fbpx
Hi, How Can We Help You?

Blog

May 31, 2020

Kisah Keluarga Bugis dan Budaya Haji; Berangkat Selagi Muda Tanpa Menunggu Sukses (1)

Ini kisah tentang keluarga Bugis dan cara pandang soal ibadah haji. Tidak ada yang mesti dihitung terlalu lama untuk urusan yang satu ini.

***

HERMAN masih pengantin baru kala itu. Beberapa waktu sebelumnya nama seorang gadis Pinrang dia lafalkan dalam sekali tarikan napas di depan penghulu, wali, dan para saksi. Gadis yang belum terlalu lama dia kenal. Mereka mereguk indahnya pacaran setelah ijab kabul.

Tahun itu, 2006, Herman juga pelan-pelan menarik diri dari usaha jual beli hasil bumi peninggalan orang tua di seputaran tol. Bersama istri, Irmayanti, ia hendak mandiri. Merintis usaha dari nol. Jual beli hasil bumi juga.

Idealnya Herman membangun terlebih dahulu bisnisnya sebelum berpikir yang lain. Tetapi saat itu dia malah berangkat ke tanah suci. Bayarnya pun tidak murah. Sebab bersama kakaknya, Mursalim, ia memilih jalur ONH Plus.

Herman dan tujuh saudaranya memang tumbuh dalam keluarga yang menjadikan ibadah haji sebagai tujuan hidup. Orang tua mereka, Haji Sikkiri dan Hajja Sangka, keluarga Bugis asal Belawa, Wajo, selalu berpesan bahwa dalam setiap ikhtiar mencari rezeki, Kakbah harus terngiang-ngiang di ingatan. Menempatkannya sebagai destinasi yang paling wajib dikunjungi.

“Bapak dan mamak juga bilang, haji adalah penyempurnaan Islam. Setiap dari kita sebisa mungkin melaksanakannya,” ucap Herman kepada Tim Media Tazkiyah yang menyambangi di gudangnya, sekitaran Pasar Terong, Kamis, 28 Mei 2020. Hari hampir petang. Sedikit lagi semua barang masuk waktu itu.

Makanya, seperti juga saudara-saudaranya, Herman juga enggan menunggu sukses untuk menunaikan rukun Islam yang kelima itu. Dia bahkan mengaku tak pernah berpikir akan sukses.

“Bisa hidup sederhana sudah cukup. Terpenting kita sudah memenuhi undangan Allah ke rumahnya,” imbuh pria bertubuh tinggi besar itu.

Dia pun masih ingat betul pengalamannya 14 tahun yang lalu itu. Bentuk wadah makanan, jenis buah-buahan, warna tenda, hingga senyum sesama jemaah masih terbayang jelas.

Waktu itu sempat ada insiden keterlambatan katering untuk jemaah haji reguler. Herman yang stok makanannya berlimpah dengan aneka pencuci mulut yang sambung menyambung kemudian menjadi tak enak hati saat mengetahui hal tersebut. Namun dari situ juga dia semakin paham tentang pentingnya haji bagi seorang muslim. Perjuangan demi perjuangan rela ditempuh.

Pulang dari tanah suci, kesuksesan yang tak dikejar Herman malah berbalik mendatangi. Usahanya perlahan tumbuh, membesar. Menjadi salah satu distributor hasil bumi terpenting di Terong. Sesuatu yang diyakini Herman belum tentu didapat andai pada 2006 itu dia memutuskan untuk menunda berhaji. Misalnya membatalkan setoran ONH Plus lalu menjadikannya modal bisnis.

Meski begitu, Herman juga tak menyebut usahanya sukses. Dia hanya memahami ini semua sebagai keberkahan doa orang tua dan pilihan hidup yang lebih mendahulukan perintah Tuhan.

Sejak 2012, Herman dan keluarga nyaris setiap tahun berangkat umrah. Dan sejak 2014, pilihan mereka selalu jatuh pada PT Tazkiyah Global Mandiri. Mereka bahkan pernah berangkat khusus sekeluarga, 20-an orang. Rata-rata pilihan paketnya pun selalu umrah plus. Kadang Spanyol, kadang Turki. Pernah juga Dubai.

Herman tak berani menyebut itu semua sebagai investasi akhirat. Dia kehilangan kata-kata ketika kami memintanya menjelaskan untuk apa berangkat berulang kali, dengan biaya yang tak pernah sedikit sebab jumlah rombongan selalu besar. Rutenya ditambah pula.

