Hi, How Can We Help You?
  • Makassar 90231, Sulawesi Selatan, Indonesia
  • Email: tazkiyahmandiri@gmail.com

Blog

Maret 15, 2024

Abdul Muthalib merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam. Tidak hanya dikenal sebagai kakek dari Nabi Muhammad SAW, Abdul Muthalib juga dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana.

Ada banyak sekali kisah yang terjadi selama masa kepemimpinan beliau, salah satunya sejarah penghancuran Ka’bah oleh pasukan Abrahah.

Bagi umat islam, penting untuk mengetahui sejarah islam termasuk kisah Abdul Muthalib. Pada artikel ini, kami akan membahas mengenai Abdul Muthalib mulai dari silsilah keluarga hingga masa kepemimpinannya.

Kisah Hidup Abdul Muthalib

Siapa Abdul Muthalib?, Syaibah bin Hasyim atau yang lebih dikenal dengan Abdul Muthalib, merupakan seorang pemimpin keempat dari suku Quraisy. Beliau adalah kakek dari Nabi Muhammad SAW.

Saat usianya mencapai 8 tahun, pamannya yang bernama Muthalib bin Abdu Manaf datang menemui dan memintanya untuk ikut bersamanya.

Awalnya, Salmah (ibu Abdul Muthalib) tidak menyetujui putranya pergi, begitupun Abdul Muthalib yang tidak ingin meninggalkan ibunya.

Muthalib pun menjelaskan kepada Salmah bahwa kehidupan di Mekah lebih baik daripada di Yatsrib. Setelah mendengarkan penjelasan dari Muthalib, akhirnya Salmah setuju untuk membiarkan Abdul Muthalib pergi.

Sejak saat itu, beliau diajak pergi ke Mekah dan dirawat oleh pamannya di sana.

1. Nama Asli Abdul Muthalib

Abdul Muthalib bernama asli Syaibah bin Hasyim. Nama “Syaibah” memiliki arti “kuno” atau “yang berambut putih”. Hal ini karena di rambut hitamnya terdapat garis putih. Beliau juga disebut Syaibah al-Hamd yang berarti “pemilik garis putih yang terpuji”.

Saat usia Syaibah menginjak 8 tahun, ia diajak oleh pamannya yang bernama Muthalib untuk tinggal bersama di Mekah. Saat itu, banyak orang yang menganggap Syaibah adalah budak (pelayan) dari Muthalib, sehingga orang-orang mulai memanggilnya Abdul Muthalib (pelayan Muthalib)

2. Silsilah Abdul Muthalib

abdul muthalib
source image: facebook kangen rasulullah saw

Silsilah keluarga Muthalib memang panjang. Ayah Abdul Muthalib bernama Hasyim bin Abdu Manaf yang merupakan nenek moyang dari Bani Hasyim, salah satu keturunan Quraisy di Mekah. Sedangkan ibunya bernama Salma binti Amr yang berasal dari Bani Najjr, klan suku  hazraj di Madinah.

Ayah beliau wafat sebelum beliau lahir. Saat itu, ayahnya sedang berbisnis di Syam. Setelah ditinggal ayahnya, beliau dibesarkan di Yastrib bersama dengan ibu dan keluarganya.

Beliau memiliki 5 orang istri. Dari istri-istrinya tersebut melahirkan 10 orang anak laki-laki dan 6 orang anak perempuan.

Berikut nama istri-istri Abdul Muthalib beserta dengan anaknya.

  • Nutailah binti Janab, melahirkan 2 orang putra bernama Al-Abbas dan Dhirar.
  • Halah binti Wuhaib bin Abdu Manat bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay, melahirkan 3 orang putra bernama Hamzah, Hajl, Al-Muqawwim, dan seorang putri bernama Syafiah.
  • Fathimah binti Amr bin Aidz bin Imran bin Makhzum bin Yaqadhah bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nahdr, melahirkan 3 orang putra bernama Abdullah, Abu Thalib (nama aslinya Abdu Manaf), Zubair, dan 5 orang putri bernama Ummu Hakim Al-Baidha, Atikah, Umaimah, Arwa, dan Barrah.
  • Samra binti Jundub, melahirkan seorang putra bernama Al-Harits.
  • Lubna binti Hajar bin Abdu Manaf bin Dhathir bin Hubsyiyyah bin Salul bin Ka’ab bin Amr Al-Khuza’i, melahirkan seorang putra bernama Abu Lahab (nama aslinya Abdul Uzza)

Muthalib kemudian memiliki seorang cucu bernama Muhammad, yang merupakan anak dari Aminah dan Abdullah. Aminah itu sendiri merupakan anak dari Barrah binti Abdul Uzza bin Utsman bin Abduddaar bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nahdr

3. Agama Abdul Muthalib

Berdasarkan sejarah, agama yang beliau anut adalah Abrahamic atau Agama Ibrahim. Hal ini dikarenakan tidak pernah terdengar kisah sejarah di dalam Al-Quran ataupun hadits yang mengungkapkan bahwa Abdul Muthalib menyembah berhala seperti kabilah lain.

Selain itu, beliau hidup hanya sampai Nabi Muhammad berusia 8 tahun dan belum menjadi rasul. Sehingga, beliau belum memeluk agama islam.

4. Anak Abdul Muthalib

anak2 abdul muthalib
Source image: Hops id

Beliau memiliki 10 orang anak laki-laki dan 6 orang anak perempuan yang dilahirkan dari ibu yang berbeda.

Berikut 10 anak laki-laki Abdul Muthalib.

  • Al-Abbas
  • Hamzah
  • Abdullah
  • Abu Thalib (nama aslinya Abdu Manaf)
  • Zubair
  • Al-Harits
  • Hajl
  • Al-Muqawwim
  • Dhirar
  • Abu Lahab (nama aslinya Abdul Uzza)

Berikut 6 anak perempuan Abdul Muthalib.

  • Shafiyyah
  • Ummu Hakim Al-Baidha
  • Atikah
  • Umaimah
  • Arwa
  • Barrah

3 Peristiwa Penuh Hikmah Abdul Muthalib

1. Abdul Muthalib Sebagai Penjaga Ka’bah

Pada tahun gajah atau tahun kelahiran Nabi Muhammad, beliau dipercaya untuk menjadi pemimpin Mekah dan menjaga Ka’bah. Pada masa kepemimpinannya, beliau menghadapi situasi dimana ia harus melindungi Ka’bah dari Raja Abrahah yang ingin menghancurkannya.

Saat itu, ada seorang raja besar dari Yaman bernama Abrahah yang merasa iri kepada Mekah dan Ka’bah, karena sering dikunjungi orang dari berbagai penjuru dunia untuk melaksanakan haji atau umrah.

Abrahah pun berusaha menandingi Mekah dengan membuat gereja megah di Yaman. Tujuannya agar orang-orang tidak berziarah ke Mekah dan beralih datang ke gerejanya. Orang Arab yang mendengar hal tersebut langsung marah dan merusak bangunan gereja milik Abrahah.

