Tabungan Haji bisa menjadi pengobat rindu kepada Baitullah, dan ini sudah dibuktikan oleh Ibu Hj. Karmila.
Ibu Karmila bukanlah orang yang berasal dari keluarga yang mampu secara ekonomi. Ia berasal dari keluarga yang sangat sederhana di sebuah kampung di Kab. Gowa Sulawesi Selatan.
Bahkan orang tua ibu karmila meninggal dunia ketika ia masih kecil. Sehari – hari ia lalui dengan berjualan kue untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Baca Selengkapnya
Tabungan Haji telah menjadi jalan bagi umat Islam untuk berangkat menunaikan ibadah Haji di Tanah Suci. Salah satunya Ibu HJ. Daeng Saturi, seorang single parent dengan tiga orang anak, beliau berprofesi sebagai penjual sayur di Pasar Limbung Kab. Gowa Sulawesi Selatan.
Ibu Hj. Daeng Saturi dengan berderai air mata menuturkan perjuangannya untuk berangkat ke Tanah Suci. Niat ke tanah suci muncul ketika mulai merintis usaha jualannya. Menurut beliau setiap hari ia sisihkan keuntungannya sebesar RP. 20.000 (Dua Puluh Ribu Rupiah). Dan apabila ia mendapatkan keuntungan yang lebih banyak beliau juga menyisihkan lebih banyak sebesar Rp. 50.000 (lima puluh ribu rupiah) atau Rp. 100.000 (seratus ribu rupiah)
Tabungan Haji merupakan salah satu solusi cerdas bagi anda yang ingin berangkat ke tanah suci atau bagi anda yang ingin mendaftar Haji namun dananya belum cukup. Hal ini sudah dibuktikan oleh Ibu Kasmawati seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Kec. Barombong Kab. Gowa Sulawesi Selatan.
Ibu Kasmawati menceritakan bahwa niat untuk berangkat ke tanah suci bersama keluarga (suami) sudah muncul ketika ia pertama kali membina rumah tangga 20 tahun yang lalu. Meksipun beliau hanya seorang ibu rumah tangga namun niat beliau ke tanah suci tidak pernah surut.
Niat ke tanah suci di mulai dengan membuka tabungan haji, beliau berusaha menyisihkan uang belanja yang diberikan oleh suami. Dan Alhamdulillah 18 tahun kemudian tepatnya pada tahun 2019, Baca Selengkapnya
Pada awalnya, mimbar Rasulullah SAW sangatlah sederhana. Tempat ini merupakan lokasi di mana Rasulullah SAW menyampaikan khutbah kepada para sahabat dan umat Islam pada zaman itu.
Artikel ini akan membahas sejarah mimbar Rasulullah SAW, bentuk awalnya, serta kondisi mimbar Masjid Nabawi saat ini.
Sejarah Mimbar Rasulullah
Source image: apakabar.news
Mimbar Rasulullah SAW bermula dari sebuah gundukan tanah sederhana yang dijadikan tempat duduk oleh Rasulullah SAW.
Gundukan ini memungkinkan beliau untuk melihat dan mengenali semua sahabat yang hadir serta mengetahui kehadiran orang asing ketika beliau sedang menyampaikan khutbah.
Kisah ini berawal ketika suatu hari, saat Rasulullah SAW sedang duduk bersama sahabat di Masjid Nabawi, datang seorang asing yang tidak dikenal.
Para sahabat meminta izin untuk membuatkan tempat duduk yang lebih tinggi agar Rasulullah SAW dapat melihat orang tersebut dengan lebih jelas.
Gundukan tanah tersebut akhirnya menjadi tempat di mana Rasulullah SAW berdiri dan menyampaikan khutbah.
Para sahabat kemudian membuatkan Rasulullah SAW sebuah mimbar sederhana dari batang pohon kurma. Mimbar ini berfungsi sebagai sandaran ketika Rasulullah SAW merasa lelah berdiri.
Beliau menggunakan mimbar tersebut selama sekitar delapan tahun sebelum akhirnya menggunakan mimbar yang lebih permanen.
Cerita Sedih tentang Batang Kurma
Ada sebuah kisah sedih yang mengharukan mengenai batang kurma yang digunakan Rasulullah SAW sebagai sandaran.
Ketika Rasulullah SAW pertama kali menggunakan mimbar baru, terdengar suara rintihan mirip tangisan anak kecil dari batang kurma tersebut. Suara ini tidak hanya terdengar di dalam Masjid Nabawi, tetapi juga di luar masjid.
