Hari-hari yang penuh dengan kegentingan kini menghampiri para jemaah haji, termasuk 208 jemaah haji khusus Tazkiyah Tour.
Dalam dua hari, mereka akan berangkat menuju Mina untuk memulai rangkaian puncak ibadah haji sebelum melanjutkan perjalanan ke Arafah dan Muzdalifah, yang merupakan bagian dari prosesi Armuzna yang sangat penting.
Persiapan Armuzna
Source Image: nasional.tempo.co
Di apartemen transit, petugas haji Tazkiyah Tour terus mengingatkan para jemaah untuk mempersiapkan diri dengan baik.
Salah satu pengumuman penting adalah jadwal keberangkatan ke Mina pada hari Jumat, 14 Juni 2024, pukul 10.00 waktu Saudi. Ini merupakan langkah awal dalam perjalanan Armuzna yang mendebarkan.
Tausiah dan Pembekalan dari Pembimbing Ibadah
Para pembimbing ibadah, seperti Ustaz Muhammad Amin Sahib dan Ustaz Mansurdin, bergantian memberikan tausiah, membekali jemaah dengan pengetahuan yang cukup untuk menghadapi puncak ibadah haji.
Persiapan yang matang sangat diperlukan, mengingat rangkaian Armuzna yang menuntut ketahanan fisik dan mental.
Persiapan Fisik dan Mental
Para petugas juga mengingatkan jemaah untuk menyiapkan perlengkapan mereka. Setiap jemaah disarankan hanya membawa dua tas: satu tas kecil untuk perlengkapan ibadah dan satu tas sedang untuk pakaian selama empat hari. Semua ini adalah bagian dari persiapan menyeluruh untuk menjalani Armuzna.
Jadwal Armuzna
Jadwal Armuzna (Arafah, Mina, dan Muzdalifah) sudah ditetapkan sejak pemerintah Arab Saudi menentukan 1 Zulhijah 1445 H jatuh pada 7 Juni 2024. Ini berarti wukuf di Arafah akan berlangsung pada Sabtu, 15 Juni 2024.
Petugas haji Tazkiyah Tour terus mengingatkan jemaah untuk tidak lupa membawa smart card atau kartu pintar Nusuk, yang esensial untuk proses Armuzna.
Kartu ini merupakan identitas resmi setiap jemaah haji dan diperlukan untuk berbagai keperluan, termasuk untuk naik bus menuju Arafah.
Setiap jemaah harus melalui proses scan atau pindai kartu tersebut sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah menyelesaikan wukuf di Arafah, para jemaah akan melanjutkan mabit di Muzdalifah dan kemudian Mina.
Selama berada di Mina, mereka akan melaksanakan prosesi melontar jumrah aqabah di Jamarat pada 10 Zulhijah.
Setelah prosesi ini, para jemaah diperbolehkan melakukan tahalul, yang memungkinkan mereka untuk melepas pakaian ihram dan berganti ke pakaian biasa.
Penyelesaian Ibadah Haji
Jemaah haji khusus dari Tazkiyah Tour memilih untuk mengikuti nafar tsani, yang berarti mereka akan kembali dari Mina pada 13 Zulhijah.
Dengan demikian, semua prosesi ibadah haji mereka akan selesai dengan baik, dan mereka siap untuk kembali dengan membawa pengalaman spiritual yang mendalam setelah menyelesaikan Armuzna dengan sempurna.
Menjelang puncak Haji, keamanan di Kota Mekah, khususnya di wilayah Aziziyah, diperketat. Para jemaah diwajibkan selalu mengenakan kartu Nusuk atau Nusuk card ke mana pun mereka pergi.
puncak haji 2024
Situasi di Aziziyah kini diawasi dengan sangat ketat menjelang puncak Haji. Polisi Arab Saudi berpatroli sepanjang hari dan mendirikan pos pemeriksaan di berbagai persimpangan jalan, termasuk di jalan Al Shidiq.
Source Image: Arab News
Penempatan patroli oleh Kepolisian Saudi di Aziziyah disebabkan oleh kedekatannya dengan Jamarat dan Mina, yang berjarak kurang dari 1 kilometer.
Jamarat dan Mina adalah lokasi penting bagi jemaah haji untuk melaksanakan rangkaian ibadah, seperti melempar jumroh di Jamarat dan bermalam di Mina.