Abrahah yang mendengar gerejanya dirusak pun marah dan langsung mengumpulkan pasukannya untuk menghancurkan Ka’bah. Dia datang bersama dengan pasukannya dan dipimpin seekor gajah putih bernama “Mahmud”.

Beberapa suku di Arab berusaha untuk melawan Abrahah, namun tidak bisa karena kekuatannya yang besar. Bahkan Abrahan sempat merampok harta serta hewan ternak penduduk Mekah.

Ketika Abrahah ingin memasuki Mekah, ia mengirim seseorang dari Himyar untuk memberitahu Abdul Muthalib tentang keinginannya untuk menghancurkan Ka’bah.

Abdul Muthalib pemimpin Mekkah meminta semua orang untuk berlindung di bukit. Sedangkan Abdul Muthalib dan beberapa anggota kaum Quraisy tetap berada di lingkungan Ka’bah.

Abrahah kemudian mengirim seseorang untuk mengundang Abdul Muthalib mendiskusikan beberapa hal. Abdul Muthalib pun datang menemui Abrahah.

Abrahah mengatakan bahwa ia hanya ingin menghancurkan Ka’bah dan tidak berniat perang. Abdul Muthalib pun tidak menjawab dan hanya meminta Abrahah untuk mengembalikan 200 unta yang telah dia rampas.

Abdul Muthalib pada saat itu sudah pasrah. Ia berdiri di depan pintu Ka’bah sambil berdo’a kepada Allah SWT karena terlalu lemah untuk melindungi rumah Tuhan.

Saat itu, Abrahah dan pasukannya langsung bersiap untuk memasuki Mekah. Tidak disangka, pasukan gajah Abrahah tiba-tiba berlutut dan menghadap ke Mekah.

abdul muthalib bertugas sebagai penjaga
Source image: Alif id

Saat Abrahah dan pasukannya kebingungan, munculah segerombol burung yang membawa batu kecil dan menghujani pasukan Abrahah.

Setelah kejadian tersebut, hampir seluruh pasukan Abrahah tewas termasuk Abrahah. Dengan begitu, pasukan Abrahah pun gagal menghancurkan Ka’bah.

2. Abdul Muthalib Meninggal Pada Usia

Beliau lahir pada tahun 497 dan meninggal pada tahun 578. Menurut sejarawan, ada yang mengatakan beliau wafat di usia 80 tahun, ada juga yang mengatakan lebih dari 100 tahun. Hal ini disebutkan dalam kitab Al-Sirah Al-Halbiyah berikut:

توفي عبد المطلب وله من العمرخمس وتسعون سنة، وقيل مائة وعشرون، وقيل وأربعون

Artinya : Abdul Muththalib meninggal pada usia 95 tahun, sebagian mengatakan 110 tahun, sebagian mengatakan 140 tahun.

Beliau menjadi pengasuh Nabi Muhammad sejak ia berusia 6 tahun, tepatnya setelah ibu Nabi Muhammad meninggal.

Setelah 2 tahun mengasuh Nabi Muhammad, beliau pun wafat pada saat Nabi Muhammad berusia 8 tahun. Setelah ditinggal kakeknya, Nabi Muhammad diasuh oleh pamannya bernama Abu Thalib.

Makam Abdul Muthalib

Menurut para ulama’, beliau dimakamkan di Gunung Hujan yang ada di Kota Mekah. Makamnya bersebelahan dengan makam kakeknya, yaitu Qushay bin Kilab. Saat ini, Gunung  Hujan dikenal sebagai tempat pemakaman Jannatul Mualla di Mekkah, Arab Saudi.

3. Abdul Muthalib Masuk Surga atau Neraka

Abdul Muthalib, kakek dari Nabi Muhammad SAW masuk surga. Hal tersebut berdasarikan pada firman Allah yang mengatakan bahwa tidak ada azab kepada hambanya sebelum diutus rasul untuk datang.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S Al Isra ayat 15 yang berbunyi:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا…

Artinya : “Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (Q.S Al-Isra Ayat 15)

Dari ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah tidak akan memberi azab kepada seseorang sebelum diutus rasul untuk datang. Diketahui Muthalib hidup sebelum Nabi Muhammad lahir hingga usia Nabi Muhammad SAW 8 tahun.

Begitupun dengan ayahnya yang meninggal saat Nabi Muhammad di usia 2 bulan di dalam kandungan dan ibunya meninggal saat Nabi Muhammad SAW berusia 6 tahun.

abdul muthalib meninggal pada usia
Source Image: Arina id

Pada masa hidup Abdul Muthalib, Nabi Muhammad masih belum diutus menjadi rasul. Pada zaman tersebut masih belum masuk ajaran agama islam. Berdasarkan ayat Al-Qur’an di atas, maka beliau masuk surga.

Meski belum memeluk ajaran agama islam, beliau tidak melakukan hal musyrik. Beliau tidak menyembah berhala seperti yang dilakukan nenek moyangnya.

Penutup

Selain itu, beliau juga berperan penting dalam sejarah islam yaitu memimpin Mekah dan menjaga Ka’bah selaku rumah Allah SWT.

Meskipun beliau meninggal sebelum Nabi Muhammad menjadi rasul, namun kisah perjuangannya angat penting bagi sejarah islam.

Kepemimpinannya yang bijaksana serta rasa sayangnya kepada Nabi Muhammad menjadi sosok yang menginspirasi bagi umat islam. Tidak hanya di dalam sejarah agama islam, beliau juga menjadi tokoh penting bagi bangsa Arab pada zamannya.

Maret 15, 2024

Ada banyak sekali kisah inspiratif dalam sejarah islam yang memotivasi dan mengajarkan pelajaran berharga bagi umat muslim. Salah satunya kisah inspiratif tersebut datang dari Siti Hajar.

Seorang wanita yang memiliki ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi cobaan dari Allah SWT. Kisah Siti Hajar memberikan inspirasi dan motivasi bagi umat Muslim untuk memperkuat iman, tawakkal, dan kesabaran dalam menghadapi ujian hidup.

Pada artikel ini, kami akan membahas mengenai kisah inspiratif Siti Hajar dan perjuangannya menjadi seorang ibu.

Kisah Siti Hajar Dalam Al Quran

Siti Hajar merupakan sosok perempuan yang terkenal tangguh dan sabar. Ia merupakan istri Nabi Ibrahim AS. Sosok perempuan tersebut melahirkan seorang nabi yang meneruskan dakwah Nabi Ismail.

Meskipun tidak disebutkan secara jelas nama Siti Hajar dalam Al-Quran, namun terdapat sebuah ayat yang dikutip dalam Surat Ibrahim ayat 37 yang berbunyi:

َبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ

Artinya : Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (dan berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan salat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Ayat tersebut sangat menggambarkan kisah Siti Hajar, Nabi Ismail, dan Nabi Ibrahim.

siti hajar
Source Image: alif.id

Hal tersebut menggambarkan perjuangan Hajar yang ditinggal Nabi Ibrahim di sebuah lembah yang gersang tanpa ditumbuhi tanaman.