“Dahulu saya juga sering bertanya kepada mamak, mengapa mesti haji beberapa kali, umrah setiap tahun. Harusnya uangnya disimpan-simpan saja untuk kebutuhan lain. Setiap saya tanya, mamak hanya diam. Kelak saya menemukan jawabannya,” imbuh Herman.

“Ada kenikmatan tersendiri. Didorong oleh kerinduan yang tak habis-habis,” tuturnya, mengulang jawaban yang dia temukan setelah bertahun-tahun.

Dari semua bersaudara plus anak-anak mereka yang sudah lebih 20 orang, yang belum berangkat haji atau umrah sisa yang masih bayi. Lainnya sudah merasakan harunya tawaf hingga bersimpuh di Raodah.

Tiga bulan lalu, Irmayanti dengan hanya sekali izin kepada sang suami, juga sudah mendaftarkan dua anak mereka untuk antrean Haji Khusus di Tazkiyah. Plus beberapa kerabat dan mitra kerja.

Irmayanti dengan mudah bisa menyesuaikan tradisi kuat ke tanah suci di keluarga sang suami. Sebab dia pun berasal dari keluarga yang sama-sama tak kehabisan stok cinta kepada Mekah-Madinah. Kerabat-kerabatnya juga rata-rata begitu. Sukses boleh belakangan, bahkan lagi-lagi tak menjadi tujuan, asal rukun Islam sudah disempurnakan.

Irmayanti bahkan lebih dahulu berhaji daripada Herman. Dia berangkat saat usianya masih sangat belia, masih gadis; 16 tahun. Di situ pula ia berkenalan dengan keluarga Herman yang kebetulan sekamar. Dua bulan setelah pulang di tahun 2001 itu dia juga berkenalan dengan Herman. Soal benih-benih cinta, Anda akan menemukannya di seri kedua tulisan ini.

“Makanya saya daftar juga anak-anak selagi mereka masih muda. Insyaallah saya akan ikut juga, mengganti umrah Ramadan yang batal karena wabah corona,” ucapnya dari meja kerja suaminya. Sesekali dia pamit keluar ruangan, melayani suplier beras yang datang mengantar.

Begitulah keluarga ini merawat cintanya kepada kawasan Al Haram. Setiap pagi mereka berangkat ke gudang dan toko membawa serta kerinduan itu. Bahkan walau telah berkali-kali menjejakkan kaki dan hati di sana.

Kini, Haji Herman dan Hajja Irma menyiapkan Muh Ridwan (17) dan Riva Aulia Dwi Putri (16), dua dari tiga buah hatinya untuk bersiap juga memenuhi undangan berhaji. Seperti orang tua mereka dahulu, mereka juga sedang mentransfer pesan bahwa untuk utusan yang satu itu, tidak boleh ditunda jika memang sudah memenuhi syarat minimal.

“Kalau memang sedang ada budget-nya, haji atau umrah itu harus disegerakan. Karena kalau kebutuhan duniawi, tak ada habisnya. Lebih baik beribadah. Dan biasanya kebutuhan duniawinya akan ikut dan malah lebih,” imbuh Irma.

Dia menceritakan pengalaman rekannya. Baru saja pulang umrah plus bersama Tazkiyah (perginya berombongan pula bersama keluarga), langsung daftar Haji Khusus lagi. Padahal, setoran haji reguler juga sudah ada.

“Saya bilang jangan ki ragu. Ada tonji gantinya itu. Dan gantinya akhirnya datang hanya dua hari setelah daftar. Orderan 20.000 sak semen masuk dan semuanya aman terkendali,” ucapnya.

Menimpali itu, Herman mengajukan juga kisahnya menjual mobil pribadi tiga tahun lalu untuk bangun rumah. Sampai sekarang, katanya, mobil itu belum diganti. Namun selama tiga tahun itu pula, mereka malah berkali-kali pergi umrah.

“Artinya budget untuk mobil sudah cukup tetapi saya masih lebih tertarik ke tanah suci. Sebab itu tadi, ada perasaan yang sulit dijelaskan dan itu nikmat sekali,” ucap pria kelahiran 16 November 1972 itu.

Dan di luar kenikmatan tak terbahasakan itu, Herman juga punya cerita sudah haqqulyakin yang tersisa dari perjalanan-perjalanan ke tanah suci hanyalah keberkahan. Apalagi kalau menjadikannya prioritas; tujuan hidup. (tmt/bersambung)

Bagikan :