Kehadiran kepolisian di Aziziyah juga bertujuan untuk mengidentifikasi jemaah dengan visa non-haji yang berada di wilayah tersebut, karena banyak apartemen yang dapat diakses untuk menuju ke Jamarat.
Source Image: gulfnews.com
Jemaah dengan visa non-haji ini berpotensi menempati apartemen di sepanjang jalan Al Shidiq.
Agar tidak menghadapi masalah dengan otoritas Kepolisian Saudi, para jemaah haji diminta selalu mengenakan identitas, baik identitas travel maupun kartu Smart card atau Nusuk card.
Kartu tersebut menjadi bukti legalitas bahwa mereka adalah jemaah haji yang terdaftar di Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi.
Tanpa kartu tersebut, jemaah haji tidak dapat memasuki wilayah Armuzna atau Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Saat ini, untuk memasuki Masjidil Haram pun diperlukan Nusuk card, mengingat kepadatan di sana.
Para Askar harus mengutamakan jemaah yang akan berhaji, sehingga penggunaan Nusuk card menjadi sangat penting dan harus selalu dibawa.
Saat musim haji tiba, suasana di sekitar Ka’bah menjadi semakin padat, bahkan lebih ramai dari pada musim umrah.
Namun, Masnawati dan rekan-rekannya dari jemaah haji khusus Tazkiyah Tour mengalami momen yang sangat berarti ketika berhasil mencapai Multazam meskipun harus melewati keramaian yang luar biasa saat melakukan tawaf.
Multazam Kabah
Multazam adalah bagian dari dinding Ka’bah yang terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah, dengan jarak sekitar 2 meter.
Multazam merupakan salah satu tempat mulia dan mustajab di Masjidilharam. Lokasi ini menjadi favorit dan sangat diincar untuk memanjatkan doa.
Keutamaan Doa depan multazam
Keutamaan doa di Multazam didasarkan pada hadis Nabi Muhammad saw.; “Multazam adalah tempat dikabulkannya doa. Apa yang diminta seseorang kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.”
“Alhamdulillah, tidak menyangka bisa sedekat ini dengan Ka’bah. Bisa berada beberapa menit juga di depan Multazam,” ujar Masnawati yang berasal dari Makassar.
Pada Minggu, 9 Juni 2014, sebanyak 208 jemaah haji khusus Tazkiyah Tour sudah memasuki hari ke-17 perjalanan spiritual mereka. Saat berita ini diturunkan, jemaah sedang bersiap meninggalkan Pullman Zamzam Hotel di Makkah untuk menuju apartemen atau rumah transit.
Rumah transit inilah yang akan ditempati para jemaah selama puncak ibadah haji di Armuzna; Arafah, Mina, Musdalifah.
Para jemaah akan fokus beribadah dan mempersiapkan diri di rumah transit selama empat hari sebelum bergerak menuju Mina pada Jumat, 14 Juni 2024.
Keesokan harinya, mereka akan berangkat ke Arafah untuk melaksanakan wukuf, inti dari ibadah haji, dengan berdiam di sana hingga Magrib tiba. Setelah itu, mereka akan menuju Musdalifah.
Selama menunggu keberangkatan ke Armuzna, para jemaah akan menjalani pemantapan manasik haji. Tim dokter juga akan memeriksa kesehatan para jemaah dengan lebih intensif.
Setelah hampir tiga pekan di tanah suci, inilah waktu-waktu terpenting, yaitu puncak ibadah haji. Oleh karena itu, pihak Tazkiyah Tour ingin memastikan seluruh jemaah dalam kondisi siap, baik fisik, mental, maupun spiritual.
Pada musim haji ini, Tazkiyah Tour mengusung tema Holistic Spiritual Journey. Perjalanan ibadah haji ini diharapkan menjadi pengalaman terindah bagi para jemaah, dengan merasakan ketenangan melalui berbagai ritual ibadah yang dilakukan.
Mereka pulang ke tanah air dengan predikat haji mabrur, yang merupakan puncak spiritual yang hendak dicapai.
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi akan menerapkan skema mabit di Muzdalifah dengan metode murur pada penyelenggaraan ibadah haji tahun 1445 H/2024 M.
Skema murur ini diterapkan sebagai upaya untuk menjaga keselamatan jemaah haji dari potensi kepadatan, mengingat terbatasnya area di Muzdalifah Mekkah.