Foto : Mimbar Rasulullah
Setelah ditelusuri, ternyata suara tersebut berasal dari batang kurma yang merasa kehilangan karena tidak lagi digunakan oleh Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW kemudian turun dan memeluk batang kurma tersebut, menenangkannya hingga suara tangisan berhenti. Beliau bersabda, “Ia menangis karena kehilangan dzikir-dzikir yang biasa disebut di atasnya” (Hadis Riwayat Bukhari).
Kisah ini menggambarkan betapa dalamnya cinta pohon kurma terhadap Nabi Muhammad SAW. Ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak hanya dirasakan oleh para sahabat, keluarga, atau umat Islam pada masa itu, tetapi juga oleh alam sekitar.
Bentuk Mimbar Rasulullah SAW
Pada masa itu, mimbar Rasulullah SAW memiliki dimensi sebagai berikut:
Tinggi mimbar: 125 cm (dua hasta, satu jengkal, tiga jari).
Tinggi anak tangga: 18-25 cm (satu jengkal, atau sepertiga hasta).
Lebar anak tangga: 18-25 cm (satu jengkal).
Lebar mimbar: 50 cm (satu hasta).
Panjang mimbar: 50 cm (satu hasta).
Tinggi bulatan bagian depan mimbar: 25 cm (satu jengkal lebih).
Sandaran mimbar: Terdiri dari tiga tiang.
Mimbar Rasulullah di Masjid Nabawi
Saat ini, mimbar Masjid Nabawi terletak di Raudhah, sebuah area suci dalam masjid yang memiliki keutamaan tertentu. Jarak antara mimbar dan rumah Nabi SAW sekitar 53 hasta, atau sekitar 26,5 meter. Raudhah ditandai dengan karpet hijau.
Mimbar yang ada saat ini bukanlah mimbar yang digunakan oleh Rasulullah SAW, melainkan mimbar yang dibangun oleh Sultan Murad Bin Saleem dari Kekhalifaan Utsmani pada tahun 997 H.
Mimbar Rasulullah di Raudhah
Mimbar ini terbuat dari marmer mahal dengan dekorasi emas dan dilengkapi dengan sebuah kubah di atasnya. Total anak tangga berjumlah 12, sembilan di dalam pintu dan tiga di luar pintu.
source image: kompas
Fasad mimbar ini memiliki dua prasasti kaligrafi: yang paling atas adalah Syahadat (الشهادة) dan yang kedua adalah prasasti peresmian mimbar oleh Sultan Murad.
Penutup
Semoga artikel ini menambah pemahaman kita tentang sejarah mimbar Rasulullah SAW dan memperdalam kecintaan kita kepada beliau. Semoga Allah SWT memberikan kita kesempatan untuk mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah.
Bagi Anda calon jemaah haji dan umroh yang ingin melihat langsung mimbar yang penuh sejarah ini bisa langsung berkunjung ke mekkah dan madinah, dengan menggunakan tour and travel umroh Tazkiyah Tour, hubungi kami sekarang dan booking tempat Anda untuk pengalaman ibadah yang lengkap dengan fasilitas premium dan terjamin.
Masjid Al Ijabah merupakan salah satu Masjid yang sering dikunjungi oleh Jemaah Umrah atau Jemaah Haji. Masjid ini salah satu saksi bisu perjuangan Nabi Muhammad SAW di Kota Madinah, dan menjadi saksi kecintaan Nabi Muhammad SAW terhadap umatnya.
Masjid Al Ijabah terletak di Jalan Malik Faisal, atau disebelah utara pemakaman Baqi. Jarak dari Masjid Nabawi setelah perluasan hanya sekitar 580 meter.
Apabila dibandingkan dengan Masjid Nabawi yang begitu megah dan besar, masjid ini sangatlah bersahaja dan tidak sebesar Masjid Nabawi. Luas Masjid Ijabah hanya sekitar 1.000 meter persegi. Masjid ini terbagi dua, yakni untuk jamaah wanita dan laki-laki. Untuk jamaah wanita, area yang disediakan seluas 100 meter persegi. Sisanya dipergunakan untuk jamaah laki-laki. Pada bagian depan masjid terdapat kubah setinggi 11,7 meter dan berdiameter 9,5 meter, dilengkapi menara setinggi 33,75 meter.