Dalam kisah tersebut diceritakan Siti Hajar yang berusaha mencari air untuk anaknya, Nabi Ismail hingga berlari dari Bukit Safa ke Bukit Marwah yang kini menjadi ritual Sa’i dalam rukun haji.

Siti Hajar Istri Nabi Ibrahim

Setelah menikah lama dengan Nabi Ibrahim, Sarah (istri Nabi Ibrahim AS) masih belum memiliki keturunan.Kemudian, Sarah menyarankan Nabi Ibrahim AS untuk menikah lagi dengan Siti Hajar.

Sarah melihat bahwa Siti Hajar merupakan perempuan yang sholeh, baik, dan bijaksana, sehingga ia merasa Hajar cocok untuk Nabi Ibrahim AS.

Kemudian, Nabi Ibrahim merenungi saran dari Sarah dan meminta petunjuk kepada Allah SWT. Hingga akhirnya, Allah SWT memberikan petunjuk kepada Nabi Ibrahim AS untuk menikahi Hajar.

Setelah Siti Hajar dan Nabi Ibrahim AS menikah, mereka dikaruniai seorang anak bernama Ismail.Nabi Ibrahim AS pun sangat senang memiliki seorang anak. Semua orang tahu bahwa beliau sangat sayang kepada anaknya. Tetangga Nabi Ibrahim pun banyak yang memuji Siti Hajar.

Sarah yang mulanya biasa saja mendengar pujian tetangga kepada Hajar dan berniat baik lama kelamaan pun cemburu.

Hingga akhirnya, Sarah mengusulkan kepada Nabi Ibrahim AS agar Hajar dan Sarah tidak satu rumah lagi. Kemudian, Nabi Ibrahim AS pun meminta petunjuk kepada Allah SWT.

Akhirnya, Allah SWT memberi perintah kepada Nabi Ibrahim AS untuk membawa Siti Hajar pindah dari Palestina ke Mekah.

Kisah Siti Hajar Ditinggal Nabi Ibrahim

Setelah mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk pindah, Nabi Ibrahim AS pun membawa Siti Hajar  dan Nabi Ismail yang masih bayi untuk menuju ke tempat yang  diperintahkan oleh Allah.

Mereka bertiga menempuh perjalanan dengan berjalan kaki selama 1 bulan. Hajar pun tidak pernah bertanya kepada Nabi Ibrahim mengenai tujuan mereka. Ia hanya taat dan percaya sepenuhnya kepada Nabi Ibrahim AS.

Setelah sampai di sebuah lembah Bekkah (dekat dengan Baitullah), Nabi Ibrahim mengatakan bahwa tujuan mereka telah sampai.

Kisah Siti Hajar Ditinggal Nabi Ibrahim
Source Image: kumparan

Di tempat yang tandus, kering, dan tidak ada satupun tumbuhan itu, Nabi Ibrahim AS berkata “Disinilah rumah kedua kita”. Nabi Ibrahim AS, Hajar, dan Ismail pun tinggal di sebuah rumah tua dari dahan kayu yang mengering.

Setelah tiga hari tinggal di tempat tersebut dengan persedian makanan dan minuman seadanya, Nabi Ibrahim AS mengatakan bahwa beliau harus kembali ke Palestina.

Hajar pun bertanya kepada Nabi Ibrahim AS, “Ya Ibrahim, mengapa engkau meninggalkan kami disini?”. Tanpa sepatah kata apapun, Nabi Ibrahim AS berjalan dan pergi meninggalkan Siti Hajar dan Ismail.

Setelah berjalan cukup jauh, Hajar bertanya lagi kepada Nabi Ibrahim AS, “Apakah Allah yang memerintahkanmu wahai suamiku?”. Nabi Ibrahim AS pun berhenti dan menjawab “Benar”.

Setelah itu, Siti Hajar pun menjawab dengan kata-kata yang menyentuh, “Kalau begitu, pergilah engkau wahai suamiku, Allah tidak akan mengecewakan kami”.

Setelah itu, Nabi Ibrahim AS pun pergi meninggalkan Siti Hajar bersama dengan Ismail.

Kisah Siti Hajar dan Anaknya Ismail

Setelah kepergian Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar berusaha bertahan hidup di tempat yang tandus tersebut. Dia menggendong Ismail dan bertahan melawan panasnya cuaca di siang hari dan dinginnya malam.

Siti Hajar melihat seluruh wilayah tersebut. Tidak ada satupun sumber kehidupan di sana, yang ada hanyalah gurun yang panas dan gersang.

Kisah Siti Hajar dan Anaknya Ismail
Source Image: indozone life

Namun, Siti Hajar percaya bahwa Allah tidak akan meninggalkannya sendiri dan pertolongan Allah pasti akan datang kepada hambanya. Hajar dan Ismail ditinggal oleh Nabi Ibrahim AS selama 13 tahun lamanya. Setelah itu, Nabi Ibrahim mendatangi Ismail dan Siti Hajar.

Meskipun sudah lama tidak bertemu, Nabi Ibrahim dan Ismail tetap akrab dan memiliki hubungan yang baik. Hal ini tidak lain karena ajaran Hajar yang tidak pernah menjelekkan Nabi Ibrahim AS di depan anaknya meskipun dia tidak pernah muncul di kehidupannya.

Kisah Siti Hajar Mencari Air

Hari pertama Hajar ditinggal oleh Nabi Ibrahim AS, ia masih bisa bertahan dengan ketersediaan air serta makanan yang dimiliki. Hingga akhirnya ia pun kehabisan air dan Ismail menangis karena kehausan. Siti Hajar panik dan berusaha untuk mencari air.

Ia pun berlari menaiki bukit dan menuruni lembah demi mendapatkan air untuk Ismail. Hajar tidak tega mendengar tangisan dari Ismail yang kehausan.

Siti Hajar Berlari Dari Bukit Shafa ke Marwah

siti hajar
Source Image: indoxone life

Demi mendapatkan air, Hajar kemudian meninggalkan Ismail dan berlari-lari kecil menuju ke Bukit Shafa hingga ke Bukit Marwah. Di tengah kegelisahannya, Hajar pun terus berdoa kepada Allah SWT dengan hati yang luruh agar memberikan pertolongan kepadanya.

Permintaan Hajar kepada Allah SWT ia lakukan sebanyak 7 kali sambil ia terus bolak balik di tempat yang sama. Namun, ia masih tidak menemukan air untuk diberikan kepada Ismail.

Siti Hajar Air Zam Zam

Ketika Hajar sampai di Bukit Marwah untuk mencari air, tiba-tiba suara tangisan Ismail sudah tidak terdengar lagi. Ia takut bahwa telah terjadi sesuatu yang buruk kepada Ismail.

Akhirnya, Hajar langsung berlari ke arah Ismail. Saat itu, ia melihat ada seorang laki-laki bertubuh gagah dengan memakai jubah dan sorban putih yang sedang memberikan minuman kepada Ismail.

Ternyata, seseorang tersebut adalah malaikat Jibril utusan Allah SWT. Saat itu, Siti Hajar tidak mengetahui bahwa orang tersebut adalah malaikat. Ketika ia berlari mendekati Ismail, malaikat tersebut langsung menghilang.