Mabit di Muzdalifah dengan metode murur adalah bermalam yang dilakukan dengan cara melintas di Muzdalifah tanpa turun dari kendaraan, setelah menjalani wukuf di Arafah. Jemaah tetap berada di dalam bus yang akan langsung mengantar mereka menuju tenda di Mina.
Source Image: nabawimulia.co.id
“Tahun ini, kita akan menerapkan skema murur untuk mabit di Muzdalifah. Kebijakan ini diambil setelah mempertimbangkan potensi kepadatan di tengah terbatasnya area Muzdalifah,” jelas Direktur Layanan Haji Luar Negeri Subhan Cholid di Makkah, Rabu (4/6/2024).
“Skema murur ini merupakan ijtihad dan ikhtiar bersama untuk menjaga keselamatan jemaah haji Indonesia,” tambahnya.
Subhan mengungkapkan bahwa area yang disediakan untuk jemaah haji Indonesia adalah seluas 82.350 m2.
Kepadatan Jemaah di Muzdalifah Mekkah
Pada tahun 2023, area ini menampung sekitar 183.000 jemaah haji Indonesia yang terbagi dalam 61 maktab, sementara 27.000 jemaah lainnya (9 maktab) menempati area Mina Jadid. Akibatnya, setiap jemaah hanya mendapatkan ruang sekitar 0,45 m2 di Muzdalifah.
“Tahun ini, area Muzdalifah akan semakin padat karena Mina Jadid tidak lagi ditempati oleh jemaah haji Indonesia. Sebanyak 213.320 jemaah dan 2.747 petugas haji akan menempati seluruh area Muzdalifah, ditambah pembangunan toilet yang mengambil ruang seluas 20.000 m2. Sehingga, setiap jemaah hanya mendapatkan ruang sekitar 0,29 m2,” terang Subhan.
“Kepadatan ini berpotensi membahayakan jemaah, oleh sebab itu kita akan menerapkan skema murur saat mabit di Muzdalifah,” tegasnya.
Subhan menambahkan bahwa ini bukan hanya masalah yang dihadapi oleh jemaah haji Indonesia, tetapi juga oleh jemaah dari seluruh dunia. Sebagian besar jemaah haji dari Turki dan beberapa negara Afrika juga menggunakan skema murur.
Source Image: kemenag.go.id
Keputusan ini sejalan dengan hasil musyawarah Pengurus Besar Harian Syuriyah Nahdlatul Ulama yang menyatakan bahwa kepadatan di Muzdalifah dapat dijadikan alasan untuk meninggalkan mabit di Muzdalifah tanpa kewajiban membayar dam, karena kondisi berdesakan bisa menimbulkan bahaya.
“Menjaga keselamatan jiwa (hifdu an-nafs) saat jemaah haji saling berdesakan merupakan uzur untuk meninggalkan mabit di Muzdalifah,” ujar Subhan mengutip kesimpulan musyawarah Syuriah PBNU.
Penerapan Skema Murur
Subhan menjelaskan bahwa pergerakan jemaah haji Indonesia dari Arafah akan dibagi dalam dua skema: murur dan normal. Sekitar 25% dari jumlah jemaah dan petugas haji, atau sekitar 55.000 orang, akan menggunakan skema murur.
“Angka ini mencakup 27.000 jemaah yang sebelumnya menempati Mina Jadid, tambahan kuota 10.000, dan sekitar 18.000 yang terdampak pembangunan toilet di Muzdalifah,” kata Subhan.
Skema murur akan diprioritaskan untuk jemaah dengan risiko tinggi (risti), lanjut usia (lansia), disabilitas, serta pendamping lansia.
PPIH akan meminta petugas kloter untuk mendata jemaah yang akan diikutkan dalam skema murur sesuai kriteria dan jumlah yang ditentukan. Laporan tersebut akan diserahkan kepada petugas sektor dan dihimpun oleh petugas Daker Makkah.
“Skema murur akan dilaksanakan pada 9 Zulhijjah dari pukul 19.00 hingga 22.00 waktu Arab Saudi. Jemaah akan bergerak dari Arafah, melewati Muzdalifah tanpa turun dari bus, lalu langsung menuju Mina,” papar Subhan.
“Satgas Mina, yang dikelola oleh petugas Daker Makkah, akan bergerak dari Arafah ke Mina lebih awal, pukul 13.30 WAS pada 9 Zulhijjah, untuk menyambut kedatangan jemaah,” lanjutnya.
