng Ajji.”

Sabar untuk kesekian kali melihat bukti betapa panggilan haji itu tak berdasar saldo di tabungan atau besarnya rumah serta banyaknya emas di rumah. Tetapi lebih kepada siapa yang punya niat yang kemudian diusahakan dengan ikhtiar tak kenal lelah.

Dua tahun lalu, tukang cendol itu benar-benar berangkat ke tanah suci. Menjadi salah satu jemaah haji khusus Tazkiyah Tour.

Sering Menangis

Daeng Asseng mengaku masih sering menitikkan air mata jika mengingat semua perjuangannya. Bagaimana dia harus bangun sangat cepat setiap hari, membuat cendol, kemudian dia sendiri yang pergi menjajakan.

Tetapi yang perih bila dia mengenang cibiran beberapa orang kepadanya. “Dikatai orang miskin. Mau tong pergi haji padahal cendol ji na jual,” ucapnya.

“Bahkan ada yang bilang tidak mungkin bisa berangkat, sampai mati pun tidak bisa. Biar pun sampai capek memikul cendol keluar masuk pasar tidak mungkin bisa pergi ke Mekah karena kamu orang miskin.”

Dia mengaku hanya bisa bersabar mendengar semua perkataan itu. Tak ada perlawanan sebab Daeng Asseng tidak ingin suaminya sampai tahu. Sebab, sangat mungkin akan timbul masalah.

Satu-satunya perlawanan yang dia lakukan adalah berusaha sekuat tenaga. Kumpul uang, tabung lagi. Hingga akhirnya cukup untuk uang muka haji khusus.

Panggil Sayang

Kepada kami, Daeng Asseng mengaku tak pernah menemui tempat seindah Mekah. Di sana, dia merasakan kedamaian. Makan lahap, tidur cukup. Salat lancar dan khusyuk.

“Tidak ada waktu yang saya lewatkan,” ucapnya.

Dia pun sudah berdoa semoga keluarganya juga bisa menginjakkan kaki di tanah suci. Tempat yang bagi dia adalah surga dunia. Tempat yang masih ingin dia kunjungi lagi. Makanya dia terus bersemangat melanjutkan langkah sebagai penjual cendol.

Ada satu momen yang juga tak bisa dilupakan Daeng Asseng. Bagaimana dia harus menggunakan ponsel android padahal tak tahu cara pakainya. Setiap ingin menguhubungi suaminya di Gowa, dia minta tolong ke sesama jemaah.

“Cerita lucunya saya memulai obrolan dengan sapaan sayang,” ucapnya, tertawa. Bagi orang kampung seperti Daeng Asseng, menunjukkan rasa sayang memang lebih sering dilakukan daripada menyebut katanya.

Daeng Asseng kini sudah lebih banyak tersenyum. Lega sekali perasaannya sudah bisa berhaji. Apalagi sekarang usahanya dirasa semakin berkah. Laris dan bisa mencukupi semua kebutuhan keluarganya.

Nurlina Dg Kanang, anak Daeng Asseng, juga semakin bersemangat setelah melihat perjuangan ibunya. Dia melihat bukti bahwa siapa saja yang berusaha, Allah akan tunjukkan dan beri jalan.

Dan tak sekadar berusaha. Namun juga harus bersabar. “Saya sampai marah waktu mamak saya dihina. Malah mau datangi rumahnya orang itu. Tapi mamak melarang. Alhamdulillah kesabaran beliau berbuah manis,” ucap Nurlina.

Saat ibunya di tanah suci, Nurlina mengaku terus berdoa sambil menitikkan air mata. Dia membayangkan wajah wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya, berdoa juga di depan Kakbah. (tmt)

June 28, 2020
June 28, 2020

MAKASSAR – Tidak ada jemaah haji asal Indonesia tahun ini. Pandemi Covid-19 membuat banyak hal menjadi terbatas. Tetapi, kerja tim PT Tazkiyah Global Mandiri tak berhenti. Malah semakin sibuk.

Minggu, 28 Juni 2020, manasik haji perdana digelar. Ini merupakan awal menuju 40 seri manasik yang disiapkan untuk musim haji tahun depan.

Dua pembimbing utama Tazkiyah, Dr H Salahuddin Ayyub Fachruddin, Lc, MA dan H Herman Suparman membawakan materi manasik via Zoom. Tayang juga lewat siaran langsung di halaman Facebook dan channel YouTube resmi Tazkiyah.

Baca Lebih Lanjut

June 4, 2020

Anda sedang berada di lanjutan kisah sebuah keluarga Bugis dan cara pandangnya soal ibadah haji. Pada seri kedua ini kita disuguhi keajaiban-keajaiban yang mereka alami sebelum dan sepulang berhaji.

***

TIDAK pernah terbayangkan bagi Irmayanti menikah, hanya dua bulan setelah balik dari tanah suci kala itu, 2001. Awalnya dia menduga masih akan cukup lama berada di Pinrang, tinggal bersama orang tua. Tetapi memang jodoh di tangan Tuhan dan skenarionya tak pernah salah.

Satu keluarga besar datang melamarnya. Sebagian sudah dia kenal sebab menjadi teman sekamarnya saat berhaji. Puluhan hari mereka bersama di Madinah, Mekah, dan puncaknya di Arafah. Saling bantu dan menguatkan dalam menjalankan rukun Islam yang kelima. Baca Lebih Lanjut

May 31, 2020

Ini kisah tentang keluarga Bugis dan cara pandang soal ibadah haji. Tidak ada yang mesti dihitung terlalu lama untuk urusan yang satu ini.

***

HERMAN masih pengantin baru kala itu. Beberapa waktu sebelumnya nama seorang gadis Pinrang dia lafalkan dalam sekali tarikan napas di depan penghulu, wali, dan para saksi. Gadis yang belum terlalu lama dia kenal. Mereka mereguk indahnya pacaran setelah ijab kabul.

Tahun itu, 2006, Herman juga pelan-pelan menarik diri dari usaha jual beli hasil bumi peninggalan orang tua di seputaran tol. Bersama istri, Irmayanti, ia hendak mandiri. Merintis usaha dari nol. Jual beli hasil bumi juga.

Idealnya Herman membangun terlebih dahulu bisnisnya sebelum berpikir yang lain. Tetapi saat itu dia malah berangkat ke tanah suci. Bayarnya pun tidak murah. Sebab bersama kakaknya, Mursalim, ia memilih jalur ONH Plus. Baca Lebih Lanjut

1 2 3 9