Siti Hajar pun melihat Ismail menghentakkan kakinya di tanah yang gersang. Tanpa di duga, muncul air yang deras dari hentakan kaki Ismail.

Tanpa pikir panjang Siti Hajar langsung memberikan air tersebut kepada Ismail. Sumber mata air dari kaki Ismail tersebut kini disebut dengan Air Zamzam.

Sejak saat itu, air zam-zam menjadi sumber mata air hingga muncul peradaban di tempat tersebut. Sumber mata air tersebut sangatlah bersih dan tidak pernah kering. Air Zamzam kini menjadi sumber air minum bagi para jamaah haji yang datang ke Mekah.

Hikmah Kisah Siti Hajar

Hajar dikenal karena sosoknya yang cantik, baik, bijaksana, dan penuh kesabaran. Ia juga taat beribadah kepada Allah SWT dan pantang menyerah.

Dari kisah perjuangan Hajar mengajarkan bahwa seorang perempuan harus kuat, sabar, dan tidak putus asa dalam menjalani segala rintangan di kehidupan.

siti hajar
Source Image: alamtara istitute

Meskipun dihadapkan pada situasi yang sulit dan penuh ketidakpastian, Hajar mengajarkan pada kita untuk tetap tegar dan selalu tawakkal kepada Allah SWT.

Kisah Siti Hajar menjadi sejarah ritual Sa’i saat pelaksanaan haji. Sa’i menjadi rukun haji yang wajib dilaksanakan oleh para jamaah haji dengan cara berlari-lari kecil dari Safa ke Marwah sebanyak 7 kali.

Hal ini menggambarkan perjuangan Hajar yang berusaha untuk mempertahankan hidupnya serta hidup anaknya. Kisah Hajar adalah contoh nyata tentang seorang ibu yang penuh kasih sayang kepada anaknya, hingga ia rela berlari-lari di gurun pasir demi mencari sumber air.

Bahkan, hasil perjuangan Hajar kini bermanfaat bagi miliaran orang di dunia. Ia juga berhasil mendidik anaknya hingga menjadikan Nabi Ismail dengan sifat yang lembut dan taat kepada Allah SWT.

 

Maret 14, 2024

Wukuf merupakan salah satu rukun haji yang wajib dilakukan oleh jamaah. Selain memiliki sejarah, wukuf juga mengajarkan nilai-nilai dan makna tertentu.

Wukuf dianggap sebagai waktu yang sangat mustajab untuk berdoa dan menjadi kesempatan bagi jamaah haji untuk memohon ampun dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Lalu, bagaimana tata cara wukuf dan apa saja do’a yang dipanjatkan saat wukuf? Berikut penjelasan selengkapnya.

Apa Itu Wukuf

Wukuf berarti “berdiam diri” dan merupakan salah satu rukun haji yang dilaksanakan dengan berdiam diri di padang Arafah dalam keadaan ihram.

Pada saat wukuf, jamaah disarankan untuk memperbanyak dzikir, istighfar, sholawat, serta do’a-do’a yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Selain itu, jamaah juga disarankan untuk memohon ampun atas dosa-dosa yang pernah dilakukan.

Sejarah Wukuf

Sejarah wukuf berawal pada zaman Nabi Ibrahim AS. Menurut sejarah, Nabi Ibrahim AS mendapat wahyu dari Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS.

Saat keduanya berada di Mina, Nabi Ibrahim AS mendapatkan godaan setan untuk tidak melaksanakan perintah Allah SWT. Kemudian, ia melempar batu ke arah setan tersebut untuk mengusirnya, sesuai dengan perintah Allah.

Setelah itu, Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS untuk membangun Ka’bah di Mekah. Setelah Ka’bah selesai dibangun, Allah SWT memberikan perintah kepada Nabi Ibrahim AS untuk memberitahu seluruh umat manusia agar datang melaksanakan haji.

wukuf
source image: Islam digest

Pada saat itu, Allah menetapkan Arafah sebagai tempat untuk wuquf dalam ibadah haji yang kemudian dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Dengan begitu wukuf di Arafah menjadi salah satu rukun haji yang wajib dijalankan oleh para jamaah.

Pada saat wuquf, jamaah berkumpul di padang Arafah sambil berdzikir, berdo’a, dan memohon ampun kepada Allah SWT. Wuquf juga dianggap sebagai moment dimana seluruh do’a akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Tata Cara Wukuf

Berikut tata cara wukuf di Arafah yang dilaksanakan oleh jamaah haji.

  1. Pertama, jamaah haji berangkat menuju ke Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah setelah matahari terbit.
  2. Setelah sampai di Arafah, jamaah bisa langsung menempati tempatnya masing-masing. Karena lokasinya terlalu luas, pastikan tempat yang akan dipakai wukuf adalah bagian dari Arafah. Jika bukan bagian dari Arafah, maka wukuf tidak sah.
  3. Kemudian, jamaah mendengarkan khutbah wukuf.
  4. Setelah khutbah selesai, jamaah melakukan sholat jama’ taqdim untuk Dzuhur dan Ashar.
  5. Jamaah melakukan wuquf di padang Arafah hingga terbitnya fajar di tanggal 10 Dzulhijjah.
  6. Terakhir, jamaah haji meninggalkan Arafah setelah matahari tenggelam.

Saat melakukan wuquf, ada beberapa hal yang dianjurkan untuk dilakukan oleh jamaah haji. Berikut beberapa anjuran bagi jamaah haji saat wuquf di Arafah.

  • Jamaah disarankan untuk banyak berdo’a, berdzikir, membaca Al-Quran, serta memohon ampun kepada Allah.
  • Perbanyak istighfar dan memohon ampunan atas segala dosa-dosa yang telah dilakukan. Wuquf ini menjadi momen terbaik untuk mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
  • Saat berdo’a dan berdzikir, jamaah haji disarankan untuk menghadap ke arah kiblat sebagai bentuk penghormatan kepada Allah SWT.
  • Jama’ah dianjurkan untuk membaca do’a khusus seperti do’a Nabi Muhammad SAW, do’a Nabi Ibrahim AS, do’a taubat, sapu jagat, do’a memohon ampun, dan do’a-do’a lainnya.
  • Menjaga kesabaran dan ketenangan saat melakukan wuquf. Meskipun wuquf cukup melelahkan dan menguras tenaga, jamaah perlu menjaga kesabaran dan ketenangan diri masing-masing serta menghindari pertengkaran.
  • Memberikan bantuan atau nasihat kepada sesama yang membutuhkan. Hal ini juga memberikan kesempatan bagi jamaah untuk menunjukkan rasa empati, kepedulian, serta kasih sayang terhadap sesama.

Sebelum berangkat haji, Anda bisa menulis dulu catatan mengenai hal-hal kurang baik apa yang pernah dilakukan.