Pergerakan jemaah dengan skema murur dari Arafah ini akan dilakukan berdasarkan daftar nama jemaah yang sudah diusulkan. Mereka terdiri dari jemaah risti, lansia, disabilitas, dan pendampingnya.
“Jemaah akan berkumpul di pintu keberangkatan maktab di Arafah setelah Magrib untuk diberangkatkan melintas Muzdalifah dan langsung ke Mina,” sebut Subhan.
Source Image: kemenag.go.id
Untuk pergerakan jemaah dengan skema normal, sistem taraddudi dari Arafah ke Muzdalifah akan dimulai pukul 22.00 WAS, setelah proses pergerakan skema murur selesai.
Sebelum ditetapkan, Kementerian Agama telah melakukan pembahasan skema murur ini dengan otoritas Arab Saudi, termasuk pihak Masyariq dan Naqabah (Organda Saudi).
Pembahasan tersebut melibatkan Subhan Cholid dan Konsul Haji KJRI Jeddah, Nasrullah Jasam. PPIH Arab Saudi juga berkirim surat ke Kementerian Umrah dan Haji Arab Saudi.
Di Indonesia, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Hilman Latief melakukan safari ke sejumlah organisasi masyarakat, termasuk Majelis Ulama Indonesia dan Nahdlatul Ulama, untuk mendiskusikan skema murur.
Keuntungan Skema Murur
Source Image: kemenag.go.id
Subhan Cholid menjelaskan bahwa jemaah haji yang mengikuti skema murur didahulukan keberangkatannya dari Arafah untuk menghindari kepadatan dan masyaqqah yang lebih besar.
“Jemaah yang ikut dalam skema ini terdiri dari risti, lansia, dan disabilitas, sehingga keberangkatan lebih awal memberikan waktu yang lebih longgar untuk naik dan turun kendaraan, baik di Arafah maupun saat tiba di Mina,” jelas Subhan.
PPIH mendorong petugas kloter dan sektor untuk menyosialisasikan jadwal dan skema keberangkatan ini kepada jemaah. Konsultan dan pembimbing ibadah juga akan memberikan pemahaman mengenai skema murur ini kepada jemaah.
Penerapan skema murur bukan hanya langkah logistik, tetapi juga bentuk adaptasi terhadap dinamika yang terjadi dalam pelaksanaan ibadah haji.
Dalam konteks ini, keamanan dan kenyamanan jemaah menjadi prioritas utama, sesuai dengan prinsip-prinsip dasar dalam pelaksanaan ibadah yang harus memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan seluruh peserta.
Melalui pendekatan ini, diharapkan pelaksanaan ibadah haji di Muzdalifah dapat berjalan dengan lebih lancar dan teratur, tanpa mengurangi kekhusyukan dan nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.
Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi telah mengonfirmasi penangkapan delapan individu yang melanggar peraturan dan instruksi terkait ibadah haji ilegal. Mereka terbukti membawa sekelompok jemaah tanpa izin yang ditangkap oleh pasukan keamanan haji di gerbang masuk Makkah.
Menurut laporan dari kantor berita Saudi, SPA, pada Rabu (5/6/2024), tindakan tersebut mengakibatkan penangkapan tiga penduduk dan lima warga di gerbang masuk Makkah karena membawa 28 jemaah tanpa izin.
Hukuman Haji Ilegal
Otoritas dari Direktorat Jenderal Paspor kemudian mengambil tindakan administratif dengan menjatuhkan hukuman penjara selama 15 hari dan denda sebesar 10.000 Riyal per jemaah yang diangkut. Selain itu, identitas mereka juga akan diumumkan di media, dan kendaraan yang digunakan untuk membawa jemaah ilegal akan disita sesuai dengan putusan pengadilan.
Bagi mereka yang terlibat dan berstatus ekspatriat, larangan memasuki Arab Saudi akan diberlakukan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi kembali menegaskan pentingnya patuh terhadap semua peraturan dan instruksi terkait ibadah haji demi menjamin keselamatan, keamanan, kenyamanan, dan ketenangan selama pelaksanaan ibadah.
Pemerintah Arab Saudi telah mengumumkan bahwa izin khusus dibutuhkan bagi jemaah yang akan melaksanakan ibadah haji tahun ini, sementara pemegang visa ziarah dan sejenisnya tidak diperbolehkan memasuki Makkah selama musim haji.
Pemberlakuan sanksi bagi pelanggar atau pelaku haji ilegal telah dimulai sejak 2 Juni 2024.