Misalnya sering meninggalkan sholat, bacaan mengaji belum lancar, puasa masih belum konsisten, dan lain sebagainya. Selain itu, Anda juga bisa menulis hal-hal kurang baik dalam hubungan Anda dengan orang lain (baik dengan orang tua, istri, suami, saudara, dan sebagainya).

Semua hal-hal kurang baik yang Anda rasakan tersebut dicatat dalam sebuah catatan. Kemudian catatan tersebut Anda bawa saat wuquf dan meminta ampun atas semua hal buruk yang pernah Anda lakukan.

Dengan adanya catatan tersebut, Anda bisa jauh lebih khusyuk dalam meminta ampun kepada Allah SWT.

Doa Wukuf Di Arafah

kapan wukuf di arafah
Source Image: cnn indonesia

Berikut beberapa doa yang bisa Anda baca saat wukuf di Arafah.

  1. Do’a Untuk Meninggalkan Maksiat

اللَّهُمَّ انْقُلْنِي مِنْ ذُلِّ الْمَعْصِيَةِ إلَى عِزِّ الطَّاعَةِ وَاكْفِنِي بِحَلَالِك عَنْ حَرَامِك وَأَغْنِنِي بِفَضْلِك عَمَّنْ سِوَاكَ وَنَوِّرْ قَلْبِي وَقَبْرِي وَأَعِذْنِي مِنْ الشَّرِّ كُلِّهِ، وَاجْمَعْ لِي الْخَيْرَ إنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Latin: Allāhummanqulnī min dzullil ma’shiyati ilā ‘izzit thā’ah, wakfinī bi halālika ‘an harāmik, wa aghninī bi fadhlika ‘an man siwāk. Wa nawwir qalbī wa qabrī. Wa a’idznī minas syarri kullih. Wajma’ liyal khayr. Innī as’alukal hudā wat tuqā, wal ‘afāfa, wal ghinā.

Artinya: “Ya Allah, pindahkan aku dari rendahnya kemaksiatan ke kemuliaan taat. Cukupilah aku dengan halal-Mu dari barang haram-Mu. Genapilah diriku dengan kemurahan-Mu dari zat selain diri-Mu. Terangilah hati dan kuburku. Lindungilah aku dari segala bentuk kejahatan. Kumpulkanlah segala kebaikan pada diriku. Aku memohon kepada-Mu petunjuk, takwa, kecukupan, dan kekayaan.”

  1. Doa Pengakuan Dosa

اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيْرًا كَبِيْرًا وَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Latin : Allāhumma innī zhalamtu nafsī zhulman katsīran kabīran, wa innahū lā yaghfirud dzunūba illā anta, faghfir lī maghfiratan min ‘indik, warhamnī innaka antal ghafūrur rahīm.

Artinya: “Ya Allah, sungguh aku menganiaya diriku dengan penganiayaan yang banyak dan besar. Tiada yang mengampuni dosa selain Kau. Oleh karena itu, ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu. Kasihanilah aku, sungguh Kau maha pengampun lagi penyayang.”

  1. Doa Sapu Jagad

اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Latin : Allāhumma rabbanā ātinā fid duniya hasanah, wa fil ākhirati hasanah, wa qinā ‘adzāban nār

Artinya: “Ya Allah, Tuhan kami, berikanlah kebaikan kepada kami di dunia dan kebaikan di akhirat. Lindungilah kami dari siksa neraka.”

  1. Doa Taubat dan Istiqomah

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً تَصْلُحُ بِهَا شَأْنِي فِي الدَّارَيْنِ وَارْحَمْنِي رَحْمَةً وَاسِعَةً أَسْعَدُ بِهَا فِي الدَّارَيْنِ وَتُبْ عَلَيَّ تَوْبَةً نَصُوْحًا لَا أَنْكُثُهَا أَبَدًا وَأَلْزِمْنِي سَبِيْلَ الاِسْتِقَامَةِ لَا أَزِيْغُ عَنْهَا أَبَدًا

Latin : Allāhummaghfir lī maghfiratan tashluhu bihā sya’nī fid dārayn, warhamnī rahmatan wāsi’atan as’adu bihā fid dārayn, wa tub ‘alayya taubatan nashūhā lā ankutsuhā abadā, wa alzimnī sabīlal istiqāmah lā azīghu ‘anhā abadā.

Artinya: “Ya Allah, ampunilah aku dengan ampunan yang membuat maslahat urusanku di dunia dan akhirat. Berikanlah aku rahmat-Mu yang luas di mana aku dapat bahagia di dunia dan akhirat. Bimbinglah aku dalam taubat nasuha yang mana aku takkan melanggarnya lagi selamanya. Ikatlah aku di jalan istiqomah yang mana aku takkan menyimpang darinya selamanya.

Kapan Wukuf Di Arafah

apa itu wukuf
Source image: detikcom

Wukuf di Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah, tepatnya 1 hari sebelum hari raya kurban. Jika ada jamaah haji yang terpaksa masuk ke Arafah pada tanggal 8 Dzulhijjah, maka jamah tersebut bisa menunggu hingga waktu wukuf tiba di tenda masing-masing.

Meskipun sebentar, jama’ah haji harus hadir di Arafah untuk melaksanakan wuquf pada tanggal 9 Dzulhijjah tersebut.

Berapa Lama Wukuf Di Arafah

Wukuf di Arafah dilaksanakan sejak tanggal 9 Dzulhijjah (setelah matahari tergelincir) hingga tanggal 10 Dzulhijjah (saat terbitnya fajar). Jamaah yang ingin melaksanakan wuquf tidak diharuskan untuk berdiam diri di Arafah sepanjang waktu tersebut.

Jika jamaah tidak bisa wukuf di siang hari, maka bisa dilakukan di malam hari pada tanggal 9 Dzulhijjah. Dan ibadah hajinya tetap sah.

Batas Akhir Wukuf Di Arafah Ditandai Dengan

Batas akhir wuquf di Arafah ditandai dengan menyembelih hewan kurban pada tanggal 10 Dzulhijjah.

Wukuf di Arafah dilaksanakan hingga tanggal 10 Dzulhijjah sebelum terbitnya fajar. Setelah itu, jamaah melaksanakan sholat id dan menyembelih qurban. Oleh sebab itu, menyembelih kurban menjadi tanda bahwa wukuf sudah selesai.

Setelah Wukuf Di Arafah Jamaah Haji Menuju

Setelah wuquf di  Arafah selesai, jamaah kemudian menuju ke Muzdalifah dan mengumpulkan kerikil untuk lempar jumrah di Mina. Setelah mengumpulkan kerikil dari Muzdalifah, jamaah kembali ke Mina untuk melakukan lontar jumrah dan menyelesaikan rangkaian ibadah haji lainnya.

Itulah sejarah, tata cara, do’a, serta waktu pelaksanaan wukuf di Arafah selama ibadah haji. Bagi calon jamaah haji, Anda bisa memahami tata caranya serta mempersiapkan do’a-do’a wukuf. Dengan persiapan yang baik, Anda bisa menjalankan ibadah haji dengan lebih khusyuk.

Maret 13, 2024

Haji dan Umrah menjadi salah satu ibadah utama bagi umat islam. Tidak sekadar ibadah saja, haji dan umrah juga memiliki hikmah yang mendalam dan memberikan dampak positif bagi orang yang melakukannya.

Bahkan, hikmah haji dan umrah bagi umat islam yang dirasakan oleh orang yang melakukan yaitu dapat mengubah perspektif hidupnya. Apa saja hikmah haji dan umrah? Berikut ini penjelasan secara lengkapnya.

Tiga Hikmah Haji dan Umrah

3 hikmah haji dan umrah memiliki manfaat dari segi rohani, ekonomi, dan politik yang dapat mengubah perspektif seseorang terhadap hidup. Hikmah haji dan umrah perlu ditekankan untuk mengukur tingkat ketaatan semua manusia kepada tuhannya.

Haji dan umrah mengajarkan pada semua umat manusia bahwa Tuhan maha penyayang dan adil kepada manusia yang mau menaati-Nya. Haji merupakan pengalaman yang membuat seseorang merasakan kedekatan dengan Allah SWT.

Saat melaksanakan haji dan umrah, jamaah haji akan fokus untuk melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Ibadah haji dan umrah yang dilakukan dengan ikhlas untuk mencari ridha Allah, maka balasannya tak lain adalah surga.

hikmah haji dan umrah
Source Image: detikcom

Jika di sebutkan tiga hikmah haji dan umrah maka berikut ini tiga hikmah haji dan umrah dari aspek rohani, ekonomi, dan politik.

1. Hikmah Haji dan Umrah dari Aspek Rohani

Pelaksanaan haji dan umrah mengedepankan perdamaian dan keselamatan. Hal ini dikarenakan orang yang melaksanakan haji berasal dari ras, suku, gender, usia, dan latar belakang yang berbeda-beda.

Semua orang berkumpul bersama dalam sebuah tempat untuk berdzikir dan beribadah kepada Allah SWT. Dalam melaksanakan haji dan umrah, jamaah akan merasakan kedekatannya dengan Allah SWT.

Jamaah akan menghilangkan fokus keduniaan serta ego mereka untuk fokus beribadah. Hal ini membuat para jamaah merasakan bahwa tidak ada penghalang antara dirinya dengan Allah, sehingga menimbulkan rasa yang tenang, damai, dan berserah.

Ibadah haji dan umrah juga menjadi bentuk kepatuhan umat muslim kepada Allah SWT. Melaksanakan ibadah haji dengan khusyuk dan ikhlas dapat meningkatkan iman dan taqwa seseorang yang melakukannya.

Tidak hanya itu, perjalanan yang penuh tantangan dan melelahkan membuat para jamaah belajar tentang kesabaran dan kerendahan hati.

Oleh sebab itu, ketakwaan sangat dibutuhkan dalam melaksanakan haji dan umrah. Tanpa ketakwaan, seseorang akan mudah emosi hingga menyebabkan perbedaan pendapat.

Ketakwaan yang dimiliki seseorang dapat mencegah terjadinya pertikaian yang mungkin disebabkan oleh beberapa hal seperti perbedaan suku, budaya, hingga bahasa.

Ibadah haji juga menjadi dasar untuk memperkuat ikatan dengan Allah SWT. Ibadah haji dan umrah itu sendiri dilaksanakan di Mekah, tempat suci umat islam. Hal ini dapat membantu seseorang untuk memahami makna dari ibadah itu sendiri.

hikmah haji dan umrah
Source Image: umroh.com

2. Hikmah Haji dan Umrah dari Aspek Ekonomi

Pada dasarnya, semua ibadah seperti sholat, zakat, puasa, hingga haji akan lebih bernilai jika setelah menjalankan ibadah tersebut memunculkan ketakwaan pada diri seseorang.

Untuk menunaikan haji, ketaqwaan pada diri seseorang akan diuji saat mereka memiliki kekayaan dan kelimpahan rezeki. Melaksanakan ibadah haji berkaitan erat dengan kekayaan dan ketaqwaan.

Setiap muslim yang ingin berangkat haji harus mempersiapkan bekal baik materi serta ketaqwaan. Hal ini tercantum pada Q.S Al-Baqarah ayat 197 yang artinya:

“..Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” (QS al-Baqarah: 197)

Ibadah haji juga berkaitan erat dengan ekonomi. Pelaksanaan haji dan umrah tidak lepas dari transaksi jual beli, peminjaman, titipan, hingga transaksi keuangan seperti travel dan biaya antar negara.

Semua transaksi ekonomi tersebut bisa berjalan dengan ketakwaan yang dimiliki seseorang. Tidak hanya bagi pelaksananya, ibadah haji dan umrah juga memiliki dampak ekonomi bagi para pedagang.

Mereka semua menyiapkan kebutuhan yang diperlukan bagi jamaah haji ataupun kepentingan ekonomi lainnya. Hal ini membuktikan bahwa ibadah haji memberikan gambaran tentang urusan agama tidak selalu bertentangan dengan akhirat.

Selama aktivitas dunia yang dilakukan tidak mengganggu rukun dan wajib haji, maka hal tersebut boleh dilakukan. Ibadah haji dan umrah juga menjadi ujian bagi seseorang.

Hal ini bisa dilihat dari banyaknya oknum yang tidak jujur dalam pengelolaan biaya haji dan merugikan bagi orang lain. Kesalahan ini tentu berkaitan dengan tingkat ketaqwaan seseorang.

3. Hikmah Haji dan Umrah dari Aspek Politik

Hikmah haji dan umrah juga dapat dirasakan dari aspek politik. Hal tersebut terlihat dari urusan administrasi negara dalam pelaksanaan haji.

Pelaksanaan ibadah haji membutuhkan persiapan yang cukup kompleks dan dukungan dari berbagai pihak yang terjadi melalui politik.

Tanpa adanya kerja sama politik, pelaksanaan haji dan umrah tidak bisa terlaksana dengan baik. Pada jaman dulu, perjalanan haji dilaksanakan menggunakan alat transportasi pelayar untuk jalur perdagangan.

Hal ini berkaitan erat dengan masuknya islam di Indonesia dan menjadi faktor bermulanya perjalanan haji di Indonesia.

Meskipun belum diketahui siapa orang Indonesia yang pertama kali berangkat haji, namun diketahui orang tersebut adalah para pedagang, utusan sultan, musafir, dan para pencari ilmu.

hikmah haji dan umrah
Source Image: muslimah news

Selain itu, hikmah haji dan umrah pada umat islam pada umumnya yaitu menjadi momen semua muslim dari seluruh dunia berkumpul di sebuah tempat, yaitu Mekah.

Semua orang dari berbagai latar belakang tersebut harus mentaati aturan serta kebijakan yang telah ditentukan di Arab Saudi, selaku negara tempat pelaksanaan haji.

Penutup

Hal ini menjadi bukti bahwa hikmah haji dan umrah adalah bukti persatuan seluruh kaum muslim di seluruh dunia. Ibadah haji menjadi sebuah kegiatan yang mempersatukan seluruh umat muslim dan meningkatkan rasa persaudaraan.

Pelaksanaan haji tidak sekedar perjalanan menuju ke tanah suci untuk beribadah, namun  banyak sekali hikmah yang bisa diambil. Dalam kenyataannya, pelaksanaan haji tidak lepas dari aspek luar seperti politik dan ekonomi.

Dengan melaksanakan ibadah haji dan umrah, seseorang bisa memahami hikmah haji dan umrah  yang terkandung di dalamnya dan meningkatkan pandangan hidup serta kedamaian hidupnya.

Maret 12, 2024

Uwais Al Qarni merupakan seorang pemuda yang hidup pada zaman Nabi Muhammad SAW. Dia terkenal akan ketaatannya kepada Allah SWT dan ibunya.

Perilaku Uwais Al Qarni menjadi salah satu contoh teladan bagi seluruh umat islam dan menjadikannya sebagai tokoh inspirasi.

Bagi Anda yang ingin mengetahui kisah Uwais Al Qarni dengan lengkap, silahkan baca pembahasannya di bawah ini.

Biografi Uwais Al Qarni

Uwais Al Qarni merupakan seorang pemuda miskin yang tinggal di Yaman.

Uwais adalah anak yatim yang sudah lama ditinggal wafat oleh ayahnya.Ia tinggal di sebuah rumah sederhana bersama dengan ibunya. Kesehariannya, Uwais Al Qarni merawat ibunya yang sudah tua dan sering sakit-sakitan.

Ibu Uwais sudah lumpuh dan pandangannya sudah mulai kabur.Uwais bekerja sebagai seorang penggembala kambing untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan menafkahi ibunya.

Meskipun sibuk, ia tetap taat beribadah kepada Allah SWT. Ia rajin melakukan puasa dan bermunajat kepada Allah SWT.

Sebenarnya, Uwais adalah pemuda  yang tampan. Matanya biru, rambutnya merah, dadanya bidang, dan kulitnya kemerah-merahan. Namun, ia memiliki penyakit sopak yang membuat warna kulitnya tidak merata.

Selain itu, ia hanya memiliki dua lembar pakaian saja yang membuat tampilannya sangat kumal.

Penduduk di sekitarnya tidak ada yang peduli dan tidak pernah menghiraukannya. Bahkan karena miskin dan hidupnya tidak jelas, ia sering menjadi bahan olokan dan tertawaan orang-orang.

Siapa Uwais Al Qarni

Uwais Al Qarni sebenarnya merupakan seorang wali Allah. Ia sangatlah sholeh. Setiap kali dia mengangkat tangan untuk berdo’a kepada Allah SWT, pasti semua do’anya akan dikabulkan.

Namun, tidak ada seorang pun yang mengenal dia sebagai wali Allah sampai di hari wafatnya.

Semua perkataannya mungkin tidak didengar oleh manusia di bumi. Tapi setiap zikir dan do’a dari Uwais Al Qarni selalu didengarkan oleh para penghuni langit.

Karena itulah, Rasulullah SAW menjuluki Uwais Al Qarni sebagai pemuda yang tidak dikenal oleh penduduk bumi tetapi sangat dikenal oleh para penduduk langit.

uwais al qarni
Source Image: hayatun tour

Menurut Rasulullah SAW, kelak pada hari kiamat dimana orang-orang yang ahli ibadah sudah dipanggil satu-persatu untuk masuk surga, justru Uwais disuruh untuk menunggu di depan pintu surga.

Bukan karena tidak ada tempat baginya, melainkan ia diminta untuk memberikan syafaat bagi orang lain agar mereka bisa masuk surga.

Uwais Al Qarni Hidup Pada Masa

Uwais Al Qarni hidup satu zaman dengan Rasulullah SAW. Namun ia belum pernah bertemu dengan Rasulullah SAW.

Uwais tinggal di Yaman, sementara Rasulullah SAW tinggal di Madinah. Jarak antara Yaman dan Madinah kurang lebih 400 km.

Kisah Uwais Al Qarni

Ketika Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rasul, ajaran islam mulai menyebar ke seluruh jazirah Arab hingga sampai ke Yaman. Ajaran islam sangat menarik bagi Uwais Al Qarni hingga membuatnya masuk islam.

Saat itu, seluruh orang yang masuk islam pergi ke Madinah untuk mendengarkan nasehat langsung dari Nabi Muhammad SAW.

Nasehat nabi itu pun disebar luaskan ke Yaman, sehingga penduduknya bisa memperbarui kehidupannya sesuai dengan ajaran islam.

Pada saat itu, Uwais Al Qarni merasa sedih. Di lubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat ingin berjumpa dengan Rasulullah SAW.

Ia juga belum pernah melaksanakan ibadah haji. Hal tersebut dikarenakan ia tidak punya biaya untuk pergi ke Madinah. Selain itu, ia tidak mungkin meninggalkan ibunya seorang diri di rumah.

Suatu hari, Uwais memberanikan diri untuk berbicara kepada ibunya mengenai keinginannya untuk bertemu Rasulullah SAW. Sang ibu pun mengizinkan Uwais untuk pergi ke Madinah untuk menemui Rasulullah SAW.

Uwais pun mulai mengumpulkan bekal yang cukup dan menyiapkan semua keperluan ibunya. Setelah semuanya terpenuhi, ia meminta tolong kepada tetangganya untuk menjagakan ibunya.

uwais al qarni
Source Image: idn times

Singkat cerita, sampailah Uwais Al Qarni di Madinah. Ia pun mendatangi rumah Rasulullah SAW dan mengetuk pintunya.

Namun, yang membuka pintu bukanlah Rasulullah SAW, melainkan Aisyah Radhiyallahu Anha.

Uwais pun menyampaikan maksudnya untuk bertemu dengan nabi. Namun, saat itu nabi sedang pergi untuk mempimpin kaum muslimin berjihad di jalan Allah SWT.

Mendengar hal tersebut, Uwais Al Qarni sangat kecewa. Ia jauh-jauh datang dari Yaman demi bertemu dengan Rasulullah SAW yang ternyata gagal.

Sebenarnya, ia ingin menunggu kedatangan nabi. Namun ia teringat pesan ibunya untuk segera kembali ke Yaman setelah sampai di Madinah.

Karena Uwais mengkhawatirkan kondisi ibunya, ia pun kembali ke Yaman dengan perasaan dilema.

Hadist Tentang Uwais Al Qarni

Berikut ini hadits tentang Uwais Al Qarni.

  1. Berbuat baik kepada ibu

Ada sebuah hadits yang menyuruh kita untuk berbuat baik kepada ibu, berikut bunyinya:

نَّ اللَّهَ يوصيكم بأمَّهاتِكُم ثلاثًا، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بآبائِكُم، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بالأقرَبِ فالأقرَبِ

Artinya : “Sesungguhnya Allah berwasiat sebanyak 3 kali kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ayah kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerabat yang paling dekat kemudian yang dekat.” (HR. Ibnu Majah, shahih dengan sawahid-nya).

  1. Dikenal penduduk langit karena ketaatannya kepada ibu

إن خيرَ التابعين رجلٌ يقالُ له أويسٌ . وله والدةٌ . وكان به بياضٌ . فمروه فليستغفرْ لكم

Artinya : Sesungguhnya tabiin yang terbaik adalah seorang lelaki bernama Uwais, ia memiliki seorang ibu, dan ia memiliki tanda putih di tubuhnya. Maka temuilah ia dan mintalah ampunan kepada Allah melalui dia untuk kalian” (HR. Muslim).

  1. Ibu adalah orang yang paling layak mendapatkan perlakuan baik

الأم أحق الناس بحسن الصحبة

Artinya : Ibu adalah orang yang paling layak untuk mendapatkan perlakuan yang baik.

Cerita Uwais Al Qarni Tentang Berbakti Kepada Orang Tua

Suatu hari, ibunya mengatakan sebuah permintaan kepada Uwais bahwa ibunya ingin berangkat haji. Uwais pun langsung termenung mendengarkan permintaan ibunya.

Perjalanan dari Yaman ke Madinah sangatlah jauh. Dibutuhkan bekal yang cukup serta kendaraan. Sedangkan Uwais hanya pemuda miskin yang tidak punya apa-apa.

Akhirnya, Uwais memiliki jalan keluar. Ia membeli seekor anak lembu dan membuatkan kandang di puncak bukit.

Setiap pagi, Uwais bolak-balik menggendong lembu tersebut dari bawah ke puncak bukit. Bahkan orang-orang yang melihat tingkahnya sampai mengatainya gila.

Semakin hari, anak lembu Uwais semakin besar. Setelah 8 bulan berlalu, lembu Uwais sudah mencapai bobot 100 kg.Begitupun dengan otot Uwais yang semakin kuat.

Ternyata, Uwais membeli lembu tersebut untuk melatih ototnya agar kuat menggendong ibunya berangkat haji.

Uwais Al qarni Menggendong Ibunya Naik Haji

Setelah sampai di musim haji, Uwais pun berniat untuk memberangkatkan haji ibunya dengan cara menggendongnya. Selama ini, ia sudah melatih ototnya dengan cara menggendong lembu miliknya setiap pagi.

Uwais pun menggendong ibunya dan berjalan kaki dari Yaman ke Mekah untuk memberangkatkan haji ibunya.

Sungguh besar rasa cinta Uwais kepada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dengan medan yang sulit demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais pun menggendong ibunya untuk wukuf di Ka’bah. Sambil bercucuran air mata, Uwais dan ibunya berdo’a di depan Ka’bah.

uwais al qarni
Source Image: jala pantura

Ya Allah, ampunilah dosa ibu”, do’a Uwais di depan Ka’bah.

Ibunya pun bertanya, “Bagaimana dengan dosamu?”

Uwais pun menjawab pertanyaan ibunya dengan mengatakan bahwa dengan terampuni dosa ibunya, maka ibunya akan masuk surga. Uwais berkata bahwa ridha dari ibunya sudah cukup untuk membawanya ke surga.

Seketika itu, penyakit sopak yang diderita Uwais langsung sembuh. Hanya menyisakan bulatan putih di tengkuknya.Bulatan putih tersebut ternyata sebagai tanda untuk Umar bin Khatab dan Ali bin Abi Thalib mengenali Uwais.

Sebelumnya, Rasulullah SAW sudah berpesan bahwa ada seorang manusia dari Yaman yang do’anya sangat makbul.

Rasulullah SAW pun memerintahkan Umar bin Khatab dan Ali bin Abi Thalib untuk mencari Uwais dan meminta do’a kepadanya.

Uwais Al Qarni Meninggal

Setelah nabi Muhammad SAW wafat, Umar bin Khatab dan Ali bin Abi Thalib pun pergi mencari Uwais sesuai dengan perintah nabi.

Setelah bertemu Uwais, kedua sahabat itupun bersalaman dan membalik tangan Uwais untuk memastikan adanya tanda putih seperti yang dikatakan Rasulullah SAW. Dan ternyata orang tersebut memang Uwais yang mereka cari.

Umar bin Khatab dan Ali bin Abi Thalib pun senang melihat Uwais yang pernah dibicarakan oleh Rasulullah SAW. Kedua sahabat itupun meminta Uwais untuk berdo’a dan membacakan istighfar.

Kemudian, Umar bin Khatab dan Ali bin Abi Thalib berniat memberikan uang untuk Uwais. Namun ia menolaknya.

Uwais pun berkata bahwa cukup hari ini saja ia diketahui oleh orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah dia tidak diketahui oleh orang-orang lagi.

Setelah nama Uwais lama tidak terdengar, tiba-tiba muncul kabar bahwa Uwais Al Qarni telah wafat. Namun ada kejadian aneh saat wafatnya Uwais.

uwais al qarni
Source Image: ramadhan-republika

Meskipun ia tidak dikenali oleh orang-orang, tiba-tiba banyak orang yang berebutan ingin memandikan jenazahnya.Ketika Uwais dibawa untuk dipakaikan kain kafan, disana sudah ada orang-orang yang menunggunya.

Ketika jenazah Uwais akan disholatkan, sudah banyak orang yang akan mensholatkannya. Begitupun ketika jenazah Uwais akan dikubur, sudah ada orang yang menggali kuburnya hingga selesai.

Meninggalnya Uwais Al Qarni sangat menggemparkan masyarakat Yaman. Begitu banyak orang yang mengurus jenazah Uwais, padahal ia bukanlah siapa-siapa.

Bagaimana bisa seorang fakir miskin dan penggembala kambing yang tidak pernah dihiraukan masyarakat tiba-tiba didatangi oleh banyak orang dan mengurus pemakamannya hingga selesai.

Ternyata, orang-orang yang membantu pemakaman jenazah Uwais adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi oleh Allah SWT.

Dengan ketaatannya kepada Allah dan ibunya, Uwais Al Qarni tidak terkenal di bumi melainkan terkenal di kalangan penduduk langit.

Hikmah Cerita Uwais Al Qarni

Melalui cerita Uwais Al Qarni, terdapat beberapa hikmah yang bisa diambil. Berikut hikmah cerita Uwais Al Qarni.

  • Uwais sangat menunjukkan ketaatan kepada ibunya. Ia merawat ibunya dengan penuh kasih sayang dan selalu berusaha memenuhi seluruh keinginan ibunya.
  • Ketulusan dan kesederhanaan Uwais menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan seseorang tidak selalu dilihat dari materi. Meskipun ia seorang yang miskin dan sederhana, hatinya sangat tulus dan penuh kasih hingga membuatnya dikenal oleh penduduk langit.
  • Do’a dan pengampunan dari Allah SWT dan ridha dari orang tua dapat membawa berkah besar bagi kehidupan.

Kisah Uwais Al Qarni  menjadi teladan bagi seluruh umat manusia terutama dalam hal  berbakti kepada orang tua, hidup sederhana, serta ikhlas dan taat dalam beribadah kepada Allah SWT.

Semoga kita semua bisa mencontoh sifat teladan dari Uwais Al Qarni.